← Beranda

Orang yang Hangat pada Teman Tapi Dingin pada Saudara Biasanya Punya 7 Pengalaman Ini Saat Kecil, Kata Psikologi

Mohammad Maulana IqbalJumat, 28 Februari 2025 | 22.33 WIB
Pengalaman saat kecil yang jadikan orang hangat pada teman tapi dingin pada saudara sendiri menurut psikologi. (Freepik/ tirachardz)

 

JawaPos.com – Sebagian orang bisa terlihat begitu hangat dan akrab dengan teman, tetapi justru bersikap dingin atau menjaga jarak dengan saudara kandung.

Fenomena ini sering kali berakar pada pengalaman masa kecil yang membentuk pola hubungan mereka.

Menurut psikologi, faktor seperti pola asuh orang tua, dinamika keluarga, dan pengalaman emosional di masa kecil bisa menjadi alasan mengapa seseorang lebih mudah menjalin kedekatan dengan orang di luar keluarganya daripada dengan saudara sendiri.

Dilansir dari geediting.com pada Jumat (28/2), diterangkan bahwa terdapat tujuh pengalaman masa kecil yang menjadikan seseorang hangat kepada teman tapi dingin dengan saudara sendiri menurut psikologi.

  1. Fenomena terbayang-bayangi atau mendominasi

Salah satu penyebab utama seseorang bersikap hangat terhadap teman namun dingin kepada saudara kandung adalah pengalaman masa kecil ketika mereka merasa terbayang-bayangi oleh prestasi saudara mereka.

Bayangkan ketika seorang adik memiliki kakak yang selalu mendapat nilai sempurna atau menjadi atlet berbakat, sehingga perhatian dan pujian orangtua lebih banyak tertuju pada kakak tersebut.

Perasaan “tidak terlihat” atau “kurang berharga” ini dapat menumbuhkan rasa iri dan kesenjangan emosional yang terbawa hingga dewasa. Bahkan ketika sudah dewasa, bertemu dengan saudara kandung bisa memicu kembali perasaan lama tentang ketidakcukupan atau sebaliknya, rasa bersalah karena menjadi pihak yang mendominasi.

  1. Persaingan mendapatkan perhatian

Ketika anak-anak harus bersaing untuk mendapatkan waktu dan perhatian orangtua, hubungan antar saudara kandung cenderung menjadi bernuansa permusuhan. Setiap anak berusaha menonjolkan diri atau menyingkirkan yang lain untuk diperhatikan.

Pola kompetisi ini sering berlanjut hingga dewasa, dimana setiap interaksi dengan saudara kandung terasa seperti pertarungan kekuasaan yang halus. Para psikolog menyatakan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam situasi harus bersaing untuk mendapatkan perhatian orangtua sering mengembangkan kepekaan tinggi terhadap penerimaan dan persetujuan.

  1. Terpaksa mengemban tanggung jawab dewasa terlalu dini

Beberapa anak terpaksa mengambil peran sebagai orangtua kedua sebelum mereka siap. Mereka mungkin diminta untuk mengawasi adik-adik, memasak, atau mengelola konflik di rumah. Meskipun terdengar mulia, kondisi ini dapat menumbuhkan rasa dendam dan kelelahan emosional.

Anak-anak yang dipaksa menjalani peran dewasa terlalu dini sering mengembangkan hubungan kompleks dengan saudara kandung mereka, merasakan campuran antara sikap melindungi dan kekesalan yang dapat bertahan selama puluhan tahun. Berbeda dengan saudara kandung, teman-teman tidak pernah menuntut pengorbanan semacam itu, sehingga lebih mudah bersikap hangat dan bebas dengan mereka.

  1. Kurangnya keamanan emosional di rumah

Ketika lingkungan rumah tidak aman secara emosional, anak-anak mungkin mengaitkan saudara kandung dengan momen-momen tegang atau bergejolak tersebut. Bayangkan pertengkaran konstan, perubahan suasana hati yang drastis, atau orangtua yang selalu mengkritik semua orang.

Melihat saudara kandung di masa dewasa dapat memicu kembali ingatan lama tentang makan malam yang penuh tekanan atau pertengkaran tersembunyi di balik pintu tertutup. Kehangatan dengan teman-teman terasa lebih aman karena mereka tidak membawa beban berat kenangan rumah yang tidak nyaman.

  1. Terus-menerus dibandingkan

Perbandingan adalah pencuri diam-diam kedekatan antar saudara. Jika satu anak diberi label “si pintar” sementara yang lain adalah “si atletis” atau “si artistik”, mungkin terdengar tidak berbahaya.

Namun, label-label ini dapat mengurung saudara kandung dalam kotak, masing-masing memandang yang lain sebagai saingan. Menurut data dari National Institutes of Health, perbandingan terus-menerus di masa kecil sering mengarah pada hubungan yang tegang di masa dewasa.

Bersama teman-teman, orang jarang menghadapi julukan lama atau label yang membatasi tersebut karena teman melihat mereka sebagai individu dengan identitas yang dapat berubah.

  1. Menyaksikan atau mengalami konflik yang tidak pernah diselesaikan

Terkadang masalahnya bukan persaingan langsung tetapi konflik yang tidak terselesaikan. Mungkin salah satu saudara kandung dibully di sekolah, dan yang lain berpura-pura tidak tahu. Mungkin ada kekerasan emosional atau fisik dalam keluarga yang semua orang berpura-pura tidak terjadi.

Melihat saudara kandung tersebut bisa memunculkan pikiran seperti, “Dimana kamu saat aku membutuhkanmu?” atau “Kamu tidak pernah membelaku.” Dr. Shefali Tsabary menekankan pentingnya dialog terbuka dalam keluarga dan menunjukkan bahwa anak-anak sering menutup diri ketika rasa sakit emosional mereka diabaikan atau ditolak oleh kerabat dekat.

  1. Menemukan dukungan emosional di tempat lain

Beberapa orang membentuk ikatan kuat di luar rumah sejak dini. Mereka mungkin menemukan bimbingan dari seorang guru, koneksi mendalam dalam tim olahraga, atau penerimaan yang menenangkan dalam kelompok teman dekat. Dukungan dari luar ini dapat menjadi “keluarga” utama mereka dalam hal kedekatan emosional.

Ketika saudara kandung tetap terjebak dalam pola lama atau tetap berada di lingkungan yang awalnya terasa penuh tekanan, wajar saja jika seseorang membentuk kebiasaan untuk lebih hangat dengan teman-teman. Persahabatan tersebut memberikan penerimaan dan pengertian yang mereka dambakan, sementara kehangatan antar saudara kandung tidak pernah berkesempatan untuk berkembang.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti