Nadin Amizah seperti meletakkan begitu saja ”rumpang”. Bukan cuma tak sekali pun menyebut judul tersebut dalam lirik lagunya, penyanyi 22 tahun itu juga tak hendak memberi rambu definitif ke arah mana sebaiknya penafsiran dilakukan.
DI Kamus Besar Bahasa Indonesia, rumpang didefinisikan sebagai kata sifat maupun benda dengan inti makna sela atau berongga. Rumpang juga bisa diartikan ”hiatus” atau ”mandek melakukan sesuatu yang biasanya rutin dilakukan”, semacam hibernasi beruang di musim dingin. Apakah Nadin bicara tentang kematian orang terkasih?
Pagi tadi aku masih menangis
Ada rasa yang tak kunjung mati
Ada seseorang di atasku
Menahan semua rasa malu
Ataukah dia bercerita tentang kepergian seseorang yang tak kunjung kembali?
Sempat ku berpikir masih bermimpi
Bertahun berlanjut tanpa henti
Kulitmu yang memudar saksinya
Tetap rasaku tak pernah hilang
Pada Nadin, saya seperti bersirobok dengan Sarah McLachlan. Dengan cita rasa folk yang kuat (meskipun belakangan Nadin lebih senang menyebut musiknya pop dan McLachlan selalu masuk kategori adult contemporary di berbagai penghargaan), vokal keduanya terasa sangat intim dengan lirik-lirik yang dekat.
Yang membetot dari Nadin memang lirik-liriknya. Banyak musisi atau band yang berusaha puitis. Tapi, penyanyi yang telah melahirkan satu album penuh itu tidak. Yang puitis dalam lagu-lagunya adalah sesuatu yang tak terelakkan, yang memang tak bisa ditanggalkan.
Ketika dia menulis saat ku tak tahu arah kau di sana//menjadi gagah saat ku tak bisa dan seperti detak jantung yang bertaut//nyawaku nyala karna denganmu pada ”Bertaut”, memang demikian besarnya peran sang bunda, untuk siapa lagu tersebut ditulis. Penghormatan yang sepuitis itu harus hadir di dalamnya karena Nadin berutang segalanya pada sang ibu yang sedari dia kecil telah menjadi orang tua tunggal.
Ada konteks di sana yang menjadikan sesuatu yang puitis sebagai bagian yang memang semestinya ada dan bukan diada-adakan. Meskipun, kita tahu, atas nama licencia poetica, diada-adakan itu sah-sah saja dilakukan siapa pun yang bergelut dalam penciptaan seni.
Tapi, Nadin, entah disengaja atau tidak, seperti berusaha menghindar dari langgam tersebut. Dia memang puitis, bermain-main dengan metafora di sana-sini, namun tidak berpretensi untuk berpuisi.
Biar aku yang mengemban cinta dalam ”Sorai” pun jadi terasa masih dalam konteks ketika sepanjang lagu si pelantun tak mengumbar kesedihan meskipun pangeran yang diidamkan batal jadi pasangan. Semacam ungkapan ”cinta tak harus memiliki”, yang tidak lantas jatuh jadi kecengengan yang berlarat-larat. Justru sesuatu yang pada akhirnya disyukuri: Mungkin akhirnya tak jadi satu//Namun bersorai pernah bertemu.
”Yogyakarta” dari KLa Project adalah contoh lain bagaimana lirik dan bagian-bagian puitis ditata sedemikian rupa sehingga Jogja hadir secara apa adanya. Dia ngangeni, tapi dia juga berselaras dengan kekangenan seseorang kepada seseorang lain.
Ini yang membedakan lirik-lirik pada Nadin dengan, misalnya, lagu-lagu di Badai Pasti Berlalu, salah satu album terbaik di sepanjang sejarah musik Indonesia. Pada ”Merpati Putih”, kita merasakan sekali Eros Djarot berpuisi sejak awal lirik.
”Merpati Putih” menjadi personifikasi seseorang atau suatu masa yang dirindukan. Eros menggunakan elemen, di antaranya, ”bunga”, ”pagi”, dan ”bintang” untuk menegaskan kekangenan pada ”hari bahagia seperti dulu”.
Dua band pengusung rock progresif, Pink Floyd dan Dream Theater, pun demikian. Semasa drumer Mike Portnoy masih bergabung di Dream Theater, dia biasa berbagi tugas dengan gitaris John Petrucci sebagai penulis lirik utama. Portnoy banyak mengulik tema kemanusiaan, Petrucci lebih sering mengupas spiritualitas.
Pada sebuah edisi publikasi Berkeley College of Music, Portnoy menyebut berpuisi memang strategi literer mereka. Itu yang membuat durasi lagu-lagu mereka jadi panjang, yang bertolak belakang dengan semangat era MTV yang rata-rata air time-nya cuma maksimal empat menit untuk tiap lagu.
Tapi, menurut Portnoy, justru itu yang membuat mereka bertahan melintas zaman. ”Because we were never fashionable (Karena kami tidak pernah mengikuti tren),” kata Portnoy.
Pilihan ”Rumpang”, ”Sorai”, dan ”Mendarah” sebagai judul karya-karyanya mungkin berada di semangat yang sama dengan Dream Theater. Diksi-diksi tersebut asing, jauh dari arus utama pemberian tajuk lagu dalam khazanah pop tanah air.
Tapi, saya kira pilihan itu bukan didasari pada kesadaran kepuitisan. Bagi Nadin, bisa jadi karena bentukan referensi bacaan atau dengarannya, memang demikianlah cara ujarannya dalam mengekspresikan sesuatu. Itulah strategi literernya.
Seperti Jamrud dengan lirik-lirik nakalnya, Efek Rumah Kaca dengan kritik-kritik sosialnya, atau Charly van Houten dengan syair-syair mendayu-dayunya. Tiap penyanyi atau band punya cara ujar, strategi kebahasaan, masing-masing dalam merespons ide yang melatari karya mereka. Referensi atau era di mana mereka berada tentu turut berperan di dalamnya.
Memasuki mayapada Nadin pun seperti memasuki taman kata-kata. Ada bunga-bunga (baca: objek, tema) yang dengan cepat kita kenali. Tapi, selalu ada pula tanaman-tanaman (baca: diksi) yang tidak pernah kita jumpai sebelumnya.
Nadin mungkin tidak memaksudkannya demikian, tapi ”Rumpang”, ”Sorai”, dan ”Mendarah” ada pada bagian yang tak dikenali itu dan pada akhirnya mewujud menjadi tawaran pengayaan. Lewat ”Sorai”, dia memberi tahu kita bahwa ada cara lain untuk memaknai kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan ketika dunia saling membantu//lihat cinta mana yang tak jadi satu. Alumnus London School of Public Relations itu juga menyajikan opsi, melalui ”Mendarah”, bahwa berpulangnya seorang terkasih bisa dituturkan lewat ini cerita tentang rumah yang berbeda//jauh hanya tersentuh dalam jarak doa.
Tak biasa, tapi tetap terasa intim. Tak ubahnya seperti ketika menyentuhi bunga-bunga di taman yang kita tidak tahu jenisnya apa. Mereka ada, hanya kita belum tahu sebelumnya.
Meskipun juga perlu diingat, di taman terindah sekalipun, selalu ada kemungkinan kita menginjak duri atau tahi kucing. Dan, jengkel karena bisa-bisanya tak tahu dari mana duri itu berasal serta kucing mana yang telah memasang ranjau.
Sebagaimana juga ketika kita tak kunjung bisa memutuskan apa maksud rumpang dalam single yang melejitkan nama Nadin tersebut. Tentang seseorang yang telah berpulangkah? Atau mengenai seseorang yang pergi dan tak kunjung kembali?
Tak mengapa. Mau menginjak duri atau tahi kucing sekalipun, toh kita selalu bisa bersenang-senang di dalam taman. (*)
---
TATANG MAHARDIKA, Jurnalis Jawa Pos