← Beranda

Profil Syaikhona Kholil Bangkalan, Guru KH Hasyim Asy'ari yang Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional

Abdul RahmanSelasa, 11 November 2025 | 01.56 WIB
Syaikhona Kholil Bangkalan Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. (NU Online)

JawaPos.com - Ulama besar karismatik, Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional bersama sejumlah tokoh lainnya oleh Presiden Prabowo Subianto.

Penetapan ini dilakukan bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada hari ini, Senin (10/11).

Usulan untuk menjadikan Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai Pahlawan Nasional sejatinya sudah cukup lama menggelinding.

Usulan ini mulai disuarakan sejak 2019 silam dan sempat menguat pada 2021. Baru di tangan Presiden Prabowo Subianto, Syaikhona Kholil Bangkalan akhirnya diresmikan sebagai Pahlawan Nasional.

Syaikhona Kholil merupakan guru dari pendiri Nahdlatul Ulama, yakni KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri.

Usulan penetapan Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai Pahlawan Nasional menggelinding cukup lama karena ia dinilai sangat pantas menyandang gelar kehormatan itu.

Pasalnya, Syaikhona Kholil berkontribusi besar terhadap penguatan nasionalisme dan gerakan melawan segala bentuk kolonialisme. Dia juga aktif memberdayakan masyarakat di bidang agama, sosial, pendidikan, dan politik.

Usulan ini digaungkan oleh santri dan komunitas pesantren di Jawa Timur sejak beberapa tahun silam.

Menurut mereka, Syaikhona Kholil Bangkalan berhasil melahirkan embrio gerakan kultural dalam perlawanan terhadap kolonialisme di Nusantara.

"Syaikhona Kholil menjadi titik sentral penempaan dan pembibitan para calon pejuang dan pahlawan. Hal ini tidak terbantahkan dalam fakta sejarah," kata Ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Kholil, Muhaimin, pada 22 Maret 2021 silam.

Profil Singkat Syaikhona Kholil Bangkalan

Syaikhona Kholil Bangkalan lahir di Kemayoran, Bangkalan, sekitar tahun 1835 Masehi. Dia merupakan putra dari KH Abdul Latif, yang mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati.

Pada usia 24 tahun, Kholil menikah dengan Nyai Azzah, putri Lodra Putih. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai 2 orang anak masing-masing bernama Khotimah dan Muhammad Hasan.

Syaikhona Kholil Bangkalan memiliki minat yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama sejak kecil. Sejak kecil, ayahnya mendidiknya dengan sejumlah ilmu. Mulai dari ilmu fiqih, nahwu, Sharaf, hingga bahasa Arab.

Di usia muda, Syaikhona Kholil Bangkalan berhasil menghafalkan 1000 bait nadzam Alfiyah Ibnu Malik. Kitab ini diketahui menjadi pegangan wajib di banyak pesantren di Indonesia sampai sekarang.

Setelah dididik sendiri, sang ayahanda memutuskan untuk memondokkan Kholil Bangkalan kecil ke sejumlah pesantren untuk memperdalam ilmu.

Kholil muda pernah belajar kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

Setelah dari Langitan, Kholil muda kemudian pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Tak hanya itu, Kholil juga sempat menimba ilmu di Pesantren Keboncandi.

Kebiasaan Membaca Surah Yasin

Selain belajar, Kholil muda memiliki kebiasaan membaca Surah Yasin. Bahkan saat dalam perjalanan, dia bisanya habiskan waktu dengan mengaji Surat Yasin.

Menariknya, Kholil Bangkalan hafal Alquran dengan sangat baik. Tak hanya itu, dia juga mampu membaca mukjizat terbesar Nabi Muhammad ini dalam berbagai versi, khususnya dalam Qira'at Sab'ah.

Pada usia 24 tahun, Kholil Bangkalan menikah dan kemudian pergi ke Makkah dengan biaya perjalanan yang diperoleh dari hasil menabungnya selama menjadi santri di Banyuwangi.

Konon kabarnya, Kholil memilih berpuasa selama di perjalanan menuju Makkah dengan tujuan agar diberikan keselamatan sepanjang perjalanan sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.

Syaikhona Kholil Bangkalan termasuk ulama yang cukup produktif dalam melahirkan karya. Salah satu karyanya di bidang fiqih berjudul Al Matnus Syarif al-Mulaqqab bi Fat-hil Latif.

Dalam kita ini, Syaikhona Kholil berhasil menghadirkan penjelasan yang ringan namun jelas, lugas, dan mudah dipahami. Di mana sebelumnya, penjelasan tentang fiqih terkesan cukup rumit.

Selain itu, Syaikhona Kholil juga menulis sejumlah karya lain. Mulai dari Risalah Fi Fiqh al Ibadat, Risalah Isti'dadul Maut, Taqrirat Alfiyah Ibnu Malik, dan Taqrirat nadzam Nuzhatut Thullab fi Qowaidil I'rob.

Juga Nadzam Jauharatul lyan li Ahlil Irfan, Nadzam Maqsud fi As-shorf, Risalah Khutbah, Tasrif al Izzi, Maulid Hubbi lis Sayyidina Muhammad dan kitab-kitab lain.

Ada banyak ulama besar yang menjadi murid dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Beberapa di antaranya KH Muhammad Hasan Sepuh (pendiri Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo), KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama, pendiri Ponpes Tebuireng, Jombang), dan KH Zaini Mun'im (Pendiri Ponpes Nurul Jadid Paiton Probolinggo). 

Lalu ada KH Musthofa (Pendiri PonpesTarbiyatut Tholabah, Kranji, Lamongan), KH Abdul Wahab Hasbullah (Pengasuh Ponpes Tambak Beras, Jombang), KH Bisri Syansuri (Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang), KH Manaf Abdul Karim (Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri), dan ulama-ulama besar lain.

 

EDITOR: Bayu Putra