← Beranda

Kamu Wajib Tahu! 6 Tips Komunikasi Efektif dengan Anak Usia Sekolah secara Mudah

Pravita Windi Anatasa NitriaKamis, 27 Februari 2025 | 04.10 WIB
Ilustrasi tips komunikasi efektif dengan anak usia sekolah (Lifestylememory/freepik.com)

JawaPos.com - Berkomunikasi dengan anak adalah bagian dari rutinitas sehari-hari yang umumnya kita lakukan, namun sebagai orang tua, kita sering kali terlalu sibuk dan cenderung menjaga percakapan tetap singkat supaya bisa melanjutkan aktivitas lain.

Walaupun percakapan ringan penting pada kehidupan sehari-hari, ada kalanya anakmu membutuhkan perhatian lebih, di mana mereka ingin kamu benar-benar mendengarkan dan memahami apa yang tengah mereka rasakan.

Anakmu mungkin tidak mengungkapkannya secara langsung, tetapi mereka membutuhkanmu untuk sesekali menyelami dunia batin mereka dan mengetahui apa yang ada di pikiran serta perasaan mereka. Kondisi ini tidak hanya akan membantu anak lebih memahami emosinya, tetapi juga memperkuat ikatan antara kalian berdua.

Anakmu secara intuitif akan merasakan bahwa dirimu lebih memahami mereka sebab kamu meluangkan waktu dan perhatian untuk benar-benar peduli. Dilansir dari Mental Health, berikut beberapa tips komunikasi efektif dengan anak usia sekolah yang dapat secara mudah.

1. Perhatikan emosinya

Saat anakmu menampakkan emosi yang jelas melalui kata-kata atau bahasa tubuh, penting untuk memberi perhatian pada perasaan tersebut. Sering kali, memberi pengamatan atau mengulang apa yang mereka ungkapkan bisa sangat bermanfaat. Kondisi ini mengirimkan pesan bahwa kamu menghargai dan memahami perasaan mereka.

Misalnya, kamu mengatakan, "Kamu kesal sebab Mama tidak mengizinkanmu bermain di luar setelah gelap?" Dengan cara ini, anakmu dapat mengonfirmasi atau menyatakan lebih lanjut apa yang mereka rasakan dan biasanya akan membuka ruang untuk percakapan lebih lanjut.

2. Akui perasaan anakmu

Empati merupakan salah satu respons yang paling kuat dan menenangkan yang mampu kita berikan, terutama kepada anak-anak. Dengan mengakui perasaan mereka, kita memberikan validasi terhadap apa yang dirasakan, termasuk perasaan yang sering kita anggap sebagai negatif seperti kemarahan, frustrasi, atau kekecewaan.

Terkadang yang dibutuhkan anak hanya pengakuan terhadap perasaan mereka supaya mereka dapat mulai mengatasi masalah yang ada. Dengan memvalidasi emosi anak, kamu tidak hanya membuat mereka lebih peka terhadap perasaan tersebut, tetapi juga memberi izin bagi mereka merasakan dan mengungkapkannya dengan bebas kepada orang lain.

3. Tunda koreksi dan kumpulkan lebih banyak informasi

Ketika anakmu membantah, usahakan untuk tidak terburu-buru mengoreksi mereka, meski kamu merasa mereka salah. Luangkan waktu guna mendengarkan mereka terlebih dahulu. Bahkan lebih baik lagi apabila kamu mengajukan pertanyaan lanjutan agar memahami lebih dalam mengapa mereka melihat situasi tersebut seperti itu.

Pendekatan ini tidak hanya mengakui perasaan anak, namun juga mendorong mereka untuk berbicara lebih terbuka. Kamu akan lebih mudah memperoleh kerja sama jika kamu menunjukkan kesiapan untuk mendengarkan kekhawatiran mereka, daripada langsung memberikan koreksi.

4. Coba melihat situasi dari sudut pandang anakmu

Cobalah melihat situasi dari sudut pandang anakmu sebelum bereaksi. Kita biasanya berharap anak-anak kita mampu memahami cara berpikir orang dewasa, tanpa mempertimbangkan bagaimana mereka memandang atau merasakan situasi tersebut.

Apa kebutuhan perkembangan yang mungkin mereka miliki pada saat itu yang belum bisa mereka ungkapkan? Misalnya, ketika kamu dan pasangan berencana pergi keluar malam, anakmu mungkin menunjukkan reaksi emosional yang kuat karena mereka tidak ingin kamu pergi.

Dibandingkan marah atau mengabaikan perilaku anak, cobalah bertanya, "Apa yang ingin disampaikan anakku? Kebutuhan apa yang perlu diperhatikan?" Mereka mungkin memerlukan kenyamanan, rasa aman, atau kepastian. Memahami bahwa perilaku tersebut terkait dengan kebutuhan perkembangan membantumu memberikan respons yang lebih sabar dan tepat.

5. Hindari mempermalukan anak dan lebih fokus pada perilakunya

Mempermalukan anak justru dapat merusak harga diri mereka. Misalnya, jika seorang anak laki-laki berusia 10 tahun secara tidak sengaja menumpahkan susunya untuk ketiga kalinya dalam seminggu dan ayahnya marah, mengatakan, "Kamu benar-benar bodoh, mengapa tidak lebih berhati-hati?"

Apabila terjadi berulang kali, maka mampu membuat anak merasa dirinya tidak berharga. Sebagai gantinya, pendekatan yang lebih membangun adalah dengan fokus pada perilakunya. Dalam situasi yang sama, sang ayah bisa berkata, "Tidak masalah, ayo ambil handuk untuk membersihkannya. Itu hanya kesalahan. Kalau butuh sesuatu di meja, minta tolong orang lain untuk memberikannya, ya?"

6. Dorong anak berpikir proaktif mengenai solusi

Ketika kamu dan anakmu berbeda pendapat tentang suatu keputusan, cobalah bertanya kepada mereka apa yang sebenarnya diharapkan atau ingin ubah dari situasi tersebut. Pertanyaan ini membantu mereka menyadari bahwa setiap masalah mempunyai berbagai pilihan solusi.

Jika mereka menemukan pendekatan yang masuk akal, beri kesempatan untuk mencobanya. Melibatkan anak guna mencari solusi membuat mereka merasa dihargai dan lebih termotivasi, serta meningkatkan rasa tanggung jawab dan kemandirian ketika menghadapi tantangan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho