JawaPos.com – Pertamina Muda Seed & Scale 2023 atau yang dikenal sebagai Pertamuda 2023, sebelumnya telah mengadakan kompetisi ide bisnis untuk mahasiswa di Indonesia sejak 2021.
Kompetisi ini bertujuan untuk memperluas implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) dan inovasi di sektor energi.
Harapannya, dapat mendorong perusahaan rintisan di Indonesia untuk mendapatkan akses permodalan.
Dikutip dari Jawa Pos Radar Bali pada Minggu (3/12), tiga peserta terbaik kategori Early Stage Pertamuda 2023 mendapatkan dana pembinaan total senilai Rp 300 juta (masing-masing Rp100 juta).
Sementara tiga peserta terbaik dari kategori Energy Founder mendapatkan dana pembinaan senilai total Rp105 juta (masing-masing Rp35 juta).
Awarding Night pada Rabu (29/11) di The Patra Resort and Villas Bali ini, menjadikan Iotanic dari Universitas Sebelas Maret, Mengasihi dari Institut Teknologi Bandung, dan Smartpath dari UPN Veteran Yogyakarta sebagai pemenang dalam kategori Early Stage.
Sementara dalam kategori Energy Founder, pemenangnya adalah Gelatah dari Universitas Airlangga, Panzo dari Institut Teknologi Sepuluh November, dan Winergy dari Institut Teknologi Bandung.
Rifky Rakhman Yusuf, Vice President Stakeholder Relations & Management Pertamina, mengungkapkan bahwa para pemenang akan dimonitor selama 8 bulan ke depan dan pembinaan mungkin akan berlanjut setelah itu.
Baca Juga: Jokowi: Biodisel 20 Persen, Bisa Hemat Devisa USD 5,9 Miliar Setahun
Program Pertamuda 2023 diharapkan akan terus berlanjut sesuai dengan amanat pemerintah, sambil meningkatkan keterampilan wirausaha dari generasi muda.
Program ini telah sukses membantu salah satu kelompok mahasiswa semester 7 dari Universitas Airlangga dalam mengembangkan Gelatah (Gel Minyak Jelantah).
Startup sosial yang berfokus pada renewable energy ini terpilih sebagai pemenang Kategori Energy Founder dalam Pertamuda 2023.
Dikutip dari laman Universitas Airlangga pada Minggu (3/12), Vita dan rekan-rekannya menyatakan bahwa mereka menghadapi sejumlah kendala dalam mengembangkan Gelatah.
Namun, berkat Pertamuda Seed and Scale 2023, mereka berhasil memperluas jaringan dan meningkatkan visibilitas Gelatah dalam pengolahan minyak.
Banyak bimbingan dan masukan yang diperoleh selama proses seleksi Pertamuda Seed and Scale 2023, yang berarti untuk pengembangan usaha mereka ke depan.
Gelatah berawal ketika ketua grup tersebut, Abdul, menghadapi penyumbatan saluran air di rumahnya akibat limbah minyak jelantah atau minyak goreng bekas.
Akhirnya, ide untuk mengubah limbah minyak tersebut menjadi biodiesel muncul.
Baca Juga: Menang di Mahkamah UE, RI Akhirnya Boleh Ekspor Biodisel
Gelatah, sebagai startup sosial di bidang renewable energy, mengelola limbah minyak jelantah menjadi penghangat makanan sederhana, ekonomis, dan ramah lingkungan.
Menurut Vita, produk ini lahir sebagai solusi terhadap masalah akumulasi limbah minyak jelantah di Indonesia dan Malaysia.
Dengan sistem usaha zero waste, mereka memastikan yang terbuang dari pengolahan tersebut hanyalah air. Gelatah juga menghasilkan biodiesel, sabun, dan lilin aroma terapi.
Pengembangan Gelatah berhasil mencapai omzet rata-rata Rp 15-17 juta per bulan dengan profit bersih Rp 5-7 juta per bulan.
Meskipun masih diperlukan waktu untuk meningkatkan profit karena modal yang dikeluarkan untuk riset hingga menjadi prototipe cukup besar.
***