← Beranda

Jika Anda Dibesarkan oleh Orang Tua yang Jarang Memuji Anda, Anda Kemungkinan Besar Mengembangkan 7 Ciri Motivasi Internal Ini Menurut Psikologi

Irfan FerdiansyahJumat, 23 Januari 2026 | 19.41 WIB
seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang jarang memuji./Freepik/Flowo

JawaPos.com - Tidak semua orang tumbuh dengan tepuk tangan, kata-kata manis, atau pujian yang menguatkan.

Bagi sebagian orang, masa kecil diwarnai oleh keheningan: usaha yang dianggap “sudah seharusnya”, prestasi yang berlalu tanpa komentar, dan kegagalan yang lebih cepat disorot daripada keberhasilan. Orang tua mungkin mencintai, tetapi jarang mengekspresikannya lewat pujian.

Menariknya, psikologi tidak selalu memandang pengalaman ini sebagai luka semata. Dalam banyak kasus, anak-anak yang jarang dipuji justru mengembangkan motivasi internal yang kuat—dorongan dari dalam diri, bukan dari pengakuan luar. Motivasi ini berbeda sifatnya: lebih sunyi, lebih dalam, dan sering kali bertahan lama.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (22/1), terdapat tujuh ciri motivasi internal yang kerap muncul pada individu yang dibesarkan tanpa banyak pujian, menurut sudut pandang psikologi perkembangan dan kepribadian.

1. Dorongan Kuat untuk Membuktikan Diri pada Diri Sendiri

Ketika pujian eksternal jarang datang, anak belajar satu hal penting: kepuasan harus ditemukan di dalam diri sendiri.

Mereka terbiasa bertanya, “Apakah aku sudah melakukan yang terbaik?” bukan “Apakah orang lain bangga padaku?”

Akibatnya, standar internal menjadi kompas utama. Mereka termotivasi bukan karena ingin dilihat hebat, melainkan karena ingin merasa utuh dan layak di mata sendiri.

Dalam jangka panjang, ini membentuk pribadi yang relatif tahan terhadap naik-turunnya validasi sosial.

2. Ketekunan Tinggi Meski Tanpa Pengakuan

Psikologi menyebut ini sebagai grit—kemampuan bertahan dan terus melangkah meski tanpa sorotan.

Anak yang jarang dipuji tidak terbiasa mendapatkan “hadiah emosional” di setiap pencapaian, sehingga mereka belajar bekerja tanpa janji apresiasi.

Saat dewasa, mereka sering kali tetap konsisten meski kerja kerasnya tidak langsung terlihat atau dihargai. Mereka tidak mudah berhenti hanya karena tidak ada yang menonton.

3. Kepekaan Tinggi terhadap Kualitas, Bukan Sekadar Hasil

Tanpa pujian verbal, fokus sering bergeser dari hasil akhir ke proses dan kualitas. Mereka belajar menilai diri sendiri melalui detail: apakah pekerjaannya rapi, apakah keputusannya masuk akal, apakah usahanya sungguh-sungguh.

Motivasi internal ini membuat mereka cenderung perfeksionis secara fungsional—bukan sekadar ingin dipuji, tetapi ingin merasa pantas atas apa yang dihasilkan.

4. Kemandirian Emosional yang Lebih Kuat

Jarangnya pujian membuat anak lebih cepat memahami bahwa tidak semua kebutuhan emosional akan dipenuhi orang lain. Ini bisa menyakitkan, tetapi juga melatih regulasi emosi dari dalam.

Dalam psikologi, ini sering berkembang menjadi kemampuan menenangkan diri sendiri, memotivasi diri saat jatuh, dan bangkit tanpa harus selalu disemangati. Mereka belajar menjadi “orang tua” bagi diri sendiri jauh lebih dini.

5. Motivasi Berbasis Makna, Bukan Popularitas

Karena tidak terbiasa mengejar pujian, banyak dari mereka tumbuh dengan pertanyaan yang lebih eksistensial: “Apa gunanya ini bagiku?” atau “Mengapa ini penting?”

Motivasi internal yang terbentuk sering kali berakar pada makna personal, bukan pengakuan sosial. Mereka bekerja, belajar, atau berjuang karena merasa itu selaras dengan nilai hidupnya, bukan karena ingin terlihat hebat di mata orang lain.

6. Sensitivitas Tinggi terhadap Kritik dan Evaluasi Diri

Di satu sisi, kurangnya pujian bisa membuat seseorang sangat peka terhadap kritik. Namun di sisi lain, hal ini juga melatih kemampuan evaluasi diri yang mendalam.

Mereka terbiasa mengoreksi diri, merefleksikan kesalahan, dan bertanya apa yang bisa diperbaiki. Jika dikelola dengan sehat, ciri ini menjadi bahan bakar pertumbuhan yang luar biasa—dorongan internal untuk terus berkembang.

7. Kepuasan Mendalam Saat Mencapai Tujuan Personal

Karena jarang mendapat afirmasi sejak kecil, pencapaian yang diraih atas usaha sendiri terasa jauh lebih bermakna. Kepuasan yang muncul bukan euforia sesaat, melainkan rasa damai dan bangga yang tenang.

Psikologi menyebut ini sebagai intrinsic reward—hadiah emosional yang muncul dari keselarasan antara usaha, nilai, dan tujuan pribadi. Dan hadiah ini cenderung lebih tahan lama daripada pujian eksternal.

Kesimpulan: Sunyi Bukan Berarti Lemah

Dibesarkan oleh orang tua yang jarang memuji bukanlah pengalaman yang mudah. Ada kekosongan, ada rindu akan pengakuan, dan ada luka yang mungkin masih terasa hingga dewasa.

Namun psikologi menunjukkan bahwa dari sunyi itulah sering tumbuh motivasi internal yang kuat, mandiri, dan berjangka panjang.

Jika Anda melihat diri Anda dalam ciri-ciri di atas, pahamilah satu hal penting: dorongan Anda bukan tidak valid hanya karena tidak dibentuk oleh pujian.

Justru, Anda belajar menyalakan api dari dalam—api yang tidak mudah padam oleh penilaian orang lain.

EDITOR: Hanny Suwindari