Peredaran akun bodong jasa transportasi online di Surabaya terbilang cukup banyak. Jika ditelusuri lewat penjualan di sejumlah grup Facebook dan akun Twitter, dalam sehari, mereka bisa menjual 5–10 akun. Mereka rata-rata merintis bisnis itu sejak 2015.
-------
JAWA POS sempat menghubungi sejumlah nomor yang mengaku menjual akun bodong. Dari enam nomor yang dihubungi, hanya ada satu yang merespons. Itu pun harus lewat perantara. Tampaknya, pemilik nomor melakukan screening terhadap calon pembeli. Tebang pilih.
Ada dua tipe umum dalam dunia jual-beli akun bodong. Yakni, akun bodong inject dan password. Pembelian akun bodong inject harus sepaket dengan handphone. Sementara itu, akun bodong password harus dibeli dengan cara COD (cash on delivery) alias temu muka langsung. Pembeli akan bertatap muka dengan si peretas untuk mengoprek handphone.
Selain itu, ada penjual akun bodong yang ”bermukim” di dunia riil. Bak pedagang pasar, mereka membuka lapak di sejumlah tempat. Mulai warung kopi hingga tempat kos tertentu. Dengan mengontak seorang sumber internal yang bekerja di beberapa aplikasi jasa transportasi online, Jawa Pos mendapat kabar bahwa ada satu penjual akun bodong yang rutin membuka lapak di kawasan Surabaya Barat. Tetapi, dia hanya berjualan pada jam tertentu.
Penjual akun bodong itu biasa dipanggil Mas Nyong. Sekalipun sumber itu sering bertemu dengan Mas Nyong, dia tidak tahu nama aslinya. ”Pernah tanya, tapi nggak dijawab. Yang penting akrab,” ujarnya.
Mas Nyong biasa cangkruk di sebuah warung kopi di sisi utara Jalan Raya Menganti. Tampilannya sekilas memang tampak biasa saja. Mengenakan kaus oblong biru dongker dan celana kain hitam agak komprang, Mas Nyong tampak santai dengan satu kaki kiri yang naik di atas kursi.
Sebatang rokok yang menyala diselipkan di sela-sela jari tangan kirinya. Dia asyik mengobrol dengan dua pria. Beberapa kali perbincangan mereka pecah dengan tawa yang keras.
Belakangan diketahui, dua teman mengobrolnya itu adalah driver ojek online. Mereka mengenakan jaket GoJek dan Uber sesaat sebelum pulang setelah hampir dua jam berbincang dengan Mas Nyong. Tampaknya, mereka hanya singgah sesaat di warung tersebut sebelum bekerja lagi.
Jawa Pos mengamati aktivitas pria berusia 28 tahun itu, Selasa (17/10) sekitar pukul 21.00. Di atas meja warung kopi yang berwarna merah itu, ada enam handphone yang diletakkan berjajar. Dia menjualnya. ’’Di dalamnya ada aplikasi akun bodong,” kata sumber yang mewanti-wanti namanya tidak disebutkan itu.
Mas Nyong adalah penjual akun bodong inject. Dia menjual akun beserta handphone yang sudah direkayasa sedemikian rupa agar pembelinya bisa langsung menjalankan aplikasi. Harga yang dibanderol berkisar Rp 1,3–2 juta. Bergantung pada spesifikasi handphone yang dibeli.
Pria yang selalu mengenakan topi krem itu juga melayani sejumlah jasa rekayasa sistem agar handphone pelanggannya bisa dipasangi akun bodong. Dia biasa mangkal di warung kopi berukuran 7 x 10 meter itu sejak pukul 18.00 hingga pukul 00.00. Harinya tak tentu.
Selasa malam (24/10), Jawa Pos bertemu dengan dua pembeli akun bodong. Prima Fifin Fitrianto dan Rahmadi. Kendati banyak opsi aplikasi, mereka memilih membeli akun bodong GoJek. Alasannya, perusahaan yang identik dengan jaket hijau itu lebih banyak menerima order pelanggan daripada aplikasi lain.
Prima membeli akun hasil retasan itu pada awal 2017. Dia bertemu dengan seorang hacker yang dikenal dengan nama samaran Arians di sebuah warung kopi di kawasan Ketintang, Gayungan. Pria 25 tahun itu mendapatkan nomor kontak sang hacker setelah berselancar di sejumlah grup Facebook tertutup di kalangan driver ojek online. ’’Jualnya blak-blakan di grup,” katanya.
Setelah bersepakat di chat WhatsApp, Arians menentukan lokasi pertemuan. Dalam berbisnis, dia menggunakan sistem COD. Hacker itu bertemu Prima sekitar pukul 16.00. Prima tidak tahu Arians datang dari arah mana dan menggunakan kendaraan apa. Pasalnya, dia datang lebih dahulu dan nyanggong di warung kopi. Saat pulang pun, Arians menunggu Prima meninggalkan lokasi lebih dahulu. ’’Mungkin dia hati-hati,” ujar Prima.
Arians membanderol akun bodong GoJek itu Rp 350 ribu. Akun tersebut memiliki identitas lengkap. Mulai foto profil, nomor telepon, serta jenis dan nopol kendaraan. Hacker bersandal jepit itu tidak membawa laptop saat bertemu Prima. Setelah mahar dibayarkan, Arians lantas meminjam handphone Prima untuk dioprek. Sekitar 10 menit kemudian, di dalam handphone Xiaomi Redmi Mi 5 itu sudah terpasang akun bodong. Di kalangan driver, akun itu kerap disebut sebagai tuyul. Tersembunyi. Tak terlihat. Tapi, menghasilkan duit nyata.
Cara penggunaannya sama saja dengan akun driver resmi. Namun, saat mengontak pelanggan, Prima harus menggunakan nomor lain. Arians terbilang blak-blakan. Dia sempat menawari Prima untuk kursus pembajakan akun. Sebulan dijamin mahir. Harganya Rp 600 ribu. ’’Dia bisa semuanya. Mau yang ojek motor sampai yang taksi online bisa dia bobol,” jelasnya.
Sejatinya, Prima tidak berniat untuk memanfaatkan akun bodong itu secara penuh. Toh, dia sudah terdaftar sebagai driver GoJek sejak akhir Desember 2016. ’’Saya pengin tahu cara kerjanya gimana, apa beneran bisa nyerobot order,” ungkapnya.
Pendiri Komunitas Bikers Ojek Online Indonesia (Kobooi) itu lantas mencobanya bersama beberapa rekan. Setelah aktif selama dua menit, orderan langsung masuk. Pelanggan yang dia jemput juga tidak curiga lantaran wajah dan nopol Prima yang berbeda. ’’Saya antar pelanggannya ke tujuan. Lancar saja. Di akhir baru kita coba main nakal,” ujarnya.
Kala itu, Prima menjajal akun bodong itu bersama tiga kawannya yang terus membuntuti saat Prima menerima order. Selesai mengantar, pria kelahiran Ponorogo tersebut coba tak menuruti perintah penyelesaian pengantaran pelanggan di aplikasi. Dia malah menekan opsi cancel order.
Ting! Sebuah notifikasi muncul di layar handphone. Order yang sebenarnya sudah diselesaikan itu pun meloncat ke handphone rekannya. Dengan demikian, ponsel sang kawan hanya menerima notifikasi pembatalan order. ’’Ini namanya kena kotoran burung. Menclok wis,” jelas Prima, lalu terkekeh.
Dua kali dia mengobservasi cara kerja akun bodong tersebut bersama tiga kawannya. Hasilnya, pengemudi sangat dirugikan jika ada aktivitas ’’kotoran burung” seperti itu. Mereka bisa kena penalti dan pengurangan performa lantaran dianggap tidak mau menjemput pelanggan.
Setelah puas menjajal akun bodong itu, Prima tidak pernah lagi mencobanya. Seluruh data pendukung di handphone-nya segera di-reset untuk menghapus aplikasi tersebut. ’’Namanya juga penasaran. Kalau sudah tahu gini, ya jadi pembelajaran,” ungkapnya.
Prima yang juga mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas swasta di Surabaya itu mengatakan, tingkat risiko paling tinggi justru bisa diderita pelanggan. Dia mengkhawatirkan peluang kriminalitas yang bisa terjadi. ”Misalnya, driver berakun bodong ini hanya mengincar pelanggan perempuan, gimana coba?” katanya.
Selain itu, para pengemudi ilegal tersebut bisa membawa lari pesanan pelanggan. Barang yang sejatinya harus dikirimkan bisa dibajak di tengah jalan. Hilang tak berbekas. Rahmadi punya kisah yang berbeda. Dia terpaksa membeli akun bodong itu lantaran akunnya ter-suspend. Pria 30 tahun tersebut mengaku kena penalti lantaran menolak sejumlah order pelanggan.
Dia membeli akun itu dari seorang kenalannya. Pria yang akrab disapa Adi tersebut tidak pernah bertatap muka langsung dengan penjual akun bodong itu. ”Nggak tahu siapa yang jual, handphone-nya saya titipkan ke temen,” katanya.
Rahmadi menebus akun bodong itu dengan harga Rp 150 ribu. Dia membelinya dua pekan lalu. Yang dia sesalkan, akun bodong tersebut tidak bisa menerima pembayaran via Go-Pay. ’’Ya, kan saya nggak tahu. Akhirnya, ya cari yang cash aja,” ujarnya.
Menurut Prima, kasus yang dialami Rahmadi jadi lecutan awal para driver untuk membeli akun bodong. Para pembeli akun bodong biasanya pemilik akun asli yang sedang digantung (suspend).
Dalam kondisi suspend, driver terpaksa berhenti bekerja. Seluruh order tidak akan singgah ke handphone-nya. Tahapnya berjenjang. Pembekuan sementara itu terjadi dalam hitungan menit hingga diputus kontrak. ’’Tergantung kesalahannya,” tandas Prima.