← Beranda

Dinamika PSI vs PDIP: Ketegangan di Jalur Politik Menuju 2029

Muhammad RidwanRabu, 26 November 2025 | 05.11 WIB
Logo PSI. (Dok. PSI)

 

JawaPos.com-Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia Arifki Chaniago menilai saling sindir antara politikus PSI Ahmad Ali dan PDIP Guntur Romli mencerminkan persaingan dua kekuatan politik yang berebut ruang dalam jalur politik nasional yang kian menyempit. Persaingan tersebut bukan sekadar perbedaan ideologi, melainkan pertarungan untuk menguasai perhatian publik.

“Pertarungan wacana PSI–PDIP sekarang ibarat dua pengemudi yang masuk ke satu jalur sempit. Kedua partai ini tak bisa dipungkiri memiliki ceruk pemilih yang sama. Jika PSI saat ini punya ikon Jokowi, PDIP sudah sejak lama punya Megawati. Namun, sesuatu yang tak bisa dipungkiri adalah dulu Jokowi adalah kader PDIP,” kata Arifki dalam keterangan tertulis, Selasa (25/11).

Dia menegaskan, gesekan terjadi bukan karena salah satu pihak mengambil jalur yang salah, melainkan karena keduanya berebut ruang pengaruh yang sama, ceruk pemilih nasionalis, kelompok muda, dan publik digital yang kini menjadi salah satu penentu peta politik nasional. Situasi ini terjadi di tengah momentum partai-partai politik yang sedang merapikan struktur menjelang kontestasi politik mendatang.

Lebih lanjut, Arifki menyebut gaya komunikasi kedua partai turut mempertegas metafora terkait dua pengemudi di jalur sempit. PSI dinilai mengandalkan strategi akselerasi melalui serangan cepat, satir, dan memancing viralitas. Sementara, PDIP yang selama ini bertumpu pada kekuatan kelembagaan tradisional, kini ikut mencoba bermain dalam narasi serupa agar tidak dinilai pasif.

“Di jalur sempit seperti itu, setiap manuver punya risiko. PSI sesekali menggeser ke kiri untuk menyalip narasi lama, sementara PDIP mencoba mempertahankan laju dengan ikut melakukan serangan balik. Ketika keduanya bergerak di ruang yang sama, benturan wacana hampir tak terhindarkan,” ujar Arifki.

Arifki menilai, dinamika tersebut juga menunjukkan sedang terjadi perubahan besar dalam peta politik Indonesia. Jika dulu panggung politik diisi dominasi partai besar yang menentukan arah, kini ruang itu semakin sempit karena publik digital menjadi wasit baru.

“Ruang wacana kini dikendalikan oleh kecepatan respons dan kemampuan membangun simbol. Siapa yang terlambat, tersalip. Siapa yang terlalu cepat, bisa kehilangan kontrol. Karena itu, duel PSI vs PDIP lebih dari sekadar saling sindir: ini kompetisi untuk memegang kemudi opini publik,” tutur Arifki.

Dia menambahkan, ke depan jalur politik tidak akan semakin lebar. Sehingga akan semakin padat dan kompetitif karena publik memiliki akses penuh merespons setiap narasi secara langsung.

“Pertarungan PSI dan PDIP ini bisa dibaca sebagai prolog dari dinamika yang lebih besar. Jika dua kendaraan saja sudah bersenggolan, bayangkan ketika lebih banyak aktor politik mulai masuk ke jalur yang sama. Kontestasi wacana akan menjadi medan utama menuju 2029,” tandas Arifki.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah