← Beranda

Pola Makan Sehat Tidak Harus Mahal, Ini 7 Trik Cerdas Menghemat Biaya Belanja

Mega AmeliaKamis, 25 September 2025 | 23.22 WIB
Ilustrasi makanan sehat (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Banyak orang menganggap bahwa menjalani pola makan sehat berarti harus mengeluarkan biaya lebih besar. Gambaran tentang buah impor, superfood yang mahal, atau produk organik dengan label premium sering kali membuat pola makan sehat terkesan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang punya anggaran lebih. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.

Pola makan sehat justru bisa diatur agar lebih hemat, asalkan ada strategi perencanaan yang tepat. Dengan memahami cara memilih bahan makanan, mengolah, serta menyimpannya, kebutuhan gizi bisa tetap terpenuhi tanpa membuat dompet kering.

Sebuah studi dari National Library of Medicine (PMC, 2021) menemukan bahwa pola makan sehat dan berkelanjutan tidak selalu mahal. Bahkan di beberapa kasus, biaya yang dikeluarkan untuk makanan sehat lebih rendah dibandingkan pola makan konvensional. Salah satu alasannya adalah karena pola makan sehat dapat mengurangi limbah makanan dan biaya kesehatan di masa depan.

Hal ini sejalan dengan pandangan Kementerian Kesehatan RI. Dalam salah satu artikelnya, Kemenkes menekankan bahwa mengatur pola makan sehat di tengah rutinitas padat tetap bisa dilakukan, asalkan ada perencanaan yang matang dan disiplin dalam pelaksanaannya. Dengan kata lain, sehat itu tidak harus mahal, tapi membutuhkan strategi cerdas.

1. Perencanaan Jadi Kunci Utama

Langkah pertama yang sering diremehkan adalah perencanaan. Banyak orang belanja bahan makanan tanpa daftar, akhirnya membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Hasilnya, uang keluar lebih banyak dan makanan justru terbuang.

Membuat rencana menu mingguan bisa menjadi solusi. Dengan cara ini, belanja lebih terarah, bahan makanan bisa dipakai secara maksimal, dan risiko pemborosan berkurang. Bahkan, variasi nutrisi juga bisa lebih terjamin.

Misalnya, dengan merencanakan sarapan sederhana berupa oatmeal dengan topping buah lokal, makan siang berisi nasi merah dengan lauk tempe, dan makan malam sup sayuran, kebutuhan serat, protein, dan energi bisa tercukupi tanpa harus membeli menu mahal.

2. Pilih Bahan Pangan Lokal dan Musiman

Bahan makanan lokal sering kali jauh lebih ramah di kantong dibanding produk impor. Sayur mayur yang dipanen di musimnya biasanya memiliki harga lebih murah sekaligus kualitas terbaik.

Contoh sederhana, pepaya, bayam, atau kangkung lokal tidak kalah bergizi dibandingkan buah beri impor yang mahal. Bahkan, kadar vitamin dan mineralnya bisa lebih tinggi karena lebih segar dan minim proses distribusi panjang.

Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya memanfaatkan pangan lokal sebagai bagian dari pola makan sehat. Selain hemat, hal ini juga mendukung petani lokal dan ketahanan pangan nasional.

3. Masak Sendiri Lebih Hemat

Makan di luar memang praktis, tapi sering kali membuat pengeluaran membengkak. Satu kali makan di restoran bisa setara dengan biaya makan dua hari jika dimasak sendiri di rumah. Dengan memasak sendiri, takaran bahan bisa diatur sesuai kebutuhan. Kita juga bisa lebih leluasa memilih cara memasak yang sehat, misalnya mengurangi minyak, garam, atau gula.

Selain hemat, memasak di rumah juga memberi kepuasan tersendiri. Ada kontrol penuh atas kualitas makanan yang masuk ke tubuh, dan kita bisa mengkreasikan resep sesuai selera keluarga.

4. Protein Tidak Harus Mahal

Banyak orang beranggapan bahwa sumber protein utama hanyalah daging merah atau ikan mahal. Padahal, protein bisa didapat dari bahan sederhana seperti tempe, tahu, telur, atau kacang-kacangan.

Tempe misalnya, dikenal sebagai superfood lokal yang kaya protein, probiotik, serta ramah di kantong. Begitu juga telur, yang praktis diolah menjadi berbagai menu bergizi. Mengkombinasikan berbagai sumber protein ini bisa menjaga kebutuhan gizi tetap seimbang, sekaligus menekan pengeluaran.

5. Kurangi Pemborosan Makanan

Salah satu alasan pola makan sehat dianggap mahal adalah karena banyak makanan yang akhirnya terbuang. Misalnya, membeli buah atau sayuran dalam jumlah banyak tetapi tidak segera dikonsumsi sehingga cepat busuk.

Studi di PMC menyoroti pentingnya mengurangi limbah makanan sebagai langkah hemat sekaligus mendukung pola makan berkelanjutan. Menyimpan bahan dengan benar, memanfaatkan freezer, atau mengolah sisa makanan menjadi menu baru adalah trik sederhana yang bisa dilakukan.

Contoh, sisa sayuran bisa dijadikan sup, kulit pisang bisa diolah menjadi keripik, dan nasi sisa bisa dibuat nasi goreng sehat dengan tambahan sayuran.

6. Belanja Cerdas dengan Daftar dan Diskon

Tips lain yang efektif adalah selalu membawa daftar belanja. Tanpa daftar, kita mudah tergoda membeli makanan instan atau camilan yang tidak direncanakan.

Selain itu, manfaatkan promo atau diskon untuk bahan makanan pokok. Namun, pastikan membeli sesuai kebutuhan, bukan sekadar karena murah. Belanja di pasar tradisional juga sering lebih hemat dibanding supermarket besar, terutama untuk bahan segar seperti sayuran, buah, dan bumbu dapur.

7. Porsi Seimbang

Pola makan sehat bukan hanya soal bahan, tapi juga soal porsi. Makan berlebihan, meskipun dari makanan sehat, tetap bisa menguras kantong dan berisiko bagi kesehatan.

Menurut Kemenkes, porsi seimbang adalah kunci menjaga pola makan sehat. Dengan prinsip "isi piringku", sepertiga porsi untuk karbohidrat, sepertiga untuk sayur dan buah, serta sepertiga untuk lauk berprotein. Dengan porsi yang tepat, makanan lebih hemat, tubuh lebih sehat, dan risiko obesitas bisa dikurangi.

8. Edukasi dan Konsistensi

Menjalani pola makan sehat dengan budget hemat bukan sekadar soal trik belanja atau memasak, tetapi juga soal konsistensi. Membiasakan diri memilih air putih dibanding minuman manis, membawa bekal sendiri, atau mengurangi jajan di luar adalah langkah kecil yang bila dilakukan terus-menerus memberi dampak besar.

Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa mengelola pola makan sehat membutuhkan komitmen. Bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga investasi jangka panjang dalam kualitas hidup. Pola makan sehat tidak harus identik dengan biaya tinggi. Dengan strategi perencanaan, pemilihan bahan lokal, memasak sendiri, serta mengurangi pemborosan, biaya makan bisa ditekan tanpa mengorbankan gizi.

Seperti yang ditekankan dalam studi PMC, pola makan sehat dan berkelanjutan bisa lebih hemat dibandingkan pola makan saat ini, terutama jika memperhitungkan aspek pengurangan limbah. Begitu juga panduan Kemenkes yang menegaskan bahwa pola makan sehat tetap bisa dijalankan meski rutinitas padat, selama ada manajemen waktu dan pilihan yang tepat.

Mulailah dari langkah sederhana: susun menu mingguan, pilih bahan lokal, dan masak sendiri. Pola makan sehat bukan sekadar tentang apa yang dimakan, tapi bagaimana cara mengelola anggaran dengan cerdas. Dengan begitu, tubuh tetap sehat, dompet pun aman.

EDITOR: Candra Mega Sari