← Beranda

Jarang Disadari! 9 Kebiasaan Sederhana Ini Dapat Membentuk Anak Menjadi Sombong dan Manja, Menurut Psikologi

Vindi Rayinda AyudyaSabtu, 1 Maret 2025 | 18.10 WIB
Ilustrasi orang yang superior. (Freepik)

JawaPos.Com - Mengasuh dan mendidik anak memang bukan hal yang mudah, ini adalah tugas penuh tantangan yang melibatkan cinta, disiplin, dan tanggung jawab dari orang tua.

Oleh karenanya, beberapa kebiasaan sederhana yang tidak disadari justru berdampak pada pola asuh negatif pada perkembangan karakter anak.

Pola asuh yang tidak seimbang, sering kali menjadikan anak-anak tumbuh menjadi individu yang sombong, kurang empati, dan manja.

Hal ini juga disampaikan oleh psikologi anak, bahwa perilaku orang tua memainkan peran besar dalam membentuk kepribadian anak, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sebagaimana dilansir dari Personal Branding Blog, inilah sembilan kebiasaan orang tua yang sering dianggap biasa, tetapi berpengaruh besar pada karakter anak yang kurang menghargai orang lain dan merasa selalu berhak mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Kebiasaan seperti apakah contohnya? Simak informasi lengkap berikut ini.

1. Terlalu Memanjakan Anak
Memanjakan anak dengan memenuhi setiap keinginan mereka tanpa mempertimbangkan batasan adalah salah satu kesalahan yang sering terjadi.

Orang tua mungkin melakukannya dengan alasan kasih sayang atau untuk menghindari konflik, tetapi ini dapat menciptakan masalah serius di kemudian hari.

Anak yang selalu mendapatkan apa yang diinginkan tanpa usaha cenderung tumbuh dengan mentalitas "berhak" atas segala hal. Mereka menjadi kurang menghargai nilai kerja keras, pengorbanan, dan kesabaran.

Lebih jauh lagi, anak yang terbiasa dimanjakan akan kesulitan memahami konsep menunda kepuasan.

Di masa depan, ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk menghadapi tantangan, bertahan dalam situasi sulit, dan mencapai tujuan jangka panjang.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menyeimbangkan kasih sayang dengan batasan yang jelas.

2. Kurangnya Tanggung Jawab
Mengajarkan tanggung jawab kepada anak sejak dini adalah langkah penting dalam membentuk kepribadian yang mandiri.

Sayangnya, banyak orang tua yang tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar bertanggung jawab.

Misalnya, anak tidak diberi tugas rumah tangga sederhana atau tidak diminta untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah mereka sendiri.

Ketika anak tidak diajarkan menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka, mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa segala sesuatunya akan selalu diurus oleh orang lain.

Hal ini dapat menciptakan individu yang tidak mandiri, kurang percaya diri, dan sulit beradaptasi dalam kehidupan dewasa.

Sebaliknya, memberikan tanggung jawab yang sesuai dengan usia anak akan membantu mereka belajar menjadi pribadi yang andal dan bertanggung jawab.

3. Disiplin yang Tidak Konsisten
Konsistensi adalah kunci dalam mendisiplinkan anak. Namun, banyak orang tua yang secara tidak sadar memberikan sinyal campuran kepada anak.

Misalnya, perilaku buruk anak dibiarkan pada satu waktu, tetapi di lain waktu, perilaku yang sama mendapat hukuman.

Inkonsistensi semacam ini membuat anak bingung dan tidak memahami aturan yang jelas.

Anak yang dibesarkan dalam lingkungan tanpa aturan yang konsisten cenderung mencoba memanipulasi situasi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Mereka juga mungkin kehilangan rasa hormat terhadap aturan dan otoritas, baik di rumah maupun di lingkungan sosial lainnya.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menetapkan aturan yang jelas dan konsisten serta menegakkannya dengan tegas namun penuh kasih sayang.

4. Gagal Mengajarkan Rasa Syukur
Rasa syukur adalah salah satu nilai penting yang harus diajarkan kepada anak sejak dini.

Namun banyak orang tua yang mengabaikan hal ini, sehingga anak tumbuh menjadi individu yang serakah dan sulit merasa puas.

Anak yang tidak diajarkan bersyukur cenderung selalu ingin lebih, tanpa menghargai apa yang telah mereka miliki.

Untuk mengajarkan rasa syukur, orang tua dapat menjadi teladan dengan menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, mengungkapkan rasa terima kasih atas makanan yang tersedia di meja atau atas bantuan kecil yang diberikan oleh orang lain.

Dengan cara ini, anak akan belajar menghargai apa yang mereka miliki dan tumbuh menjadi individu yang rendah hati serta penuh penghargaan terhadap orang lain.

5. Tidak Mengizinkan Konsekuensi Alami
Keinginan untuk melindungi anak dari rasa sakit atau kegagalan adalah hal yang sangat wajar bagi setiap orang tua.

Namun jika orang tua selalu campur tangan untuk mencegah anak menghadapi konsekuensi alami dari tindakan mereka, anak tidak akan pernah belajar dari kesalahan.

Misalnya, jika anak lupa membawa PR ke sekolah dan orang tua selalu mengantarkannya, anak tidak akan merasa perlu bertanggung jawab atas kelalaian mereka.

Mengizinkan anak menghadapi konsekuensi alami dengan bimbingan yang penuh kasih sayang akan membantu mereka memahami pentingnya tanggung jawab.

Ini juga mengajarkan anak untuk mengambil keputusan yang lebih baik di masa depan, karena mereka memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

6. Mengutamakan Harta Benda Dibandingkan Nilai-Nilai
Memberikan hadiah materi kepada anak adalah salah satu cara orang tua menunjukkan kasih sayang.

Namun jika ini dilakukan secara berlebihan tanpa membangun nilai-nilai moral, anak dapat tumbuh menjadi individu yang materialistis.

Mereka mungkin belajar mengukur kebahagiaan dan keberhasilan hanya berdasarkan apa yang mereka miliki, bukan dari hubungan atau pencapaian pribadi.

Penting bagi orang tua untuk menyeimbangkan pemberian hadiah materi dengan pengajaran nilai-nilai seperti empati, kerja keras, dan kejujuran.

Dengan cara ini, anak akan tumbuh menjadi individu yang menghargai hubungan dan pencapaian non-material.

7. Mengabaikan Penetapan Batasan
Batasan adalah salah satu cara untuk mengajarkan anak tentang realitas dunia, di mana mereka tidak selalu bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Namun banyak orang tua yang enggan menetapkan batasan karena khawatir dianggap tidak pengertian atau keras.

Anak-anak yang dibesarkan tanpa batasan cenderung tumbuh menjadi individu yang sulit menghormati aturan atau otoritas.

Mereka mungkin menghadapi kesulitan dalam hubungan sosial, lingkungan kerja, atau situasi lain di mana aturan diperlukan.

Menetapkan batasan yang jelas dan menjelaskan alasannya kepada anak dapat membantu mereka memahami pentingnya menghormati aturan.

8. Gagal dalam Memodelkan Empati
Empati adalah kemampuan penting yang membantu seseorang memahami dan menghargai perasaan orang lain.

Namun jika orang tua tidak menunjukkan empati dalam interaksi sehari-hari, anak mungkin tidak belajar pentingnya peduli terhadap orang lain.

Misalnya, jika orang tua tidak mendengarkan anak dengan sungguh-sungguh, anak mungkin tumbuh menjadi individu yang egois dan tidak peka terhadap lingkungan sosial mereka.

Untuk mengajarkan empati, orang tua perlu menjadi teladan dengan menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap orang lain.

Mengajarkan anak untuk mendengarkan orang lain, memahami perasaan mereka, dan membantu ketika dibutuhkan adalah langkah-langkah kecil yang dapat membangun rasa empati sejak dini.

9. Terlalu Memuji
Pujian adalah alat yang penting untuk membangun kepercayaan diri anak, tetapi jika diberikan secara berlebihan atau tidak tulus, dapat membawa dampak negatif.

Anak mungkin tumbuh dengan rasa superioritas yang tidak sehat, merasa bahwa mereka lebih baik daripada orang lain tanpa usaha nyata.

Pujian yang tulus dan spesifik lebih efektif dalam membangun kepercayaan diri anak. Misalnya, daripada hanya mengatakan, "Kamu pintar," orang tua dapat mengatakan, "Kamu bekerja keras menyelesaikan tugas ini dengan baik."

Dengan cara ini, anak akan memahami pentingnya usaha dan merasa dihargai untuk apa yang benar-benar mereka lakukan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho