← Beranda

9 Kebiasaan Halus Seseorang yang Tumbuh di Bawah Bayang-Bayang Orang Tua Temperamental

Aunur RahmanRabu, 5 November 2025 | 20.20 WIB
Ilustrasi seorang dewasa yang duduk sendirian di kafe. (Freepik)

JawaPos.com - Tumbuh besar di rumah dengan suasana hati yang mudah berubah membuat seseorang belajar keheningan yang khas. Satu kata salah atau tatapan yang kurang tepat bisa mengubah segalanya menjadi keributan yang besar.

Melansir dari Geediting.com Rabu (5/11), jika masa kecil Anda dihabiskan dengan berhati-hati di sekitar orang tua yang tidak terduga atau meledak-ledak, kebiasaan ini sering menetap hingga dewasa.

Kebiasaan-kebiasaan awal itu membentuk cara kita berbicara, berpikir, bahkan saat kita bernapas ketika seseorang meninggikan suaranya.

Ini bukan tentang menyalahkan siapa pun, tetapi lebih kepada kesadaran diri. Kesadaran adalah alat yang memungkinkan kita untuk menghentikan pola-pola yang sudah tertanam kuat.

Berikut sembilan kebiasaan halus yang sering dimiliki oleh mereka yang tumbuh besar dalam suasana yang penuh tekanan emosional.

1. Menganalisis Berlebihan Suasana Hati Orang Lain

Bertahun-tahun mencoba memprediksi bahaya membuat otak Anda menjadi semacam stasiun cuaca emosional. Anda dapat merasakan perubahan nada suara seseorang lebih cepat daripada yang disadari orang lain. Anda mungkin bertanya-tanya apakah balasan singkat dari atasan berarti dia marah kepada Anda.

Kebiasaan terus-menerus memindai ini sangat melelahkan dan berakar pada upaya bertahan hidup. Ingatkan diri Anda bahwa tidak setiap desahan berarti orang lain marah.

2. Terlalu Cepat Meminta Maaf

Orang yang tumbuh di sekitar ketidakstabilan emosi belajar meredakan ketegangan sebelum meletus. Mereka menjadi ahli dalam merapikan keadaan, bahkan ketika mereka sebenarnya tidak bersalah. Jika Anda sering meminta maaf untuk hal-hal yang bukan tanggung jawab Anda, Anda bukan lemah, melainkan terprogram untuk menjaga perdamaian.

Bertanya pada diri sendiri apakah Anda benar-benar melakukan kesalahan atau hanya mencoba mencegah ketidaknyamanan adalah langkah awal yang krusial. Jeda sejenak itu adalah di mana rasa hormat pada diri sendiri mulai dibangun kembali.

3. Sulit Santai di Dekat Orang yang Tenang

Meskipun aneh, stabilitas terasa mencurigakan jika Anda tumbuh tanpa itu sama sekali. Saat orang lain tenang, tubuh Anda justru menegang alih-alih rileks. Sistem saraf Anda telah belajar bahwa kedamaian tidak akan bertahan lama.

Anda secara naluriah menunggu letusan emosi berikutnya akan terjadi. Belajar menurunkan kewaspadaan memang membutuhkan waktu. Ini dimulai dengan menyadari bahwa rasa aman bisa terasa tidak nyaman pada awalnya.

4. Menghindari Konflik dengan Segala Cara

Jika konflik berarti teriakan, membanting pintu, atau diabaikan, dapat dimengerti jika Anda lebih suka menghindarinya. Anda mungkin memendam perasaan atau setuju dengan orang lain hanya demi menjaga kedamaian. Namun, menghindari konflik sepenuhnya justru menciptakan masalah yang lebih besar.

Ketika tidak pernah mengekspresikan rasa frustrasi, itu akan merembes menjadi kebencian atau perilaku pasif-agresif. Ketidaksepakatan yang sehat adalah cara mengatakan bahwa Anda cukup memercayai hubungan itu untuk bersikap jujur.

5. Mengambil Alih Emosi Orang Lain

Empati sangat baik, tetapi jangan sampai menjadi pengasuh emosional bagi orang lain. Anda mungkin merasa bertanggung jawab untuk membuat semua orang di sekitar Anda bahagia, karena dulu harus berhati-hati terhadap suasana hati orang tua. Anda mungkin merasa bersalah ketika seorang teman kesal, padahal itu tidak ada hubungannya dengan Anda.

Kenyataannya adalah, peduli tidak harus berarti memikul beban emosi mereka. Anda bisa memberikan ruang bagi perasaan seseorang tanpa mengambil kepemilikannya.

6. Meremehkan Kebutuhan Diri Sendiri

Mengungkapkan kebutuhan saat kecil mungkin terasa berisiko besar. Emosi Anda cenderung dikesampingkan jika suasana hati orang tua mendominasi seluruh rumah tangga. Oleh karena itu, Anda sering mengatakan "tidak apa-apa" atau "saya tidak keberatan" meskipun sebenarnya Anda merasa keberatan.

Pola ini secara halus tetapi kuat mengajarkan orang lain bahwa kebutuhan Anda bisa dinegosiasikan. Mulailah dengan menyebutkan satu preferensi kecil setiap hari untuk melatih keberanian.

7. Takut Marah Tiba-tiba, Bahkan Ketika Tidak Ditujukan kepada Anda

Bertahun-tahun kemudian, suara yang meninggi masih bisa membuat perut Anda terasa kencang. Anda mungkin tersentak oleh suara keras atau membeku ketika orang lain frustrasi. Ini bukan kelemahan, melainkan gema trauma yang pernah dialami.

Ketika Anda menyadari tubuh bereaksi, jangan menghakimi diri sendiri. Cukup jeda, tarik napas, dan katakan, "Tubuhku mengira aku tidak aman, padahal aku baik-baik saja."

8. Mendambakan Persetujuan tetapi Sulit Memercayainya

Ketika kasih sayang bersyarat, hanya ditawarkan saat Anda berperilaku sempurna, Anda belajar menyamakan persetujuan dengan rasa aman. Anda mungkin mendambakan pujian tetapi meremehkannya saat itu tiba. Anda ingin dilihat, tetapi terlihat terasa tidak aman.

Kebiasaan ini sering memudar ketika Anda mulai memvalidasi diri sendiri terlebih dahulu tanpa menunggu persetujuan orang lain. Persetujuan dari luar menjadi kejutan yang menyenangkan, bukan tali penyelamat yang mendesak.

9. Mengacaukan Kedamaian dengan Kekosongan

Jika kekacauan adalah hal yang normal bagi Anda, kedamaian justru bisa terasa membosankan. Anda mungkin mendapati diri tertarik pada drama atau hubungan yang intens. Ini bukan karena Anda menyukai kekacauan, tetapi karena sistem saraf Anda dilatih menyamakan intensitas dengan koneksi.

Jika kedamaian terasa hampa, berikan waktu. Keheningan bukanlah kekosongan, melainkan segalanya sedang mereda dengan perlahan.

Tumbuh besar dengan selalu berhati-hati mengajarkan Anda untuk menjadi pengamat, mudah beradaptasi, dan sangat berempati. Itu adalah kualitas yang kuat, tetapi seharusnya tidak harus dibayar dengan mengorbankan kedamaian Anda. Penyembuhan tidak berarti Anda menghapus bagian-bagian diri yang belajar untuk bertahan hidup.

Penyembuhan berarti Anda belajar menggunakan keterampilan yang sama dengan pilihan, bukan karena rasa takut. Itu bisa berarti mengatakan tidak tanpa rasa bersalah. Atau sesederhana memercayai bahwa ketenangan dapat bertahan lama.

EDITOR: Novia Tri Astuti