JawaPos.com - Banyak orang yang mendambakan momen keterhubungan yang membuatnya merasa tambah semangat dan terinspirasi. Namun, terkadang, ada saja orang-orang yang ditemui tidak dapat memberikan hal tersebut, malah sebaliknya.
Orang-orang ini selalu mengatakan hal negatif untuk apapun situasi yang sedang dialaminya. Bertemu dengan orang-orang ini tentu bukan hanya membuat frustasi tetapi juga melelahkan.
Namun, hal yang lebih buruknya, orang-orang ini seringkali tidak menyadari seberapa besar dampak negatif dari sikap negatif mereka terhadap orang di sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, sikap mereka mulai membebani dan membuat siapa saja bertanya bagaimana cara menghadapinya.
Dalam ilmu psikologi, orang-orang seperti seringkali memiliki ciri-ciri kepribadian tertentu. Ciri-ciri ini mungkin tidak terlihat pada awalnya. Namun, jangan khawatir, lambat laun, ini akan terungkap saat semakin banyak waktu yang dihabiskan dengan orang-orang ini.
Dilansir dari Baseline Mag, inilah 9 ciri kepribadian dari orang-orang yang selalu berkata hal negatif apapun situasinya.
1. Selalu pesimis
Pesimis nampaknya menjadi pola pikir bawaan orang-orang yang selalu mengatakan hal negatif. Mereka cenderung melihat gelas sebagai gelas yang setengah kosong, dan lebih berfokus pada masalah daripada solusi.
Mereka terus menerus mengharapkan hasil terburuk, bahkan dalam situasi yang nampaknya positif. Misalnya, mereka mungkin mengantisipasi kegagalan dalam proyek baru atau meramalkan bencana pada liburan mendatang.
Pandangan pesimis ini seringkali meluas ke pandangan mereka tentang orang lain juga. Mereka akan cepat menghakimi dan lambat percaya. Mereka juga selalu menduga orang lain akan mengecewakannya dengan cara tertentu.
Orang yang pesimis mungkin tidak menyadari bagaimana kenegatifan mereka memengaruhi orang di sekitar mereka, sehingga menciptakan lingkungan yang menguras emosi dan membuat orang lain patah semangat.
2. Kurang empati
Orang yang sering menyuarakan hal negatif menunjukkan kurangnya empati yang signifikan. Sifat ini dapat terwujud dalam interaksi mereka dengan orang. Mereka akan kesulitan memahami atau berbagi perasaan orang-orang di sekitarnya.
Orang-orang ini mungkin akan meremehkan emosi temannya dan menunjukkan sedikit minat terhadap perasaan temannya itu. Kurangnya empati berarti mereka mungkin kesulitan menjalin hubungan yang bermakna dengan orang lain.
3. Mencari validasi
Individu yang kerap mengekspresikan kenegatifan mungkin sedang mencari validasi. Di permukaan mereka mungkin tampak menjauhkan orang-orang dengan komentar atau sikap negatifnya. Namun, di balik itu, mungkin ada kebutuhan mendalam yang perlu dipahami dan diakui.
Mereka mungkin berbagi pandangan suramnya terhadap kehidupan atau pendapat negatifnya tentang orang lain dengan harapan seseorang setuju dengan mereka. Validasi ini meskipun didasarkan perspektif negatif, ini seperti meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sendirian dalam sudut pandang itu.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam BMC Psychology menemukan bahwa remaja yang terlibat dalam "sadfishing" atau mencari simpati melalui pengungkapan diri negatif secara daring, seringkali menunjukkan tingkat kecemasan, depresi, dan perilaku mencari perhatian yang lebih tinggi, yang menggarisbawahi hubungan kompleks antara ekspresi negatif dan pengejaran validasi.
4. Ahli mengkritik
Orang yang terus menerus menyebarkan kenegatifan seringkali ahli dalam hal mengkritik. Mereka punya bakat untuk menunjukkan kekurangan dan kelemahan, baik pada seseorang maupun suatu situasi.
Tampaknya tak ada yang luput dari pandangan kritis mereka. Mereka dapat mengubah percakapan yang sederhana menjadi sesi kritik dan menemukan kesalahan pada hal-hal terkecil.
5. Mereka terluka
Di balik sikap negatifnya yang tiada henti, seringkali ada orang yang sedang berjuang melawan rasa sakitnya sendiri. Penting untuk diingat bahwa kenegatifan yang berlebihan dapat menjadi tanda kekacauan batin atau tekanan pribadi.
Mereka mungkin menghadapi perasaan tidak aman, harga diri rendah, atau masalah yang belum terselesaikan dari masa lalunya. Komentar dan sikap negatif mereka mungkin merupakan mekanisme pertahanan atau cara untuk mengatasi masalah mereka sendiri.
6. Menolak perubahan
Perubahan mungkin tidak mengenakkan dan menakutkan bagi kebanyakan orang, tetapi bagi mereka yang selalu bersikap negatif, perubahan bisa jadi benar-benar menakutkan. Orang ini seringkali menolak perubahan, berpegang teguh pada pola yang sudah mereka kenal, dan rutinitas yang dapat diprediksi.
Baik itu pekerjaan baru, hubungan baru, atau bahkan restoran baru, mereka mungkin langsung menyoroti potensi hal negatif dan masalah. Penolakan ini seringkali muncul karena rasa takut seperti takut terhadap hal yang tidak diketahui, takut gagal, atau takut kehilangan kendali.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam BMC Nursing menemukan bahwa penolakan terhadap perubahan dalam keperawatan kemungkinan besar didasarkan pada perasaan negatif dan defensif terhadap perubahan, seperti ketakutan, ketidakpastian, keraguan, kekecewaan, ketidakpercayaan, kebingungan, dan kemarahan.
7. Bakat untuk berdrama
Orang yang sering mengatakan hal negatif ternyata pandai menimbulkan drama. Negativitas mereka dapat memicu perselisihan, kesalahpahaman, dan bahkan pertengkaran besar.
Mereka mungkin dapat mengubah komentar yang tidak berbahaya menjadi kontroversi atau menafsirkan tindakan yang tidak bersalah sebagai serangan pribadi. Meskipun dapat menguras tenaga, hal itu dapat menambah dosis drama yang tak terduga pada situasi yang paling biasa saja.
8. Berjuang dengan rasa syukur
Orang yang terus menerus menyebarkan kenegatifan seringkali sulit mengenali dan menghargai hal-hal baik dalam hidupnya. Mereka cenderung akan mengabaikan berkat-berkat yang dimiliki dan sebaliknya fokus pada apa yang hilang atau apa yang salah.
Bahkan ketika segala sesuatunya berjalan baik, mereka mungkin akan menemukan sisi positif dari setiap kejadian. Mereka mungkin punya pekerjaan bagus, keluarga penuh kasih, atau kesehatan yang baik, tetapi mereka berkutat pada ketidaknyamanan kecil atau satu hal yang tidak sesuai.
9. Butuh pengertian, bukan penghakiman
Hal terpenting adalah mereka butuh pengertian bukan penghakiman. Mudah bagi sebagian orang untuk melabeli mereka sebagai orang yang negatif atau sulit dan mengabaikan perspektif mereka.
Namun, sifat negatif mereka seringkali bersumber dari masalah yang lebih mendalam, entah itu perjuangan pribadi, trauma masa lalu, atau pola pikir yang sudah mengakar. Sekadar menghakimi atau menghindari mereka hanya akan memperburuk perasaan negatif mereka.