JawaPos.com – Fenomena budaya digital 2025 kembali diwarnai istilah baru yang kini populer di kalangan Gen Z dan Gen Alpha: Performative Male.
Istilah ini digunakan secara satir untuk menyindir pria yang dianggap menampilkan hobi, gaya hidup, atau selera tertentu bukan karena ketertarikan autentik, melainkan demi membentuk citra diri yang menarik perhatian, terutama dari perempuan.
Dilansir dari laman Know Your Meme, Selasa (5/8/2025), istilah ini menjadi bentuk kritik terhadap pria yang seolah-olah sedang 'berakting' dalam kehidupan sosial mereka, mulai dari memilih minuman matcha, mendengarkan musik indie, hingga membawa tote bag kanvas.
Semua itu dinilai sebagai upaya performatif untuk tampak sensitif, intelektual, atau estetis—tanpa benar-benar mencerminkan diri mereka yang sesungguhnya.
Apa Arti ‘Performative Male’?
Secara umum, “Performative Male” merujuk pada pria yang tindak-tanduknya terlihat tidak autentik, karena terlalu berorientasi pada pencitraan.
Kata 'performative' sendiri telah lama digunakan di internet untuk menyindir aksi yang dianggap palsu, seperti dalam 'performative activism' di ranah politik.
Namun, belakangan istilah ini mengalami pergeseran makna, khususnya di media sosial, menjadi label bagi pria yang dinilai “pura-pura” menyukai hal-hal yang identik dengan selera perempuan masa kini.
Ciri-Ciri ‘Performative Male’ Menurut Meme yang Viral Belakangan Ini
Warganet menyusun berbagai karakteristik yang dianggap mencerminkan sosok pria 'performatif.'
Beberapa di antaranya termasuk kebiasaan minum latte matcha, yang populer berkat tren “I’m a Matcha Guy Now,” serta kegemaran mengoleksi boneka Labubu yang menjadi bagian dari demam konsumerisme tahun 2025.
Selain itu, pria yang mendengarkan musik indie juga sering menjadi sasaran sindiran, terutama sejak viralnya cuitan yang menyindir banyaknya pria performatif di X (dulunya Twitter).
Penggunaan tote bag sebagai aksesori fashion juga dinilai terlalu dibuat-buat dan menjadi penanda pria performatif.
Tak ketinggalan, kebiasaan membaca buku di tempat umum—khususnya buku bertema feminis—sering disebut sebagai bentuk performative reading karena dianggap lebih bertujuan membentuk citra daripada karena minat asli.
Asal Usul Meme dan Viralitasnya
Tidak ada satu unggahan viral yang secara pasti menjadi pemicu tren ini. Namun, akun TikTok @theslappablejerk tercatat sebagai salah satu kreator awal yang membuat sketsa tentang pria 'performatif.'
Cuitan dari akun X @highslip pada Desember 2024 turut memopulerkan istilah ini. Ia menulis, "Kamu selalu bisa tahu saat kumis seorang pria hanya sebatas penampilan, bukan cerminan jati dirinya." Cuitan tersebut telah dilihat lebih dari 4,6 juta kali dan menjadi template meme yang viral di TikTok.
Sementara itu, tren minuman matcha, boneka Labubu, dan cokelat Dubai mulai meroket pada Mei 2025. Gabungan tiga kata itu—Labubu Matcha Dubai Chocolate—kemudian menjadi bahan olok-olok baru yang menggambarkan betapa cepatnya tren konsumsi bergeser dan diadopsi secara massal tanpa landasan personal
Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial bukan hanya tempat ekspresi diri, tetapi juga ruang kritik atas pencitraan semu. Dalam era algoritma, keaslian kini kian sulit dibedakan dari performa.
***