← Beranda

Peneliti BRIN Ungkap Penyebab Angin Puting Beliung di Rancaekek Bandung Mirip Tornado

Ardha Ihsan Asy'AriJumat, 23 Februari 2024 | 19.54 WIB
Angin kencang puting beliung melanda wilayah Rancaekek, Kabupaten Bandung dan Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Rabu (21/2). (Radar Sumedang)
 
JawaPos.com - Bencana alam puting beliung yang berpusat di Rancaekek dan melanda Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang pada Rabu (21/2) lalu berdampak parah.
 
BPBD Jawa Barat mencatat 534 bangunan mengalami kerusakan. Sejumlah kalangan masyarakat sampai menyamakan angin puting beliung tersebut dengan angin tornado seperti terlihat dalam beberapa video yang beredar di medsos.
 
Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai angin tersebut masih kategori angin puting beliung. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menjelaskan angin kencang tersebut terlihat berputar seperti tornado karena adanya mekanisme lain.
 
Baca Juga: BMKG Sebut Istilah Angin Puting Beliung dan Tornado Sama, tapi Kecepatan Anginnya Beda
 
"Kenapa bisa berputar? Ini ada mekanisme lain, mungkin karena ada desakan angin, katakanlah pada (ketinggian) 850 (meter) yang berasal dari Australia, kemudian berputar. Nah, di situlah terbentuk tropical cyclone," kata Eddy seperti dikutip dari Antara.
 
Ia juga menjelaskan kondisi lain yang membuat angin puting beliung tersebut terlihat berbeda dari biasanya adalah kala itu langit telah gelap dan tidak ada cahaya matahari yang masuk, serta benda-benda kecil mulai terangkat, maka puting beliung tersebut telah memasuki fase puncak.
 
"Ketika angin sudah mulai berputar, maka puting beliung tersebut akan menelan semua kawasan yang mengalami fenomena tekanan rendah," imbuhnya.
 
Baca Juga: Begini Penjelasan BMKG Soal Proses Angin Puting Beliung yang Terjadi di Rancaekek
 
Eddy juga menambahkan bahwa perbedaan suhu saat siang yang sangat panas dan malam yang dingin di Rancaekek juga turut mempengaruhi besarnya angin tersebut.
 
"Kawasan yang menerima cahaya matahari lama lebih dari 12,1 jam berpotensi besar menjadi pusat tekanan rendah, sehingga awan-awan yang ada di sekeliling akan tersedot," imbuhnya.
 
Ia juga menambahkan faktor lain penyebab angin puting beliung di Rancaekek tersebut karena perubahan tata guna lahan dari sebelumnya kawasan hijau menjadi industri. 
 
Baca Juga: Cuaca Ekstrem! Rumah Warga di Sumedang Rusak usai Diterjang Angin Puting Beliung
 
Sementara itu, Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin menyatakan pihaknya tengah mencari solusi untuk rumah dan pabrik yang mengalami kerusakan akibat puting beliung tersebut.
 
"Untuk rumah warga yang rusak, akan mendapatkan bantuan pemerintah dari anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) Pemkab Sumedang," ujar Bey Triadi masih dikutip dari Antara.
 
Sementara itu untuk perusahaan atau pabrik yang mengalami kerusakan, Bupati Sumedang akan berkoordinasi dengan Apindo dan sejumlah perusahaan yang terdampak.
 
Baca Juga: 2 Orang Luka-Luka akibat Angin Puting Beliung di Sumedang
 
"Status tanggap darurat akan ditetapkan untuk memperlancar usaha pembenahan tersebut, khususnya oleh Pemkab Sumedang," pungkasnya.
EDITOR: Nicolaus Ade