JawaPos.com - Peran orang tua sangat krusial dalam membentuk kebiasaan dan perilaku anak.
Mulai dari mendukung perkembangan emosional hingga menanamkan nilai-nilai dan disiplin, orang tua mempunyai andil besar dalam membentuk karakter serta kebiasaan anak-anak mereka.
Memahami pengaruh ini membantu kita menyadari dampak besar yang ditimbulkan orang tua terhadap kehidupan anak-anak, di mana menekankan pentingnya pengasuhan dengan penuh perhatian dan mendukung.
Mengutip psychologs.com, berikut ini beberapa kebiasaan buruk yang diwarisi anak dari orang tuanya dan perlu disadari.
Baca Juga: Mengenal 7 Kebiasaan Sederhana yang Ampuh Membakar Lemak Perut dengan Cepat dan Menjaga Berat Badan
1. Pola makan tidak sehat
Apabila orang tua memiliki pola makan yang tidak sehat, anak-anak cenderung meniru kebiasaan tersebut dan lebih memilih makanan yang kurang sehat. Mereka mungkin kesusahan dalam mengontrol porsi makan dan cenderung mengembangkan kebiasaan makan yang buruk.
Maka dari itu, orang tua perlu menunjukkan pola makan sehat dan menciptakan lingkungan yang mendukung supaya anak-anak bisa membangun hubungan yang positif dengan makanan. Dengan memberikan makanan bergizi, mendorong kontrol porsi, dan mengedepankan pola makan seimbang, orang tua bisa membantu anak-anak mereka mengembangkan kebiasaan makan sehat sepanjang hidup.
2. Kurang melakukan aktivitas fisik
Jika orang tua menghabiskan sebagian besar waktunya dengan aktivitas pasif atau hanya duduk, anak-anak cenderung mengadopsi gaya hidup yang kurang aktif dan kehilangan manfaat dari gerakan fisik. Apabila orang tua tidak secara aktif mendorong anak-anak untuk bergerak atau terlibat dalam olahraga atau kegiatan di luar ruangan, anak-anak mungkin tidak akan membentuk hubungan yang positif dengan olahraga.
3. Keterampilan komunikasi yang tidak baik
Apabila orang tua tidak memberikan perhatian yang cukup ketika anak-anak berbicara, anak-anak akan merasa bahwa pikiran dan perasaan mereka tidak dihargai, sehingga dapat mengarah pada keterampilan mendengarkan yang buruk.
Jika orang tua menggunakan komunikasi agresif atau pasif-agresif, anak-anak mampu meniru perilaku itu dan kesulitan mengekspresikan diri. Tanpa pembelajaran komunikasi tegas, mereka juga mungkin kesulitan berbicara dengan percaya diri dan hormat.
4. Masalah manajemen waktu dan penundaan
Anak-anak sering mengamati perilaku orang tua dan cenderung meniru kebiasaan mereka. Jika orang tua sering menunda-nunda atau terlihat susah dalam mengelola waktu, anak-anak bisa mengikuti kebiasaan tersebut dan merasa kesulitan guna memprioritaskan tugas serta mengatur waktu mereka dengan baik.
Tanpa adanya rutinitas yang konsisten atau arahan yang jelas dari orang tua dalam mengelola tugas dan waktu, anak-anak mungkin akan merasa kesulitan dalam merencanakan serta memprioritaskan tanggung jawab mereka sendiri.
5. Kurang disiplin
Saat orang tua tidak menetapkan aturan dan batasan yang konsisten, anak-anak sering kesulitan mendisiplinkan diri karena tidak punya pemahaman yang jelas tentang apa yang diharapkan dari mereka. Jika orang tua sering membuat janji atau menetapkan harapan namun tidak menepatinya, anak-anak dapat belajar bahwa mereka tidak perlu memenuhi komitmen atau tanggung jawab mereka.
6. Sikap negatif terhadap pembelajaran
Apabila orang tua terus-menerus menyampaikan pendapat negatif atau rasa frustrasi mengenai sekolah atau proses pembelajaran, maka anak-anak bisa mulai menginternalisasi sikap tersebut dan mengembangkan pandangan negatif terhadap aspek akademis.
Ketika orang tua tidak memberikan dukungan positif atau menunjukkan minat terhadap kemajuan akademis anak-anak, hal ini bisa mengakibatkan kurangnya motivasi serta sikap yang tidak mendukung terhadap pembelajaran.
7. Masalah kesehatan mental yang diwariskan
Lingkungan keluarga yang penuh tekanan, seperti sering terjadinya konflik atau adanya kesulitan keuangan dapat menyebabkan peningkatan stres dan kecemasan pada baik orang tua maupun anak.
Ketika orang tua tidak mampu mengelola stres dan kecemasan mereka secara baik, hal tersebut bisa mempengaruhi cara mereka menangani situasi yang menekan. Hingga anak-anak mungkin akan meniru mekanisme penanganan stres yang tidak efektif tersebut. Akibatnya, anak-anak mengembangkan cara-cara yang kurang sehat dalam menghadapi tekanan dan kesusahan dalam kehidupan mereka.
8. Pemakaian gadget yang berlebihan
Waktu yang terlalu banyak dihabiskan di depan layar dapat mengurangi kesempatan bagi orang tua dan anak untuk berinteraksi secara bermakna, padahal interaksi ini sangat penting bagi perkembangan yang sehat dan membangun hubungan yang kokoh.
Jika orang tua tidak menyediakan alternatif aktivitas fisik atau tidak mendorong anak-anak terlibat dalam jenis permainan atau interaksi lainnya, anak-anak bisa menjadi terlalu bergantung pada gadget sebagai sumber utama hiburan mereka. Hal ini bisa mempengaruhi kualitas waktu yang mereka habiskan bersama orangtua serta perkembangan sosial dan fisik mereka.
9. Kurangnya literasi terhadap keuangan
Orang tua yang tidak mengajarkan anak-anak tentang pengelolaan uang, maka membuat anak-anak cenderung kesulitan mengatur keuangan, membelanjakan uang secara berlebihan, dan tidak terbiasa menabung. Oleh karena itu, penting bagi orang tua supaya mendidik anak-anak tentang hal ini sejak dini.
Dengan memberikan petunjuk, mencontohkan kebiasaan yang baik, dan mendorong diskusi terbuka mengenai uang, maka orang tua dapat membantu anak-anak mereka membangun kebiasaan keuangan yang sehat, di mana hal ini akan bermanfaat sepanjang hidup mereka.
***