JawaPos.com - Menangis adalah proses mengeluarkan air mata dari mata, biasanya sebagai respons terhadap emosi yang kuat seperti kesedihan, kebahagiaan, atau rasa sakit.
Menangis juga bisa terjadi karena iritasi fisik pada mata, seperti debu atau bawang.
Secara biologis, menangis melibatkan kelenjar lakrimal yang menghasilkan air mata untuk melumasi dan melindungi mata.
Dari sudut pandang psikologis, menangis sering dianggap sebagai cara untuk melepaskan emosi dan dapat memberikan perasaan lega atau ketenangan setelahnya.
Namun bagaimana jika seseorang bisa menangis secara tiba-tiba?
Hal ini apakah dinyatakan wajar tau tidak?
Meskipun menangis adalah respons emosional alami, kejadian ini secara berulang atau tanpa pemicu yang jelas bisa menjadi tanda dari masalah yang lebih dalam, termasuk depresi.
Maka, perlu diketahui penyebab mengapa seseorang sering menangis secara tiba-tiba.
Melansir dari Alodokter dan Hello Sehat, inilah beberapa penyebab mengapa seseorang sering menangis secara tiba-tiba:
1. Perubahan hormon seringkali menjadi pemicu utama dari tangisan tanpa sebab, khususnya lebih umum terjadi pada perempuan.
Ini terjadi karena perempuan cenderung mengalami fluktuasi hormon yang lebih sering, seperti saat PMS, kehamilan, dan pasca melahirkan.
Bisa juga karena mengalami PMDD atau premenstrual dysphoric disorder, kondisi yang menyerupai PMS tetapi lebih parah, dengan gejala yang mencakup depresi, kegelisahan, dan iritabilitas yang lebih besar.
Biasanya menyerang perempuan dengan riwayat depresi atau kecemasan.
Meskipun penyebabnya belum sepenuhnya dipahami, ahli meyakini bahwa hubungannya dengan perubahan hormon selama siklus menstruasi, termasuk kadar serotonin.
2. Gangguan kecemasan atau generalized anxiety disorder (GAD) menyebabkan orang merasa panik berlebihan, dengan gejala seperti detak jantung yang cepat dan kesulitan bernapas.
Ini bisa menjadi penyebab mengapa seseorang menangis tiba-tiba.
Gangguan kecemasan dapat membuat penderitanya merasa terlalu terbebani dan bisa mengganggu aktivitas sehari-harinya.
Bisa juga karena stres. Orang yang mengalami stres seringkali menangis sebagai respons tubuh untuk mengurangi hormon stres dan mencari dukungan dari orang lain.
3. Depresi menyebabkan penderitanya merasa sedih secara terus-menerus dan menangis tanpa sebab yang jelas.
Mereka bahkan bisa menangis dalam situasi yang biasa dalam hidup.
Selain itu, gejala depresi meliputi hilangnya minat pada hal-hal yang biasanya dinikmati, perubahan dalam nafsu makan, kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur, dan bahkan pemikiran untuk melakukan bunuh diri.
4. Bipolar adalah gangguan mental yang menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem. Perubahan ini terdiri dari fase mania dan depresi.
Baca Juga: Apakah Alpukat Berbahaya Bagi Kesehatan Ginjal Anda? Simak Fakta Berikut Ini
Pada fase mania, penderita bisa sangat bersemangat, bahagia, dan energik, sedangkan pada fase depresif mereka merasa sangat sedih, putus asa, dan mungkin menangis tiba-tiba.
5. Menangis, tertawa, dan marah yang tidak terkendali bisa menjadi tanda dari pseudobulbar affect (PBA), sebuah kondisi dimana cedera saraf otak mengganggu kemampuan untuk mengendalikan emosi. Penyakit ini juga dikenal sebagai inkontinensia emosional.
Orang dengan riwayat stroke, Alzheimer, Parkinson, atau multiple sclerosis berisiko mengalami PBA.
Seringkali PBA disalahartikan sebagai depresi karena gejalanya yang mirip. Selain menangis, PBA juga dapat menyebabkan tawa yang tiba-tiba dan tidak terkendali, yang bisa menyulitkan penderitanya dalam berbagai situasi.