← Beranda

Sebut Conte sebagai Monster, Marco Borriello Blak-blakan: Saya Kehilangan Enam Tahun Karier Saya

Ashadi CakhyadiJumat, 8 Desember 2023 | 02.15 WIB
Antonio Conte dan Marco Borriello saat sama-sama membela Juventus sebagai pelatih dan pemain. (fanpage.it)

 

 

JawaPos.com - Legenda Sepak Bola Italia, yang pernah bermain untuk Milan, Juventus, dan Roma, Marco Borriello buka-bukaan terkait pelatih terberat yang pernah bekerja dengannya.

Mantan striker yang pernah berseragam Timnas Italia itu telah memutuskan gantung sepatu pada Januari 2019 setelah menjalani masa akhir karirnya di Spanyol bersama UD Ibiza.

Borriello menyebut beberapa nama pelatih yang memiliki gaya latihan cukup keras, di antaranya Antonio Conte, Zdenek Zeman, dan Gian Piero Gasperini

Dikutip dari Football Italia, pengakuan tersebut diungkapkan oleh Borriello ketika dia berbincang dengan Christian Vieri dalam acara radio resmi Lega Serie A dan saluran YouTube.

“Tidak ada yang membuat saya berlari lebih dari Gasperini, Conte, dan Zeman. Bersama mereka dalam tiga tahun saya kehilangan enam tahun karir saya,” ujar Borriello.

Namun, dia menyebutkan bahwa Conte adalah pelatih yang paling kejam dalam karir sepak bolanya. Keduanya pernah sama-sama menghabiskan waktunya di Juventus selama enam bulan dari Januari hingga Juni 2012.

Baca Juga: Berikut Hasil Drawing Euro 2024, Spanyol, Italia, dan Kroasia Bersaing Ketat di Grup Neraka

“Dengan Conte saya muntah-muntah. Staf medis terus mengawasi kami, termasuk pelacak detak jantung kami,” ungkap Borriello.

“Begitu ketukannya mulai menurun, Anda akan diteriaki agar semakin intensif. Saya akhirnya mencapai 196 detak per menit. Pada dasarnya, upaya saya 99 persen, hampir terkena serangan jantung,” jelasnya.

Pria yang sempat bermain bersama West Ham itu, menyebutkan bukan hanya dirinya yang tidak senang dengan pola latihan Conte di Juventus.

“Fabio Quagliarella bahkan sampai mengocehkan kata-kata makian,” ucap Borriello.

“Conte adalah monster, tapi juga seorang maestro dalam menjalani pertandingan. Pada akhirnya, dia meningkatkan Anda sebagai pemain,” paparnya.

Meskipun terkesan mengeluh, Borriello memuji mantan pelatihnya itu karena saat itu mereka berhasil memenangkan Scudetto bagi Juventus.

“Tim akan bergerak seperti akordeon, kami merasa baik dan membuktikannya di lapangan. Tahun itu kami memenangkan Scudetto dan dia memenangkan lebih banyak di tempat lain,” pungkas Marco Borriello.


***

EDITOR: Novia Tri Astuti