← Beranda

JoJo’s Bizarre Adventure Part 6: Stone Ocean Disebut Punya Ending Terbaik di Dunia Anime

Muhammad Arlingga KusumaSelasa, 6 Mei 2025 | 04.21 WIB
Araki memberikan keluarga Joestar ending yang memuaskan dengan mengakhiri rivalitas mereka dengan Dio. (screenrant.com)

JawaPos.com - Jojo’s Bizarre Adventure: Stone Ocean memang memiliki beberapa kekurangan, tetapi ending-nya adalah salah satu kekuatan utamanya.

Di antara semua part Jojo, Stone Ocean sering menjadi topik perdebatan sengit di kalangan penggemar. Beberapa setuju dalam keputusannya mengambil arah yang tidak terduga, sementara yang lain merasa kecewa terhadap keputusan-keputusan besar yang diambil dalam ending cerita ini.

Namun, di balik semua itu, Stone Ocean menampilkan salah satu penutup cerita yang paling berani dan emosional dalam sejarah anime. Dengan mematahkan pola lama yang sudah melekat pada seri ini, Araki memberikan ending yang sangat mengejutkan. 

Mengutip screenrant.com, ending dari Jojo’s Bizarre Adventure: Stone Ocean dikenal sebagai bagian yang paling kontroversial dalam seri Jojo. Hal ini terjadi karena dua alasan, Jolyne tidak mengalahkan musuh utama secara langsung, dan semesta Jojo di-reset sepenuhnya, mengakhiri garis keturunan Joestar. Banyak penggemar mempertanyakan keputusan ini, tapi banyak yang setuju bahwa keputusan ini adalah langkah brilian yang menandai transisi besar dalam seri. 

Salah satu hal yang paling mencolok dari Stone Ocean adalah bagaimana karakter Jolyne berkembang. Tidak seperti Joestar sebelumnya yang cenderung memiliki sifat heroik, Jolyne justru memulai kisahnya sebagai anak berandalan yang menjadi narapidana atas kejahatan yang tak ia lakukan. Namun, alih-alih menyerah, Jolyne justru bangkit dan menjadi karakter yang paling kuat secara emosional di antara semua Joestar. 

Dalam perjalanannya, Jolyne membentuk ikatan kuat dengan rekan-rekannya. Yang di mana hubungan ini akan menjadi penting karena pada akhirnya, bukan Jolyne yang mengalahkan Enrico Pucci, melainkan Emporio. Jolyne rela mengorbankan dirinya demi memberi kesempatan pada temannya untuk menyelamatkan dunia dan membunuh Pucci. Ini menunjukkan perubahan besar pada karakter Jolyne yang awalnya egois menjadi pahlawan sejati. 

Akhir cerita ini sangatlah berbeda dari formula khas Jojo, di mana protagonis utama selalu menghancurkan musuh terakhir. Alih-alih menjadi sosok penentu, Jolyne memilih menyerahkan tanggung jawab itu kepada generasi berikutnya. Konsep "passing the torch" ini menambah kedalaman emosional dan menjadikan akhir Stone Ocean terasa lebih manusiawi dan berani.

Keputusan Araki untuk mereset dunia Jojo juga menuai pro dan kontra. Banyak penggemar bersedih karena garis keturunan Joestar dihapuskan, tetapi langkah ini memberi Araki ruang untuk merancang dunia dan karakter baru dengan lebih bebas. Hasilnya, part 7 Steel Ball Run menjadi salah satu manga Jojo terbaik bagi kebanyakan penggemar. 

Pertarungan terakhir antara Jolyne dan Pucci juga mengandung momen-momen yang tidak terlupakan. Sebelum Pucci mendapatkan kekuatan terakhirnya, Jotaro yang selama ini dikenal selalu bertindak dengan presisi, gagal membunuh Pucci karena kesalahan lemparan.

Saat Pucci mendapatkan kemampuan Made in Heaven yang dapat mempercepat waktu dan dirinya, kemampuan Jotaro untuk memberhentikan waktu menjadi lebih singkat yang membuat pertarungan jadi lebih sengit.

Setelah itu, saat para JoBro menjalankan rencananya untuk melawan Pucci, Jotaro, selagi ayahnya Jolyne Kujo, mendapatkan pilihan terakhir antara membunuh Pucci atau menyelamatkan putrinya, yang membuat dia teriak seperti seorang ayah yang kesulitan, di mana hal ini merupakan pertama kalinya kita melihat Jotaro menunjukan emosi itu. 

Baca Juga: 4 Momen Paling Konyol dalam JoJo's Bizarre Adventure, Tingkahnya Banyak yang Absurd!

Lalu, juga ada momen di mana Jolyne mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Emporio. Emporio selagi masih kecil, menangis melihat teman-temannya yang mati. Setelah berhasil membunuh para Jojo dan kru-nya, Pucci akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya untuk mereset dunia. Namun, hal ini dibatalkan oleh Emporio yang mendapatkan disc stand milik Weather Report, yang membuat oksigen di area menjadi 100% membunuh Pucci.

Akhirnya, reset dunia pun tetap terjadi namun kali ini tanpa pengaruh Pucci, dan kita melihat Jolyne dan para kru-nya bertemu dengan Emporio lagi. Namun, mereka bukanlah Jolyne yang kita kenal, melainkan Jolyne yang terlahir di dunia baru, dunia yang bersih dari konflik dan pengaruh jahat Pucci.

Dalam versi ini, mereka hidup tanpa beban takdir yang menimpa mereka di dunia sebelumnya. Nama-nama mereka pun berbeda, namun esensi dan ikatan mereka tetap terasa kuat. Ini menjadi penutup yang emosional dan simbolis: meski perjuangan mereka berakhir dengan pengorbanan, harapan tetap hidup dalam bentuk kesempatan kedua yang lebih damai. 

Ending anime ini bukanlah happy ending maupun sad ending, melainkan sebuah bittersweet ending. Meskipun sang antagonis, Pucci, gagal menjalankan rencananya untuk menciptakan dunia baru sesuai visinya, para karakter utama seperti Jolyne dan Jotaro tetap harus mengorbankan nyawa mereka demi menghentikannya.

Dunia memang berhasil di-reset menjadi tempat yang lebih damai tanpa pengaruh Pucci, tetapi versi asli dari para tokoh yang telah kita kenal dan ikuti sepanjang cerita tidak lagi ada. Meski demikian, penonton disuguhkan harapan melalui versi baru dari Jolyne dan kawan-kawan yang hidup dengan takdir berbeda.

Ending ini dianggap salah satu yang terbaik oleh banyak penggemar anime, karena menawarkan penutup yang emosional, bermakna, dan menyisakan kesan mendalam tentang pengorbanan, harapan, dan kesempatan kedua.

(*)

 

EDITOR: Siti Nur Qasanah