JawaPos.com - Hingga kini, Kijang Innova masih jadi multipurpose vehicle (MPV) kelas menengah idaman keluarga Indonesia. Mobil Kijang Innova bekas ini unit sekennya masih sangat dicari, nggak heran kalau harga jual kembali mobil ini relatif stabil, apalagi varian dengan mesin dieselnya, sebel banget, nggak turun-turun harganya.
Baca Juga: Tidak Pakai Daging! Resep Nasi Curry Katsu Pakai Tahu yang Enak dan Praktis
Kendati unit mobil bekasnya masih sangat dicari, tetap saja, namanya mobil bekas, ada beberapa masalah pada Kijang Innova bekas yang pantang diabaikan lho. Dan ini perlu banget diketahui para calon pembeli atau Anda yang mungkin baru ada rezeki dan sedang hunting mobil Kijang Innova bekas.
Sejak mengaspal tahun 2024, Toyota Kijang Innova telah mengalami perubahan generasi. Yang terbaru yaitu generasi ketiga dengan opsi mesin bensin dan hybrid, menggantikan mesin diesel di generasi pertama dan kedua.
Innova sejatinya adalah mobil yang tangguh. Namun, sama seperti mobil kebanyakan, Kijang Innova juga memiliki “penyakit bawaan” yang akan kentara seiring lamanya pemakaian, dilansir dari Ibid Astra, berikut 7 masalah pada mobil Kijang Innova bekas.
Boros Bensin
Masalah Innova bekas yang utama yaitu boros bensin. Generasi pertama dan kedua mengandalkan mesin 1TR-FE. Saking tangguhnya, mesin ini juga diadopsi mobil SUV Toyota, seperti HiAce, Hilux, dan Land Cruiser.
Hanya saja, mesin 1TR-FE dikenal cukup boros, sorry, bukan cukup lagi, tapi memang boros banget bensin lantaran generasi pertama sebelum tahun 2007 konsumsi bahan bakarnya mencapai 6 km/liter di dalam kota dan 10 km/liter untuk perjalanan bebas hambatan.
Selain itu, Innova generasi pertama pre-facelift yang rilis pada tahun 2004–2007 belum memiliki standar emisi Euro 2. Alhasil, konsumsi BBM dan emisi yang dihasilkan kurang efisien.
Meski begitu, Anda tak perlu khawatir karena Toyota juga menyematkan teknologi VVT-i (Variable Valve Timing with Intelligence) untuk memberikan efisiensi lebih baik. Meski sudah VVT-iz konsumsi BBM Innova bensin ya tetap saja boros.
Masalah Transmisi Matic
Pemilik Kijang Innova generasi pertama dan kedua yang beli di rilisan (batch) pertama sering mengalami gangguan transmisi di mana fungsi solenoid terganggu atau bahkan mati. Imbasnya, pengemudi sulit melakukan perpindahan gigi.
Bahkan, ketika pengemudi masuk ke D, transmisi langsung melonjak ke gigi 3 atau bahkan sulit berpindah. Pada generasi ketiga batch pertama, mobil bisa melonjak atau mengeluarkan bunyi jedug ketika melakukan perpindahan gigi, terutama saat kecepatan 80 km/liter. Selain usia pemakaian, masalah Innova ini juga dipicu buruknya kualitas oli transmisi.
Mesin Pincang
Karena menggunakan bahan diesel, Innova bekas kerap mengalami mesin pincang atau brebet. Masalah Innova ini terjadi karena filter solar tersumbat, injektor rusak, dan penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai.
Meski di atas kertas kompresi 9.8:1 menandakan bisa minum Pertalite, Innova disarankan menggunakan bahan bakar RON di atas 90. Hal tersebut bertujuan untuk menghasilkan pembakaran yang lebih baik.
Kebocoran Oli
Selain boros bensin, My Motor List menjelaskan mesin 1TR-FE pada Innova pertama keluaran tahun 2004–2008 rentan mengalami kebocoran oli. Masalah Innova bekas ini biasa terjadi di bagian crankshaft atau timing belt.
Akselerasi Lemot
Penyakit yang menjangkit mobil Innova diesel selanjutnya yaitu akselerasi lemah. Selain berkaitan dengan mobil pincang, masalah ini juga bisa disebabkan kerusakan pada Variable Nozzle Turbo (VNT).
Komponen ini bertugas mengatur masuknya udara dari turbo ke dalam mesin. Jika VNT rusak, suplai udara ke ruang bakar jadi terganggu sehingga mobil seakan kehilangan tenaga.
Minim Fitur
Sebagai mobil MPV kelas menengah seharga Rp 300 jutaan, Innova generasi pertama dan kedua terbilang minim fitur, sebut saja immobilizer, airbag, pelipat spion otomatis, dan ABS, kecuali untuk trim tertinggi. Tak cuma itu, semburan AC pada keluaran batch pertama terbilang kecil dan terbatas.
Kaki-Kaki Mobil Bermasalah
Meski sebagai kelas menengah, Innova banyak diminati untuk tunggangan sehari-hari dan menghajar medan berat. Hal tersebut tentu berdampak pada kaki-kaki mobil. Terlebih lagi Innova menggunakan suspensi per keong.
Masalah Innova bekas ini bisa dicegah dengan rutin melakukan servis mobil bagi pemiliknya. Nah, sebagai pembeli, Anda perlu melakukan inspeksi mobil agar tahu kondisi aktual mobil. (*)