DALAM konteks ilmu kesehatan secara holistik, puasa Ramadan dinilai mampu meningkatkan kesehatan fisik, mental, spiritual, dan sosial. Dengan peningkatan amalan seperti salat Tarawih, salat malam, tadarus, dan seterusnya, tidak dapat dimungkiri kesehatan mental dan spiritual akan meningkat. Saling berbagi dalam bentuk sedekah, zakat, berbagi takjil, dan lain-lain akan meningkatkan kesehatan sosial.
Lalu, bagaimana dengan kesehatan fisik? Ada hadis Rasulullah SAW yang berbunyi ”Shumu Tashihhu” yang artinya: ”Berpuasalah kamu, niscaya kamu akan sehat”. Namun, konon hadis ini hadis dhaif (hadis lemah). Meski dhaif, karena bersifat hasan (baik), tidak salah kalau diambil hikmahnya. Faktanya, dalam dua atau tiga dekade terakhir, banyak hasil penelitian yang membuktikan manfaat puasa untuk kesehatan. Khususnya dalam rangka revitalisasi/peremajaan sel-sel tubuh.
Autophagy sebagai Peremajaan Tubuh
Adalah Yoshinori Ohsumi, seorang ilmuwan biologi sel dan profesor di Tokyo Institute of Technology, yang telah menemukan mekanisme kerja autophagy. Dia mendapatkan hadiah nobel di bidang fisiologi pada 2016. Auto berarti sendiri dan phagy bermakna makan. Jadi, autophagy berarti memakan olehnya sendiri.
Secara sederhana, autophagy didefinisikan sebagai penghancuran (recycle) dari komponen-komponen sel (protein dan materi biologik lainnya yang sudah tua, rusak, dan abnormal) oleh sel itu sendiri di dalam lysosome. Produk hasil penghancuran tersebut selanjutnya digunakan untuk menjalankan fungsi-fungsi sel itu sendiri. Terutama saat sel mengalami stres atau lapar (starvation).
Terdapat tiga mekanisme dalam autophagy, yakni macroautophagy, microautophagy, dan chaperone-mediated autophagy. Macroautophagy paling ekstensif dipelajari; sementara studi-studi tentang microautophagy dan chaperone-mediated autophagy masih sangat terbatas.
Pada macroautophagy, penghancuran komponen-komponen sel dipengaruhi secara selektif oleh gen ATG. Gen adalah materi genetik di kromosom yang berfungsi menghasilkan protein spesifik. ATG merupakan akronim dari AuTophaGy. Gen yang memengaruhi autophagy ini berjumlah 41, mulai ATG1 sampai ATG41. Di antara 41 gen tersebut, terdapat 15 gen yang disebut ”gen ATG utama”, yakni ATG1–10, 12–14, dan 18, yang dibutuhkan untuk semua tipe autophagy, termasuk tipe nonselective ordinary autophagy akibat kondisi lapar.
Studi yang sudah cukup lama oleh Carlson & Hoelzel (1946), menguji coba pada tikus, dipuasakan selang-seling (sehari puasa, dua hari tidak puasa, sepanjang hidupnya), meningkatkan perpanjangan umur 20 persen pada tikus jantan dan 15 persen pada tikus betina. Peneliti lain, Kalsi (2015), membuktikan restriksi asupan kalori akan meningkatkan usia sel-sel neuron otak di kera dan manusia. Neuron otak merupakan kunci utama supaya individu tidak pikun (tidak terkena penyakit Alzheimer).
Secara umum, efek positif dari restriksi kalori dan puasa adalah (i) mengakibatkan fusi mitokondria dan efisiensi mitokondria dalam memproduksi energi (adenosina trifosfat), (ii) meningkatkan kesehatan otak, termasuk mencegah pikun, (iii) meningkatkan sistem imun tubuh, (iv) meningkatkan kesehatan saluran cerna, (v) meningkatkan pembakaran deposit lemak, termasuk mencegah obesitas. Kelima efek fisiologis dari restriksi kalori dan puasa ini akan berdampak pada peremajaan sel-sel tubuh dan vitalitas tubuh secara keseluruhan. Dengan demikian, tidak salah jika puasa akan mampu mencegah penyakit degeneratif dan memperpanjang umur.
Mendapatkan Ketakwaan Sekaligus Kesehatan
Dari referensi puasa selang-seling (intermittent fasting), agar puasa memperoleh efek autophagy yang optimal, para ahli menawarkan puasa dengan rumus 16/8. Maknanya, dalam periode 24 jam (sehari semalam), seseorang berpuasa selama 16 jam dan 8 jam sisanya boleh berbuka/makan. Tentu, dalam menjalankan puasa autophagy ini, seseorang masih diperbolehkan minum. Bahkan boleh minum teh atau kopi tanpa gula. Praktik puasa seperti ini sering disebut praktik One Meal A Day (OMAD). Artinya, satu kali makan dalam sehari semalam.
Dengan mempraktikkan OMAD, menerapkan formula 5/2, artinya dalam seminggu, lima hari praktik OMAD dan dua hari sisanya makan seperti biasa. Diharapkan, tubuh berkesempatan melakukan autophagy. Tujuannya, me-recycle sel-sel tua, sel-sel mati, komponen-komponen sel lainnya yang tidak bermanfaat. Bahkan, studi mutakhir, dengan praktik diet autophagy, pertumbuhan sel-sel kanker dapat dihambat (dapat mengobati kanker).
Tentu dalam benak kita, akan muncul pertanyaan: bagaimana mengoptimalkan puasa Ramadan kita atau puasa sunah lainnya untuk mendapatkan efek autophagy yang bermanfaat untuk peremajaan sel-sel tubuh?
Sebagaimana disyariatkan, dalam puasa Ramadan atau puasa sunah ada dua kali sesi asupan makan. Yakni, berbuka saat magrib dan makan sahur sebelum imsak. Meski, puasa sunah bisa saja tanpa makan sahur sebagaimana yang dipraktikkan Rasulullah SAW (diniatkan saat itu juga karena tidak ada makanan).
Untuk mendapatkan efek seperti praktik OMAD, bisa saja kita memilih antara berbuka dan makan sahur salah satunya makan berat (lengkap) dan lainnya makan ringan. Misalnya, berbuka dengan makan berat (lengkap) dan sahur cukup jus dan buah. Atau sebaliknya. Dengan membatasi asupan kalori pada satu di antara dua sesi makan, harapannya akan mendekati OMAD dan efek autophagy dapat diperoleh.
Dikaitkan dengan praktik diet autophagy sebagaimana yang sudah dijelaskan, termasuk praktik OMAD, saat ibadah puasa Ramadan atau puasa sunah lainnya disarankan menyantap makanan yang tidak berlebihan, tetapi berkualitas secara gizi. Yakni, batasi asupan kalori (karbohidrat), cukupkan sumber protein, sumber vitamin, dan mineral (buah dan sayur). Dengan cara ini, efek peremajaan dan revitalisasi sel-sel organ tubuh akan dapat diraih. Mari berpuasa sehat. Peningkatan ketakwaan dan kesehatan dapat diraih secara simultan sekaligus. (*)
*) SISWANTO, Mantan kepala Balitbangkes Kemenkes, mantan senior adviser science, research, and innovation WHO Asia Tenggara