← Beranda

Orang yang Sering Dimanja Sedari Kecil, Biasanya Tumbuh dengan 7 Sifat Ini Ketika Dewasa Nanti

Wahyu Eka PutraKamis, 6 November 2025 | 13.46 WIB
Ilustrasi orang yang sering dimanja sedari kecil biasanya memiliki sifat ini. Freepik

JawaPos.com - Kita pasti punya teman yang tidak mengerti mengapa dia terus-menerus dipecat dari pekerjaannya.

Dia cerdas, berpendidikan tinggi, dan berasal dari keluarga kaya. Orang tuanya telah memberinya semua yang pernah ia minta. 

Sekolah terbaik, liburan ke luar negeri hingga mobil baru. Namun saat bekerja, dia bagaikan mimpi buruk.

Ia sering datang terlambat, berdebat dengan atasannya, dan menolak melakukan tugas yang dianggapnya rendah. 

Begitulah rasanya dimanja sejak kecil. Hal itu tidak hanya membuatmu merasa berhak. Hal itu juga merusak pemahamanmu tentang bagaimana hubungan, pekerjaan, dan dunia sebenarnya berfungsi.

Dilansir dari Geediting, berikut ini 8 sifat yang sering dimiliki orang dewasa yang dimanja sewaktu kecil. Simak penjelasannya! 

1. Kesulitan dengan Kritikan

Ketika Anda tumbuh dengan keyakinan bahwa Anda istimewa, berbakat, dan sempurna apa adanya, kritik terasa seperti serangan.

Anak-anak manja seringkali terlindungi dari kritik negatif. Orang tua mereka membela mereka ketika guru menunjukkan masalah. 

Mereka dipuji karena usaha mereka yang biasa-biasa saja. Mereka diberi tahu bahwa siapa pun yang tidak melihat kecemerlangan mereka adalah salah.

Saat dewasa, ini menjadi kendala serius.

Ketika atasan memberi mereka umpan balik yang membangun, mereka menganggapnya sebagai perlakuan tidak adil. 

Ketika seorang teman menunjukkan sesuatu yang menyakitkan yang mereka katakan, mereka akan menghindar atau bersikap defensif.

Mereka tidak pernah belajar bahwa kritik adalah informasi, kritik adalah caramu berkembang, dan dikoreksi bukan berarti kamu tidak berharga. 

Sebaliknya, mereka menganggap segala bentuk kritik sebagai ancaman terhadap identitas mereka. Hal ini membuat mereka sangat sulit diajak bekerja sama atau dekat dengan orang lain.

2. Mengharapkan Perlakuan Khusus

Anak-anak yang dimanja tumbuh dengan keyakinan bahwa aturan tidak benar-benar berlaku bagi mereka.

Kalau mereka tidak mau mengerjakan PR, orang tua mereka akan memaafkannya. Kalau mereka merusak sesuatu, orang lain yang akan memperbaikinya.  

Kalau mereka menginginkan sesuatu, mereka akan mendapatkannya, terlepas dari apakah mereka telah melakukan sesuatu yang membuatnya pantas mendapatkannya.

Sebagai orang dewasa, ini muncul sebagai harapan bahwa mereka harus diberi kesempatan, pengampunan atau pertimbangan tanpa harus bekerja untuk mereka.

Mereka akan meminta perpanjangan tenggat waktu tanpa alasan yang jelas. Mereka berharap dipromosikan berdasarkan potensi, bukan kinerja.  

3. Kesulitan dalam Akuntabilitas

Salah satu tanda paling jelas seseorang yang manja adalah ketidakmampuannya bertanggung jawab saat terjadi kesalahan.

Ketika anak manja berbuat salah, orang tua mereka sering kali turun tangan untuk memperbaiki keadaan atau mengalihkan kesalahan. 

Gurunya terlalu keras, anak yang lain yang memulai, dan pelatihnya tidak adil. Hal ini menciptakan orang dewasa yang secara refleks mencari penjelasan ketika mereka gagal.

Mereka akan menyalahkan rekan kerja atas proyek yang gagal. Mereka akan mengatakan instruksinya tidak jelas padahal mereka tidak menindaklanjutinya. 

Mereka akan bersikeras bahwa keadaanlah yang merugikan mereka, alih-alih mengakui peran mereka dalam hasil akhir.

Mereka tidak berbohong sepenuhnya. Mereka sungguh-sungguh percaya bahwa segala sesuatu terjadi pada mereka dibanding menyadari bahwa mereka sendirilah yang menciptakan situasi tersebut.

Namun itu membuat pertumbuhan hampir mustahil. Karena jika Anda tidak bisa melihat peran Anda dalam masalah, Anda tidak bisa mengubah polanya. 

4. Kurangnya Empati

Jika Anda tidak pernah bekerja keras untuk apa pun, sulit untuk memahami seperti apa sebenarnya perjuangan itu.

Anak-anak manja seringkali tumbuh dengan titik buta terhadap privilese. Mereka tidak menyadari betapa uang, koneksi, atau campur tangan orang tua mereka telah memuluskan jalan mereka.

Jadi, ketika mereka bertemu seseorang yang sedang mengalami kesulitan, insting pertama mereka bukanlah belas kasihan, melainkan penilaian.

Mengapa mereka tidak meminta bantuan orang tua mereka saja? Jika mereka benar-benar menginginkannya, mereka akan mewujudkannya. Saya tidak mengerti mengapa hal ini begitu sulit bagi mereka. 

Mereka kurang imajinasi untuk memahami bahwa tidak semua orang memiliki jaring pengaman yang sama.  

Bahwa beberapa orang menghadapi rintangan yang belum pernah mereka hadapi. Ini tidak selalu jahat.  

Seringkali hanya ketidaktahuan. Namun, hal ini membuat mereka terkesan tidak berperasaan dan tidak peka. 

5.  Selalu Menunda

Kalau mereka mau mainan baru, mereka langsung dapat. Kalau mereka mau pergi ke suatu tempat, keluarga akan menata ulang. Kalau mereka bosan, ada yang menghibur mereka.

Hal ini menciptakan orang dewasa yang kesulitan menghadapi segala hal yang memerlukan kesabaran, kegigihan, atau ketidaknyamanan.

Mereka akan berhenti bekerja setelah beberapa bulan karena tidak dipromosikan dengan cukup cepat.  

Mereka akan meninggalkan proyek ketika tidak lagi menyenangkan. Mereka akan mengakhiri hubungan ketika keadaan menjadi sulit. 

Mereka mengharapkan hasil instan dan kepuasan instan. Dan ketika hidup tidak memberikannya, mereka tidak tahu bagaimana mengatasinya. 

Mereka bicara tentang keinginan membangun sesuatu yang bermakna, tetapi mereka tidak tahan dengan kerja keras bertahun-tahun yang sebenarnya dibutuhkan. 

Saat keadaan menjadi sulit, mereka beralih ke hal lain. Karena mereka tidak pernah diajari bahwa hal-hal yang berharga membutuhkan waktu. 

6. Haus Akan Validasi

Ketika Anda tumbuh dengan terus-menerus dipuji dan diberi penghargaan, Anda mulai percaya bahwa nilai Anda berasal dari pengakuan orang lain. 

Anak-anak manja sering dihujani pujian, piala, dan perhatian. Bukan selalu karena mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi karena orang tua mereka ingin mereka merasa istimewa.

Saat dewasa, ini menjadi ketergantungan pada validasi dari lingkungan. Mereka butuh pujian. Mereka butuh pengakuan. Mereka butuh bukti nyata bahwa mereka dihargai.

Dan ketika validasi itu tak kunjung datang, mereka pun terpuruk. Mereka berasumsi ada yang salah. 

Bahwa orang-orang tidak menghargai mereka. Bahwa mereka diabaikan. Mereka kesulitan menemukan motivasi atau kepuasan batin karena mereka tidak pernah diajarkan untuk menilai diri sendiri berdasarkan standar mereka sendiri. 

Mereka hanya belajar dari reaksi orang lain.

Toleransi yang Buruk Segalanya mudah bagi anak manja, dan ketika ada yang tidak mudah, biasanya ada yang membantu.

Jadi mereka tidak pernah mengembangkan kemampuan untuk menghadapi rasa frustrasi, mengatasi rintangan, atau bertahan saat keadaan menjadi sulit.

Saat dewasa, ini muncul sebagai pola menyerah dengan cepat. Mereka akan mencoba sesuatu sekali, dan jika tidak berhasil maka mereka memutuskan itu bukan untuk mereka. 

Jika diskusi menjadi tegang atau tidak nyaman, mereka akan menutup diri atau pergi daripada menyelesaikannya.

Mereka tidak memiliki stamina emosional untuk menoleransi ketidaknyamanan. Karena mereka tidak pernah dituntut untuk membangunnya.

7. Berjuang dengan Hidupnya

Hubungan membutuhkan timbal balik, memberi dan menerima, dan saling mempertimbangkan.

Namun, anak-anak manja tumbuh dalam dinamika yang mengutamakan kebutuhan mereka. Di mana orang lain menyesuaikan diri dengan mereka, bukan sebaliknya.

Sebagai orang dewasa, mereka sering menciptakan kembali dinamika ini tanpa menyadarinya. Mereka berharap teman-teman mereka menyesuaikan diri dengan jadwal mereka, tetapi jarang membalasnya. 

Mereka tak henti-hentinya membicarakan diri sendiri, tetapi bosan ketika orang lain berbagi. Mereka menganggap masalah mereka lebih mendesak, perasaan mereka lebih valid, dan preferensi mereka lebih penting. 

Mereka tidak selalu egois secara sadar. Mereka hanya benar-benar tidak mengerti bahwa hubungan seharusnya seimbang.

EDITOR: Hanny Suwindari