JawaPos.com – Bagi orang tua, setiap perjalanan tumbuh kembang anak selalu membawa rasa haru sekaligus antusias. Ada momen ketika si kecil pertama kali duduk, pertama kali melangkah tanpa pegangan, atau pertama kali memanggil "mama" dan "papa". Semuanya terasa seperti hadiah kecil yang menyempurnakan hari. Namun, di antara rangkaian pencapaian itu, ada satu fase yang sering dibicarakan tetapi tidak selalu mudah dijalani, yaitu toilet training.
Transisi dari popok ke toilet bukan sekadar soal keterampilan fisik, tetapi juga kesiapan emosional, rutinitas baru, dan kerja sama antara orangtua dan anak. Banyak orangtua berharap fase ini bisa berlangsung cepat dan mulus, tetapi kenyataannya, setiap anak punya ritme dan kesiapan yang berbeda. Karena itu, memahami apa itu toilet training, kapan waktu yang tepat memulainya, serta tanda-tanda kesiapan anak menjadi langkah penting sebelum memulai prosesnya.
Apa Itu Toilet Training?
Toilet training adalah proses mengajarkan anak untuk mengenali sensasi ingin buang air, menahan sebentar, lalu pergi ke toilet untuk Buang Air Kecil (BAK) atau Buang Air Besar (BAB). Toilet training bukan sekadar latihan, tetapi proses belajar yang memerlukan dukungan, kesabaran, dan lingkungan yang nyaman.
Menurut KlikDokter, pelatihan buang air sejak dini membawa sejumlah keuntungan penting. Saat anak tidak lagi bergantung pada popok, risiko munculnya ruam maupun infeksi akibat penggunaan popok dapat berkurang secara signifikan. Selain itu, anak yang terbiasa menggunakan toilet sejak kecil umumnya memiliki kemungkinan lebih rendah mengalami infeksi saluran kemih berulang.
Salah satu alasannya adalah karena mereka belajar mengosongkan kandung kemih dengan lebih tuntas, sehingga sisa urine yang bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri tidak banyak tersisa. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa toilet training sejak usia bayi atau balita dapat menurunkan risiko terjadinya incontinence di masa mendatang, yaitu kondisi ketika seseorang sulit mengontrol buang air kecil.
Kapan Anak Siap Memulai Toilet Training?
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tidak ada patokan umur yang benar-benar pasti untuk memulai toilet training. Proses ini sangat bergantung pada kesiapan fisik maupun emosional anak. Secara umum, tanda-tanda kesiapan tersebut mulai muncul pada rentang usia sekitar 18 bulan hingga 2,5 tahun.
Kesiapan toilet training tidak ditentukan oleh usia semata. Berbagai sumber kesehatan seperti Alodokter, KlikDokter, dan panduan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sama-sama menekankan bahwa kematangan fisik, emosional, serta kemampuan komunikasi adalah faktor utama yang perlu diperhatikan.
1. Kesiapan Fisik
Beberapa tanda fisik yang menunjukkan anak mulai mampu mengontrol buang air antara lain:
- Memperlihatkan ekspresi atau gerakan khas saat menahan BAK atau BAB.
- Popok tetap kering selama 2 jam atau saat bangun tidur.
- Tidak BAB di malam hari.
- Pola BAB lebih teratur, baik pada jam yang sama atau dapat dikenali polanya.
- Sudah mampu berjalan, duduk stabil, serta duduk diam sekitar 5–10 menit.
- Bisa melepas dan mengenakan celana sendiri.
- Mulai dapat mengikuti instruksi sederhana, misalnya diminta pergi ke toilet.
2. Kesiapan Emosional dan Psikologis
Kemampuan emosional biasanya berkembang lebih lambat. Anak dapat dianggap siap apabila ia mulai menunjukkan:
- Ketidaknyamanan saat popok basah atau kotor dan meminta diganti.
- Ketertarikan untuk memakai celana dalam daripada popok.
- Rasa ingin tahu terhadap kebiasaan orang tua di kamar mandi.
- Antusias mengikuti proses latihan, misalnya mau duduk di potty.
- Kemampuan menirukan perilaku orang tua saat ke toilet.
- Tanda kemandirian seperti ingin melakukan sesuatu sendiri.
- Kemampuan berhenti sejenak dari aktivitas ketika merasa ingin BAK atau BAB.
3. Kesiapan Bahasa dan Komunikasi
Kemampuan komunikasi juga memegang peran penting. Anak lebih siap apabila ia sudah bisa:
- Mengerti instruksi sederhana seperti "ayo ke toilet".
- Mengungkapkan keinginannya, seperti memberi tahu bahwa ia ingin buang air.
- Menunjukkan sinyal tertentu sebelum BAK/BAB, seperti mencari tempat sendiri atau tampak gelisah.
Perlu ditekankan, bahwa memulai toilet training sebelum anak siap atau dilakukan dengan pemaksaan dan tekanan berlebihan bisa menimbulkan berbagai masalah. Anak mungkin menjadi takut masuk kamar mandi, memilih menahan BAB hingga akhirnya sembelit, atau menunjukkan penolakan kuat seperti tantrum ketika diminta duduk di potty. Dalam jangka panjang, proses belajar menggunakan toilet justru bisa makin lama karena pengalaman awalnya terasa menakutkan.
Sebaliknya, ketika anak memulai toilet training pada saat dirinya benar-benar siap, prosesnya biasanya berlangsung lebih cepat, lebih lancar, dan membuat anak merasa mampu serta percaya diri. Dengan kata lain, kesiapan adalah kunci agar toilet training menjadi pengalaman yang positif, bukan menegangkan baik bagi anak maupun orang tua.
Lalu Bagaimana Cara Memulainya dengan Tepat?
Ketika berbagai tanda kesiapan mulai terlihat, orangtua bisa perlahan mengenalkan rutinitas toilet pada anak. Dikutip dari Alodokter, berikut beberapa langkah yang dapat membantu proses toilet training berjalan lebih mudah:
1. Mulai dengan Memperkenalkan Fungsi Toilet
Jelaskan pada anak bahwa toilet digunakan untuk buang air kecil dan buang air besar. Beri pengertian sederhana bahwa popok tidak akan dipakai selamanya, dan ia akan mulai belajar menggunakan toilet ketika merasa ingin BAK atau BAB.
2. Berikan Contoh Langsung
Saat Anda ke kamar mandi, ajak si kecilikut serta, tunjukkan cara duduk di kloset, dan jelaskan apa yang sedang Anda lakukan. Setelah itu, perkenalkan pispot khusus anak, letakkan di kamar mandi dan ajari ia duduk di atasnya.
3. Ajarkan Langkah-Langkah Dasar Penggunaan Toilet
Agar lebih mudah, pakaikan anak celana yang simpel untuk dilepas. Lalu, ajari satu per satu keterampilan dasar, misalnya seperti membersihkan area vital setelah BAK atau BAB, menekan tombol flush, dan mencuci tangan dengan benar setelah selesai.
4. Jadikan Bagian dari Rutinitas Harian
Kebiasaan ini akan lebih mudah dipelajari bila dilakukan secara teratur. Misalnya, ajak anak ke toilet setelah bangun tidur atau sekitar 45–60 menit setelah makan dan minum. Untuk mengurangi rasa bosan, Anda bisa membawa buku kecil atau mainan favoritnya saat ia duduk di pispot. Dengan rutinitas yang konsisten, perlahan anak akan memahami kapan harus pergi ke toilet dan merasa nyaman melakukannya.
Toilet training bukan kompetisi, bukan pula perlombaan siapa yang tercepat untuk lepas dari popok. Proses ini merupakan perjalanan belajar yang menggabungkan kesiapan fisik, mental, dan emosional anak. Kuncinya sederhana yaitu ada pada tanda kesiapan, lingkungan yang mendukung, dan hindari tekanan yang kuat. Dengan pendekatan yang tepat, toilet training justru bisa menjadi pengalaman menyenangkan bagi orang tua dan anak. Ketika prosesnya berlangsung dengan sabar dan penuh dukungan, hasilnya akan jauh lebih baik dan bertahan jangka panjang.