← Beranda

Merawat Kenangan Sekaligus Investasi dari Koran Jawa Pos: Bertarikh Makin Lawas, Semakin Mahal

Apridio Kurnia AnantaSabtu, 1 Juli 2023 | 17.58 WIB
Sudaryanto memamerkan koleksi koran-koran Jawa Pos zaman lawas.

JawaPos.com - Koran-koran edisi khusus atau spesial layak menjadi barang koleksi pribadi. Namun, di tangan Muhamad Sudaryanto, koran terbitan lama telah menghasilkan ratusan juta rupiah. 

Aktivitas grup Pasar Buku Sepak Bola di Facebook tidak sekencang grup jual beli lainnya. Misal, jual beli ponsel atau kendaraan bermotor.

Tetapi, total transaksi yang terjadi di grup itu, bagi Sudaryanto, telah menyentuh angka belasan hingga puluhan juta rupiah.

’’Saya jualan nunut (numpang, Red) di grup orang lain,’’ papar pria 56 tahun itu ketika dihubungi Jawa Pos awal pekan ini.

Meski bukan grup bikinannya, Pak Dar, sapaan Sudaryanto, termasuk senior untuk urusan gelar lapak di grup yang kini beranggota sekitar 2 ribu orang itu. Dia memiliki label sebagai top contributor.

Berdasar judul grupnya, Pak Dar menjual segala macam yang berbau sepak bola. Selain buku, juga ada majalah, tabloid, dan koran. 

Edisi lama Jawa Pos memiliki nilai lebih. Terutama ketika menyajikan liputan beberapa turnamen mayor seperti Piala Dunia dan Euro. Yang paling dicari terkait edisi ’90-an. Kala itu memang hanya media cetak yang memiliki akses berita kepada masyarakat. 

Bulan lalu Pak Dar bisa hat-trick dalam penjualan. Beberapa bundel koran Jawa Pos edisi Piala Dunia 1998, Euro 2000, dan Piala Dunia 2002 ditebus orang.

Jawa Pos memang memiliki ’’tradisi’’ untuk selalu menyajikan liputan turnamen mayor secara lengkap sebulan penuh. Juga mengirim wartawan dan fotografer ke venue terkait. 

Tetapi, yang dijual pria berdomisili di Cilacap itu tidak lengkap per bulan. Melainkan hanya 24 edisi. Perinciannya, 14 edisi untuk Piala Dunia 1998, 4 edisi Euro 2000, dan 6 edisi Euro 2002.

Pak Dar mendapatkan Rp 400 ribu dari penjualan 24 edisi tersebut. Nominalnya bisa berkali-kali lipat jika Sudaryanto memiliki tiap edisi dari tiga ajang itu. 

’’Bahasa Jawa Pos yang lugas juga memudahkan untuk dibaca. Selain itu, untuk sepak bola, selalu istimewa dan lengkap,’’ papar Pak Dar.

Meski terkesan sudah berpengalaman, sebenarnya awal mula Pak Dar melapak koran, majalah, dan tabloid baru enam tahun silam. Itu pun bisa dibilang tidak sengaja.

Berawal ketika dia mengunggah foto profil mantan kiper timnas Indonesia Ronny Pasla juga di grup Facebook MEMORI PERSERIKATAN, GALATAMA, & LIGA INDONESIA. 

Kala itu, ada orang yang mengirim pesan pribadi ke Pak Dar. Intinya, ingin memiliki poster Pasla yang berasal dari majalah MIDI 1974. Meski awalnya kukuh enggan melepas, Pak Dar akhirnya luluh. Poster Pasla terjual di angka Rp 350 ribu.

Sontak, insting bisnisnya jalan. Dia kemudian berinisiatif untuk serius jual buku bekas, terutama yang berbau sepak bola. Selain menjual beberapa koleksinya sejak muda, Pak Dar juga rajin hunting.

Bahkan, menurut dia, sirkulasi pendapatan dari jual beli buku bekas lebih cepat daripada bisnisnya di gula merah. Pak Dar sampai menyiapkan ruangan khusus semacam perpustakaan untuk menyimpan barang dagangannya. Barang jualannya saat ini jika ditimbang menyentuh bobot 1 ton.

Beberapa waktu lalu bahkan sempat di angka 2,5 ton. ’’Tabloid Kompetisi (produk Jawa Pos, Red) juga banyak dicari. Jarang ada. Sekarang saya hanya punya tiga edisi,’’ ujar Pak Dar.

Salah satu koleksi koran Jawa Pos Pak Dar yang paling berharga adalah edisi 1983. Dia mengaku belum akan dilepas. Atau, setidaknya butuh harga lumayan tinggi untuk meluluhkan hatinya seperti poster Pasla.

Selain itu, juga ada liputan ketika tsunami menghantam Aceh pada 2004. Kondisinya masih cukup terawat. Sama seperti edisi 1983, harganya bisa melambung untuk menebusnya. 

EDITOR: Candra Kurnia Harinanto