JP Bogor - Dalam dunia anime, genre horor atau thriller psikologis memang bukan genre yang populer dibandingkan genre lainnya seperti isekai, romance, dan lainnya. Pasalnya, banyak penonton yang lebih suka horor dalam bentuk film live action daripada anime. Meski begitu, bagi para penggemar horor, ada banyak sekali judul anime horor berkualitas yang layak mendapatkan perhatian lebih dari para penggemar.
Anime horor memang umumnya menakutkan, tetapi tidak selalu menjadi aspek utamanya. Ada kalanya, anime horor justru lebih mengganggu secara mental daripada menakutkan, meninggalkan rasa tidak nyaman yang bertahan lama jika menontonnya. Anime dengan nuansa seperti ini memang jarang ada, tapi justru karena itu mereka patut mendapat penghargaan lebih karena tidak hanya mengandalkan rasa takut semata.
Maka dari itu, mengutip cbr.com, berikut 4 anime horor yang lebih mengganggu mental daripada menakutkan:
1. Made In Abyss
Made In Abyss, karya Akihito Tsukushi dan diproduksi oleh Kinema Citrus, berkisah tentang seorang gadis yatim piatu bernama Riko yang tinggal di sebuah kota yang mengelilingi sebuah lubang raksasa bernama Abyss. Riko sangat ingin menjelajahi Abyss seperti ibunya. Kesempatannya akhirnya terbuka setelah ia bertemu dengan sebuah robot laki-laki. Namun, perjalanan ke dalam Abyss bukanlah petualangan yang mudah, bahkan bisa dibilang bukan sesuatu yang layak dikejar, karena realitanya yang keras menanti di dalamnya.
Anime Made In Abyss benar-benar mencengkeram para penontonnya dan tidak melepaskan, menanamkan rasa takut eksistensial yang sulit dilupakan. Serial ini menghadirkan adegan-adegan kekerasan yang sangat mengganggu penonton, dibalut dengan pembangunan dunia dan pengembangan karakter yang kuat. Anime ini berhasil membuat penonton merasa tidak nyaman dengan nasib tokoh-tokohnya, membuat kamu bertanya-tanya: siapa yang akan mati selanjutnya?
2. Happy Sugar Life
Ditulis oleh Tomiyaki Kagisora dan diadaptasi oleh Ezola, Happy Sugar Life berpusat pada kisah Sato Matsuzaka, yang berteman dengan seorang gadis bernama Shio. Shio menjadi sangat terikat pada Sato dan bersumpah akan melakukan apa saja, termasuk kejahatan dan tindakan ekstrem, demi melindungi cintanya kepada Sato. Seiring waktu, tindakan Shio semakin drastis, membuat seri ini semakin intens dalam menghadirkan horor psikologis.
Happy Sugar Life mencapai puncak kengerian psikologisnya saat membuat penonton mempertanyakan moralitas, keyakinan, dan pandangan mereka terhadap karakter-karakternya. Semakin ceritanya berkembang, kemungkinan penonton mulai bertanya-tanya mengapa mereka sempat mendukung Shio, dengan tindakannya yang seperti itu. Namun pada akhirnya, Happy Sugar Life berhasil menyampaikan kisah yang mengerikan sekaligus menjadi refleksi kelam terhadap kecenderungan terburuk dalam diri manusia.
3. Higurashi: When They Cry
Higurashi: When They Cry diproduksi oleh Studio Deen dan disutradarai oleh Chiaki Kon. Anime ini merupakan adaptasi dari visual novel misteri pembunuhan yang dirilis pada tahun 2002, dan mengikuti kisah sekelompok teman masa kecil yang mengalami serangkaian peristiwa aneh di desa Hinamizawa.
Setiap arc dalam anime ini dikenal sebagai sajian horor yang sangat dihargai, adegannya terasa brutal dan sulit untuk disaksikan. Banyak yang menggagapnya sebagai salah satu anime paling sadis era 2000-an. Bagi penonton yang mampu bertahan menghadapi kekejamannya, Higurashi: When They Cry menawarkan pengalaman horor yang benar-benar berbeda dan tak terlupakan.
Baca Juga: Urutan Nonton Anime Black Butler yang Tepat: Fokus pada Cerita Canon dan Hindari Filler!
4. Elfen Lied
Elfen Lied ditulis oleh Lynn Okamoto dan diadaptasi menjadi anime oleh Studio Arms. Elfen Lied dikenal ikonis sekaligus tidak cocok untuk penonton yang sensitif, karena anime ini mengangkat tema-tema berat seperti diskriminasi, keterasingan sosial, prasangka, balas dendam, kekerasan berdarah, kecemburuan, dan mempertanyakan nilai kemanusiaan itu sendiri. Serial ini bersifat transgresif dan brutal, membuatnya sulit ditonton bagi sebagian orang.
Cerita Elfen Lied berlatar di Kamakura dan Kanagawa, berfokus pada ras baru bernama "Diclonius," makhluk mutan yang mirip manusia tetapi memiliki sejumlah perbedaan. Tokoh utama, Lucy, menjadi objek eksperimen kejam, namun ia berhasil melarikan diri, meski mengalami cedera parah hingga mengembangkan kepribadian kedua bernama Nyu. Lucy kemudian tinggal bersama dua penduduk lokal, Kouta dan Yuka, dan mereka harus berjuang untuk bertahan hidup dari serangan brutal serta upaya penangkapan kembali terhadap Lucy. Hal ini menghasilkan salah satu perjalanan paling mengganggu sekaligus menarik dalam sejarah anime.
(*)