← Beranda

Marc Marquez Kembali Dikritik karena Tak Minta Maaf Atas Tudingan Sabotase Gelar Rossi Tahun 2015

Risma Azzah FatinMinggu, 3 Agustus 2025 | 05.31 WIB
Marc Marquez. (Instagram @marcmarquez93)

JawaPos.com – Satu dekade telah berlalu sejak kontroversi musim MotoGP 2015 yang melibatkan Marc Marquez dan Valentino Rossi, namun dampaknya masih terasa hingga kini.

Dilansir dari laman Crash pada Sabtu (2/8), Mantan pembalap MotoGP Italia, Loris Reggiani, menyampaikan pendapat tegas bahwa Marquez seharusnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada dunia balap motor dan para penggemarnya.

Pernyataan ini menyoroti dampak panjang dari konflik yang berujung pada hilangnya gelar juara dunia bagi Rossi.

Baca Juga: Lima Persaingan Terpanas MotoGP, Mulai dari Valentino Rossi Hingga Marc Marquez

Konflik antara Rossi dan Marquez memuncak setelah Grand Prix Malaysia 2015, ketika keduanya terlibat tabrakan di lintasan. Akibat insiden tersebut,

Rossi dijatuhi hukuman start dari posisi terakhir pada seri penutup di Valencia, yang membuatnya kehilangan peluang meraih gelar kesepuluhnya.

Rossi dan sebagian penggemar meyakini bahwa Marquez secara sengaja memperlambat ritme balapan di Australia demi menguntungkan Jorge Lorenzo, rival utama Rossi saat itu.

Baca Juga: Pecco Bagnaia Akui Sulit Bersaing Lawan Marc Marquez di Sisa Musim MotoGP 2025

Loris Reggiani menyatakan bahwa meskipun dirinya adalah penggemar Marquez, ia tidak bisa menutupi kekecewaannya terhadap sikap sang pembalap asal Spanyol tersebut.

Reggiani mengakui bahwa Marquez memiliki bakat luar biasa yang tidak bisa disangkal, namun dari sisi kemanusiaan, ia merasa Marquez telah kehilangan banyak hal. 

Menurut Reggiani, permintaan maaf tetap diperlukan, sekalipun sudah sepuluh tahun berlalu sejak kejadian.

Reggiani juga mengungkapkan pandangannya mengenai perebutan gelar juara musim 2015. Menurutnya, Valentino Rossi lebih pantas menjadi juara karena tampil konsisten sepanjang musim.

Reggiani menilai Jorge Lorenzo memang meraih kemenangan lebih banyak, namun memanfaatkan situasi kontroversial yang terjadi di akhir musim. 

Jika tidak ada intervensi atau insiden yang mencederai sportivitas, Reggiani meyakini Rossi bisa saja menyegel gelar di usia 36 tahun.

Hingga kini, sebagian penggemar MotoGP masih mencemooh Marquez, terutama saat seri berlangsung di Italia.

Ducati pun pernah merespons situasi tersebut ketika balapan digelar di Mugello tahun ini. Kontroversi ini membuktikan bahwa luka lama dalam dunia olahraga bisa bertahan lama jika tidak diselesaikan dengan baik.

Permintaan maaf yang disarankan Reggiani mungkin tidak mengubah hasil masa lalu, tetapi bisa menjadi langkah menuju rekonsiliasi yang lebih luas.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho