← Beranda

Jika Ayahmu Sering Mengkritikmu, Kamu Mungkin Menunjukkan 7 Sifat Merusak Diri Sendiri Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

Irfan FerdiansyahKamis, 4 Desember 2025 | 10.06 WIB
seseorang yang sering dikritik oleh ayahnya./Freepik/freepik

Jawapos.com - Dalam perjalanan tumbuh dewasa, peran ayah sering kali menjadi fondasi emosional yang tak kasatmata—membentuk cara kita memandang diri, mengambil keputusan, hingga menjalani hubungan.

Namun ketika sosok yang seharusnya memberi rasa aman justru lebih sering melepas kritik tajam, konsekuensinya dapat menetap jauh lebih lama daripada yang kita sadari.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (2/12), psikologi modern menunjukkan bahwa pola kritik yang konsisten dari ayah—baik dalam bentuk tuntutan perfeksionisme, komentar meremehkan, atau penilaian dingin—dapat berkembang menjadi pola perilaku yang merusak diri sendiri saat anak tumbuh menjadi dewasa.

Berikut tujuh di antaranya.

1. Selalu Merasa Tidak Pernah Cukup Baik

Anak yang sering dikritik tumbuh dengan “suara internal ayah” di dalam kepala mereka.

Saat dewasa, suara ini berubah menjadi standar mustahil: harus lebih baik, harus lebih sempurna, harus selalu benar.

Akibatnya:

Sulit merayakan pencapaian sendiri

Cenderung menolak pujian

Sering merasa gagal meski objektifnya tidak

Rasa “kurang” ini bukan berasal dari kenyataan, tetapi dari standar yang dulu dipaksakan.

2. Ketakutan Lebih Besar Terhadap Kesalahan

Kritik ayah yang keras sering membuat anak merasa bahwa kesalahan adalah ancaman, bukan bagian dari proses tumbuh.

Saat dewasa, ketakutan ini membuat seseorang:

Menunda keputusan besar

Menolak mencoba hal baru

Selalu memikirkan skenario terburuk

Hidup terasa seperti arena ujian, bukan pengalaman yang boleh dieksplorasi.

3. Memiliki Batasan Diri yang Lemah

Anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang kritik berlebihan cenderung belajar bahwa kebutuhan dan perasaan mereka tidak penting.
Akhirnya, ketika dewasa:

Mereka sulit mengatakan “tidak”

Sering mengorbankan diri demi kenyamanan orang lain

Mudah dimanfaatkan secara emosional

Ini terjadi karena mereka terbiasa menyesuaikan diri agar tidak dikritik lagi.

Baca Juga: Seni Mencapai Kebahagiaan: 8 Kebiasaan Sederhana Orang yang Mencintai Hidupnya

4. Terjebak dalam Pola Hubungan Tidak Sehat

Kritik dari ayah bisa membentuk cara seseorang memahami cinta.

Jika kasih sayang dulu selalu bersyarat, maka cinta di masa dewasa pun terasa harus diperjuangkan dengan cara yang sama.

Akibat umum:

Tertarik pada pasangan yang kritis atau manipulatif

Merasa nyaman berada di posisi “mengejar”

Sulit percaya pada pasangan yang benar-benar suportif

Mereka cenderung memperlakukan cinta sebagai sesuatu yang harus layak diperoleh, bukan diberikan secara utuh.

5. Selalu Mencari Validasi Eksternal

Ketika penghargaan internal tidak pernah diberikan oleh ayah, seseorang tumbuh dengan kebutuhan mendesak untuk diterima.

Dalam hidup dewasa, ini muncul sebagai:

Ketergantungan pada pendapat orang lain

Rasa gelisah jika tidak mendapat pengakuan

Kecenderungan untuk membuktikan diri terus-menerus

Tanpa validasi, mereka merasa tak berarti.

6. Sering Mengkritik Diri Sendiri Secara Kejam

Internalisasi kritik membuat seseorang menjadi “ayah kedua” bagi dirinya sendiri—versi yang lebih keras, lebih tajam, lebih menghukum.
Suara batin ini sering muncul di saat:

Gagal menyelesaikan tugas

Membuat kesalahan kecil

Membandingkan diri dengan orang lain

Alhasil, mereka menjalani hidup dalam tekanan yang mereka ciptakan sendiri.

7. Menjadi Perfeksionis yang Mudah Kehabisan Energi

Perfeksionisme bukan tentang keinginan menjadi baik, tetapi ketakutan menjadi salah.

Itu sebabnya orang dewasa yang dibesarkan dengan kritik berlebihan sering menjadi perfeksionis, namun:

Gampang burnout

Takut memulai karena takut gagal

Merasa hidup seperti tidak pernah selesai

Perfeksionisme mereka bukan pendorong, melainkan penjara.

Kesimpulan: Luka Lama Tidak Salahmu, Tapi Penyembuhannya Berada di Tanganmu

Dibesarkan oleh ayah yang penuh kritik dapat menciptakan pola emosional yang sangat melekat hingga dewasa.

Namun mengenali tujuh sifat merusak diri sendiri ini adalah langkah awal untuk keluar dari siklus tersebut.

Kita tidak bisa memilih pola asuh yang dulu kita terima, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita tumbuh dari pengalaman itu.

Menyadari bahwa kritik bukanlah identitas diri—melainkan cerminan keterbatasan pengasuhan—adalah pintu awal menuju kebebasan emosional.

EDITOR: Hanny Suwindari