← Beranda

Wajib Baca Sebelum Beli Tiket Pesawat, Ini 7 Golongan Orang yang Sebaiknya Tidak Melakukan Perjalanan Udara  

Alberta Dionny NatanuelSenin, 16 Desember 2024 | 13.31 WIB
Ilustrasi penumpang duduk di dalam satu barisan di pesawat. (Freepik)

JawaPos.com – Pada musim liburan ini, banyak orang melakukan perjalanan jarak jauh dengan menggunakan berbagai transportasi, salah satunya pesawat. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa ada beberapa orang yang tidak seharusnya melakukan perjalanan udara. 

Dilansir dari Samitivej Hospitals, pesawat sekarang sering kali memiliki filter udara penahan partikel berefisiensi tinggi yang sama dengan ruangan operasi di rumah sakit. 

Sistem sirkulasi udara pada pesawat mensirkulasi hampir 50 persen udara di kabin pesawat. Dan sirkulasi ini dilakukan 20 hingga 30 kali per jamnya. Tapi, ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi orang-orang dengan beberapa kondisi kesehatan. 

Dilansir dari Medical Air Service, dalam penerbangan udara, perubahan tekanan udara selama penerbangan mengakibatkan berkurangnya oksigen yang diterima oleh tubuh kita. Kondisi ini mengakibatkan gas di dalam tubuh kita membesar. 

Karena itu, berikut beberapa orang yang sebaiknya menghindari perjalanan udara. 

Penderita penyakit jantung

Orang-orang yang menderita penyakit arteri koroner atau gagal jantung perlu melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum melakukan perjalanan udara. 

Apabila mengalami kesesakan, kesulitan bernapas atau aritmia enam minggu sebelum tanggal penerbangan, sebaiknya tidak melakukan perjalanan tersebut. 

Namun, jika tidak ada pilihan lain selain perjalanan udara, setelah gejala-gejala tersebut terjadi, mereka perlu mengundurkan perjalanan dua atau tiga minggu. Walaupun begitu, mereka juga hanya boleh melakukan perjalanan udara ini setelah berkonsultasi dengan dokter mereka. 

Ibu hamil

Dilansir dari Fit for Travel, apabila ibu hamil ini tetap sehat selama kehamilannya, maka mereka aman untuk bepergian menggunakan pesawat. Akan tetapi ada beberapa ibu hamil yang memiliki resiko peningkatan komplikasi. 

Beberapa maskapai penerbangan juga akan meminta sertifikasi atau surat dari dokter apabila kehamilan ini berusia lebih dari 28 minggu. 

Surat ini harus menginformasikan tanggal perkiraan kelahiran dan menjelaskan bahwa kehamilan ini bukan kehamilan yang sulit. 

Bahkan ada pula yang tidak memperbolehkan orang-orang hamil melanjutkan perjalanan mereka apabila usia kehamilan mereka di atas 32–36 minggu. 

Penderita asma

Perjalanan udara tidak direkomendasikan kepada para penderita asma, terutama yang tidak dapat dikelola atau baru saja keluar dari rawat inap. 

Penderita asma dapat melakukan perjalanan udara apabila membawa obat pribadi mereka, seperti inhaler. 

Penderita hipertensi 

Sama seperti para penderita asma, orang-orang yang menderita hipertensi sebaiknya menghindari perjalanan udara. Namun dengan pengobatan pribadi mereka, kondisi mereka tidak akan terlalu mengganggu selama penerbangan. 

Penderita pneumothorax

Kondisi ini terjadi ketika udara menumpuk di ruang antara paru-paru dan dinding dada yang menyebabkan pengempisan atau kolaps pada paru-paru, sehingga penderitanya mengalami kesulitan menarik napas. 

Kalau perjalanan udara ini sangat diperlukan oleh para penderita, mereka perlu berkonsultasi kepada dokter mereka atau memasang pipa ke dada mereka untuk mengeluarkan udara yang terjebak pada paru-paru mereka. 

Setelah proses tersebut, pasien perlu membiarkan paru-paru mereka berekspansi selama tujuh hari, dan diperiksa menggunakan x-ray atau CT scan sebelum melakukan perjalanan udara. 

Penderita penyakit menular

Untuk mengurangi resiko penularan penyakit selama penerbangan, sangat disarankan untuk menghindari perjalanan udara. Bahkan walaupun hanya mengalami flu. 

Kualitas udara pada kabin penerbangan memang telah dikontrol dan diperiksa untuk mengurangi risiko penyakit menular, tapi tidak menghilangkan risiko tersebut. 

Maskapai penerbangan dapat menolak orang-orang yang terlihat sakit walaupun telah memiliki tiket. 

Orang-orang dengan disabilitas tertentu

Beberapa bandara menyediakan bantuan untuk orang-orang dengan disabilitas, namun hal ini perlu diberitahukan kepada pihak bersangkutan dari jauh-jauh hari. 

Namun, kru pesawat tidak dapat membantu para penumpang yang tidak dapat menjaga diri mereka selama penerbangan. Seperti menggunakan toilet atau makan. 

Sangat diperlukan untuk menginformasikan kondisi ini ke maskapai terlebih dahulu, terutama bila membutuhkan bantuan khusus selama penerbangan. Seperti naik dan turun dari pesawat, serta transit. 

Bagi pengguna kursi roda atau alat mobilitas, diperlukan juga untuk memberitahu secara detail mengenai alat mobilitas mereka. Seperti bahan, model, ukuran dan berat. 

 

EDITOR: Bayu Putra