JawaPos.com - Pernah bertemu seseorang yang terasa "tidak asli" atau seperti sedang memainkan peran dalam hidupnya? Bisa jadi mereka memiliki kepribadian fake person alias seseorang yang tidak menunjukkan diri mereka yang sebenarnya.
Salah satu cara untuk mengenali mereka adalah dengan memperhatikan frasa dalam percakapan mereka.
Beberapa orang dengan kecerdasan emosional rendah sering kali mengandalkan kata-kata tertentu untuk membangun citra diri yang mereka inginkan. Meskipun sebenarnya itu tidak mencerminkan kepribadian mereka yang sesungguhnya.
Dilansir dari laman Geediting.com pada Jumat (7/2), berikut adalah tujuh frasa yang sering mereka gunakan.
1. "Aku hanya bersikap jujur."
Ketika seseorang sering mengucapkan kalimat ini, biasanya itu bukan tentang kejujuran, melainkan tentang pembenaran untuk kata-kata yang kasar atau menyakitkan. Orang yang benar-benar jujur tidak perlu menyatakan bahwa mereka jujur. Karena kata-kata dan tindakan mereka sudah menunjukkan hal itu dengan sendirinya.
Orang dengan kepribadian fake person sering menggunakan frasa ini untuk menutupi kecenderungan mereka yang suka menghakimi atau merendahkan orang lain dengan dalih "kejujuran." Padahal, jujur dan kasar itu dua hal yang berbeda.
2. "Percayalah padaku."
Ironisnya, semakin sering seseorang berkata, "Percayalah padaku," semakin sulit untuk benar-benar mempercayainya. Orang yang dapat dipercaya tidak perlu meminta kepercayaan secara eksplisit, karena kepercayaan itu muncul dari konsistensi sikap dan tindakan mereka.
Frasa ini sering digunakan oleh orang dengan kecerdasan emosional rendah yang mencoba meyakinkan orang lain dengan kata-kata, bukan dengan bukti nyata.
3. "Aku benci drama."
Ini klasik! Seseorang yang sering mengaku "benci drama" justru sering kali adalah orang yang paling sering terlibat dalam drama. Mereka bisa jadi menikmati gosip, memanipulasi situasi, atau menciptakan konflik tanpa sadar.
Orang yang benar-benar tidak suka drama biasanya memilih untuk tidak membicarakannya dan langsung menjauh dari situasi yang tidak sehat, tanpa perlu membuat pengumuman besar.
4. "Aku orang yang baik."
Jika seseorang merasa perlu menyatakan bahwa mereka "orang baik," patut dicurigai. Orang yang benar-benar baik tidak butuh validasi dari orang lain tentang kebaikan mereka.
Sering kali, frasa ini digunakan oleh seseorang yang ingin menutupi tindakan buruk mereka. Mereka ingin menciptakan citra positif tentang diri sendiri, meskipun tindakan mereka mungkin berkata sebaliknya.
5. "Aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain."
Kalimat ini terdengar keren, tetapi pada kenyataannya, hampir semua orang peduli dengan bagaimana mereka dilihat oleh orang lain, setidaknya sampai batas tertentu.
Mereka yang benar-benar tidak peduli tidak perlu menyatakannya secara eksplisit. Justru, mereka yang terus-menerus menegaskan hal ini mungkin sebenarnya sangat peduli, hanya saja mereka tidak ingin terlihat rentan atau terpengaruh oleh pendapat orang lain.
6. "Aku tidak pernah berbohong."
Ini adalah klaim yang sulit dipercaya karena faktanya, semua orang pasti pernah berbohong, setidaknya dalam skala kecil. Menurut sebuah penelitian, sekitar 60% orang tidak bisa melewati percakapan 10 menit tanpa berbohong setidaknya satu kali.
Jika seseorang mengatakan mereka "tidak pernah berbohong," bisa jadi mereka justru sedang berbohong saat mengatakannya. Orang dengan kepribadian fake person sering menggunakan frasa ini untuk menciptakan citra diri yang sempurna, padahal tidak ada manusia yang sempurna.
7. "Kamu tidak akan mengerti."
Frasa ini sering digunakan sebagai cara untuk menghindari diskusi yang lebih dalam atau sebagai bentuk manipulasi emosional. Dengan mengatakan "Kamu tidak akan mengerti," seseorang mungkin mencoba menciptakan kesan bahwa mereka lebih kompleks, lebih sulit dipahami.
Atau mereka seolah bilang bahwa pengalaman mereka unik dan tidak bisa dibandingkan dengan orang lain. Padahal, banyak orang di sekitar kita sebenarnya memiliki kapasitas untuk memahami dan berempati, asal kita mau membuka diri.
Pada akhirnya, mengenali orang dengan kepribadian fake person tidak selalu mudah, tetapi dengan memperhatikan frasa dalam percakapan mereka, kita bisa mendapatkan petunjuk yang cukup jelas.
***