← Beranda

Para Orang Tua Wajib Baca, ini 4 Dampak Serius Keluarga Broken Home terhadap Kepribadian Anak Menurut Para Ahli

Nindya Putri HermansyahSabtu, 4 Januari 2025 | 17.52 WIB
Ilustrasi keluarga broken home. (Freepik)

JawaPos.com – Pernikahan yang berakhir dengan perceraian atau perpecahan keluarga kerap memberikan dampak besar pada anak-anak yang terlibat di dalamnya.

Istilah “broken home” menggambarkan situasi di mana salah satu atau kedua orang tua tidak lagi tinggal bersama anak-anak mereka karena perpisahan atau perceraian.

Dampak dari keadaan ini bisa terasa sepanjang hidup anak, baik dalam perkembangan emosional, sosial, maupun akademis.

Meskipun setiap anak dapat merespons situasi ini secara berbeda, banyak studi yang menunjukkan adanya efek negatif yang cukup signifikan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga broken home sering kali mengalami gangguan emosional, kesulitan dalam membentuk hubungan interpersonal yang sehat, hingga penurunan prestasi di sekolah.

Namun, penting untuk diingat bahwa dampak ini tidak selalu bersifat permanen. Dengan dukungan yang tepat, anak-anak ini dapat mengatasi tantangan yang mereka hadapi dan tumbuh menjadi individu yang tangguh dan sehat secara emosional.

Dilansir dari American Psychological Association dan National Institutes of Health, berikut empat dampak serius keluarga broken home pada anak.

  1. Gangguan Kesehatan Mental Anak

Anak-anak yang berasal dari keluarga broken home lebih rentan terhadap gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan stres.

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh University of Minnesota, anak-anak yang orang tuanya bercerai memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi dan gangguan kecemasan dibandingkan dengan anak-anak yang tumbuh dalam keluarga utuh.

Penelitian ini menyebutkan bahwa perasaan terabaikan dan ketidakstabilan emosional menjadi faktor utama yang menyebabkan gangguan mental pada anak-anak tersebut.

Selain itu, anak-anak yang hidup di lingkungan yang penuh konflik atau ketegangan antara orang tua mereka sering kali merasa cemas dan tidak aman, yang dapat memperburuk kondisi mental mereka.

Ini bisa berlanjut hingga masa remaja dan dewasa muda, di mana mereka merasa kesulitan untuk mempercayai orang lain atau membangun hubungan yang sehat.

  1. Perubahan dalam Perkembangan Sosial

Anak-anak dari keluarga broken home sering kali mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial yang sehat. Mereka mungkin merasa terisolasi atau kesulitan bergaul dengan teman sebaya karena pengalaman trauma yang mereka alami di rumah.

Hal ini diungkapkan oleh psikolog dari American Psychological Association, Dr. Elizabeth Scott.

Dia menyatakan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang terpecah cenderung memiliki masalah dalam membangun hubungan jangka panjang baik dengan teman-teman maupun pasangan.

Ketidakmampuan untuk mempercayai orang lain atau mengelola konflik secara konstruktif adalah tantangan besar yang mereka hadapi.

Anak-anak yang terbiasa menyaksikan perkelahian atau ketegangan antara orang tua mereka mungkin tidak belajar keterampilan yang diperlukan untuk berkomunikasi secara efektif dan menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat.

  1. Dampak pada Prestasi Akademik

Selain dampak psikologis dan sosial, anak-anak dari keluarga broken home juga sering kali menunjukkan penurunan dalam prestasi akademik mereka.

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh National Institutes of Health, anak-anak yang orang tuanya bercerai cenderung memiliki skor yang lebih rendah dalam tes akademik dan kurang motivasi untuk berprestasi di sekolah.

Stres emosional yang mereka alami bisa mengganggu konsentrasi dan fokus mereka di kelas, yang berujung pada penurunan kemampuan belajar.

Anak-anak ini mungkin juga merasa kurang didukung oleh orang tua mereka dalam proses belajar, mengingat peran orang tua dalam mendampingi anak-anak dalam pendidikan mereka sering kali terbagi setelah perceraian.

Beberapa anak merasa lebih banyak diberikan tanggung jawab di rumah, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk fokus sepenuhnya pada pendidikan mereka.

  1. Menghadapi Perubahan Identitas dan Kehilangan

Proses perceraian sering kali mengubah cara anak-anak memandang diri mereka sendiri dan peran mereka dalam keluarga.

Mereka mungkin merasa bingung tentang identitas mereka, terutama jika mereka memiliki kesulitan memahami mengapa orang tua mereka bercerai.

Dikutip dari penelitian Dr. Judith Wallerstein, ahli psikologi yang mempelajari dampak perceraian terhadap anak-anak selama lebih dari dua dekade, anak-anak sering kali merasakan kehilangan yang mendalam. Serta merasa seolah-olah mereka "hilang" di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Proses penerimaan terhadap perubahan ini bisa berlangsung lama dan penuh tantangan. Beberapa anak mungkin merasa harus memilih pihak, baik itu orang tua yang tinggal bersama mereka atau yang tidak tinggal bersama mereka.

Itu dapat menyebabkan perasaan tertekan dan bingung tentang hubungan mereka dengan kedua orang tua.

Hal ini sering kali berlanjut hingga mereka memasuki masa dewasa dan dapat mempengaruhi hubungan mereka dengan pasangan atau anak-anak mereka sendiri.

Meskipun keluarga broken home dapat memberikan dampak negatif yang cukup besar pada anak-anak, penting untuk diingat bahwa dukungan yang tepat bisa membantu mereka mengatasi tantangan ini.

Dengan bantuan psikolog, terapis keluarga, atau dukungan sosial yang baik, anak-anak dapat belajar untuk memahami dan mengelola perasaan mereka dengan cara yang sehat.

Kuncinya adalah menciptakan lingkungan yang penuh kasih, perhatian, dan stabilitas bagi anak-anak. Sehingga mereka dapat tumbuh dengan percaya diri dan memiliki kemampuan untuk membangun hubungan yang sehat di masa depan.

Jangan biarkan perpecahan keluarga menghalangi perkembangan mereka, karena dengan bimbingan yang tepat, mereka dapat bangkit lebih kuat.

EDITOR: Bayu Putra