JawaPos.com - Kheer bukan sekadar makanan penutup, tetapi simbol manisnya tradisi India yang sudah berusia ribuan tahun. Hidangan ini terbuat dari nasi, susu, dan gula, lalu diperkaya dengan kacang serta rempah seperti kapulaga atau saffron.
Dilansir dari Indian Express, istilah "kheer" sendiri berasal dari bahasa Sanskerta "kshirika" yang berarti olahan susu, menandakan betapa kuatnya akar budaya yang melekat pada hidangan sederhana ini.
Tidak hanya menjadi santapan sehari-hari, kheer juga memiliki makna spiritual yang dalam. Dalam berbagai festival, hidangan ini disajikan sebagai prasad atau makanan persembahan di kuil, yang kemudian dibagikan kepada umat sebagai simbol berkah.
Menurut laporan Times of India, kheer kerap dibuat pada perayaan Purnima karena dipercaya membawa kemurnian, kesehatan, serta keberuntungan bagi keluarga.
Jejak sejarah kheer bahkan menembus batas lintas budaya. Artikel dari Gulf News mengungkapkan bahwa puding nasi, termasuk versi India, memiliki perjalanan panjang sekitar 8.000 tahun.
Versi-versi serupa juga muncul di Persia dengan nama firni, serta di Eropa yang kemudian berkembang menjadi puding nasi dengan tambahan telur dan pala. Fakta ini menunjukkan bahwa kheer adalah jembatan kuliner yang menghubungkan Timur dan Barat.
Selain itu, legenda lokal ikut memperkuat posisi kheer dalam cerita rakyat India. Indian Express menuliskan kisah unik tentang seorang anak arsitek kuil Konark yang menggunakan kheer untuk menjelaskan cara membangun fondasi di atas laut. Kisah ini memperlihatkan bahwa kheer bukan sekadar makanan, melainkan medium imajinasi dan kreativitas.
Tidak heran jika kheer hadir dalam berbagai bentuk di setiap wilayah India. Di selatan dikenal dengan nama payasam, sementara di Bengal disebut payesh. Perbedaan bahan seperti penggunaan gula merah, buah, hingga labu perah menciptakan keragaman rasa yang menjadikan kheer selalu relevan di setiap zaman.