← Beranda

Ketahui 11 Mitos dan Fakta Intermittent Fasting yang Perlu Diketahui Penganutnya agar Tak Salah Paham

Endah Primasari UtamiSabtu, 20 Juli 2024 | 05.26 WIB
Ilustrasi intermittent fasting. (Freepik/drobotdean)

JawaPos.com - Apakah Anda sedang menjalani diet yang menerapkan waktu makan dan puasa dalam periode tertentu secara bergantian atau disebut dengan intermittent fasting?

Apabila iya, tentu Anda telah familiar dengan mitos-mitos yang berkembang tentang intermittent fasting, mulai dari berbahaya untuk kesehatan reproduksi, mampu menyembuhkan penyakit diabetes tipe 2, sampai dengan berdampak negatif terhadap kesehatan otak.

Dilansir JawaPos.com dari Health Line, dibahas seputar mitos dan fakta tersebut yang perlu diketahui para pelaku intermittent fasting berdasarkan pendapat para ahli. Jadi, Anda tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah kabar yang berkembang tentang intermittent fasting termasuk mitos atau fakta. Silakan cek ulasan di bawah ini agar Anda tidak salah paham lagi terkaitnya.

1. Berbahaya untuk Kesehatan Reproduksi

Secara umum, ahli diet, penelitian, dan ulasan tahun 2021 menunjukkan bahwa pembatasan kalori yang terjadi saat puasa berbahaya pada kesuburan seseorang, khususnya hormon estrogen.

Namun, hal tersebut dibantah oleh Destini Moody, RD yang mengatakan bahwa intermittent fasting tidak memengaruhi kadar hormon seks selama pelaku diet ini menjaga asupan kalori yang cukup selama jendela makannya.

Bahkan berdasarkan studi tahun 2024 yang dilakukan terhadap 90 orang dewasa yang mengalami obesitas menunjukkan bahwa intermittent fasting tidak berdampak negatif pada hormon seks mereka, melainkan menurunkan testosteron dan meningkatkan kadar SHBG (Sex Hormone Binding Globulin) pada penderita PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome) yang mampu memperbaiki kondisinya.

Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan seorang ahli diet bernama Allie Echeverria, MS, RD, LD yang mengatakan bahwa intermittent fasting adalah cara yang tepat untuk mengatur hiperandrogenisme yang dialami oleh perempuan penderita PCOS.

Senada dengan hal tersebut, Courtney Pelitera, MS, RD, CNSC, seorang ahli diet yang terdaftar dalam Top Nutrition Coaching mengatakan bahwa masih sedikit bukti yang menunjukkan bahwa hormon seks wanita dan pria dipengaruhi oleh puasa intermittent yang dijalaninya.

2. Menghilangkan Massa Otot

Memang benar seseorang yang sedang menjalani diet atau intermittent fasting akan mengalami kehilangan massa otot. Namun, Pelitera mengungkapkan bahwa asupan protein yang cukup dan latihan kekuatan mampu mempertahankan massa otot bagi pelaku diet intermittent fasting.

3. Memengaruhi Kualitas Pola Makan

Terkait hal ini Moody menjelaskan bahwa seseorang yang terbiasa menjalani pola makan buruk sebelum intermittent fasting akan tetap buruk, namun tidak lebih buruk ketika telah menjalani diet ini, hanya periode waktu makan saja yang berubah.

Demikian sebaliknya, ketika seseorang terbiasa memiliki pola makan yang sehat, maka diet intermittent fasting tidak akan mengubahnya menjadi pola makan yang buruk.

4. Penyebab Gangguan Makan

Berdasarkan penelitian terakhir yang melibatkan 86 peserta selama empat minggu menunjukkan bahwa intermittent fasting bukanlah sebab dari gangguan makan.

Pelaku intermittent fasting hanya melaporkan keinginan yang rendah terhadap makanan, perilaku makan yang berlebihan, masalah berat badan, dan kecemasan tentang penampilan.

5. Menyembuhkan Diabetes Tipe 2

Para dokter, organisasi kesehatan, dan ahli diet sepakat bahwa pengelolaan berat badan merupakan bagian penting untuk mengendalikan penyakit diabetes.

Berdasarkan penelitian tahun 2023 menunjukkan bahwa intermittent fasting membantu penderita diabetes tipe 2 mencapai remisi atau gula darah kembali normal tanpa pengobatan.

Sementara menurut Emily Van Eck, MS, RDN perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan dalam jangka panjang untuk mengetahui efek dari intermittent fasting terhadap penyakit diabetes.

6. Aman untuk Semua Kalangan

Secara umum, diet intermittent fasting aman untuk dilakukan, hanya saja bila Anda dalam kondisi hamil, menyusui, berusia dibawah 18 tahun, mengonsumsi obat yang memerlukan asupan nutrisi teratur, memiliki riwayat gangguan makan, menderita penyakit ginjal disertai kondisi yang diperlukan asupan nutrisi tertentu dalam kadar yang sesuai, missal natrium, kalium, dan fosfor tidak disarankan untuk menjalani intermittent fasting ini.

7. Memperlambat Laju Metabolisme

Dilansir dari Live MD, pendapat umum tentang berpuasa adalah menempatkan tubuh dalam mode 'lapar' yang mematikan metabolisme dan mencegah pembakaran lemak dalam tubuh. Padahal faktanya, berdasarkan penelitian, puasa jangka pendek yang diterapkan pada intermittent fasting mampu meningkatkan fungsi metabolisme yang membantu menurunkan berat badan.

Saat berpuasa, tubuh mengalami pergeseran metabolisme dari pembakaran glikogen (karbohidrat dan gula) menjadi pembakaran lemak yang tersimpan dalam tubuh menjadi energi. Selama menjalani peralihan ini, peningkatan signifikan noreepinefrin terjadi, yakni hormon yang merangsang metabolisme dan menyebabkan lemak lebih cepat terurai.

Seiring dengan berjalannya waktu, puasa yang dilakukan mampu meningkatkan metabolisme tubuh dan mengurangi risiko gangguan pencernaan.

8. Penyebab Defisit Nutrisi

Menjalani intermittent fasting berarti menerapkan waktu makan dan puasa secara bergantian selama periode tertentu. Puasa yang dilakukan membuat tubuh terbatas dalam mendapatkan asupan kalori.

Hal ini membuat banyak orang beranggapan bahwa asupan kalori yang rendah saat berpuasa menyebabkan tubuh kekurangan atau defisit nutrisi yang berbahaya untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Namun, sampai saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan risiko defisit nutrisi saat berpuasa ketika intermittent fasting, kecuali puasa yang dilakukan ekstrem, yakni membatasi diri untuk makan makan lebih dari 24 jam dan melewatkan waktu makan. Sementara saat intermittent fasting, puasa yang dilakukan dalam jangka pendek, sehingga aman dilakukan untuk kebanyakan orang.

Terlebih Ketika jendela makan tiba, orang yang menjalani intermittent fasting mengonsumsi makanan seimbang dan padat nutrisi, maka akan jauh dari kata defisit nutrisi. Kemudian penting untuk diketahui, puasa yang dilakukan memberikan waktu istirahat pada sistem pencernaan sehingga fungsi penyerapan nutrisi lebih optimal dan efisien serta meningkatkan kemampuan tubuh untuk menggunakan nutrisi yang diserapnya.

9. Tidak Aman dan Tidak Sehat

Seringkali puasa dinilai sebagai praktik yang tidak aman dan tidak sehat, karena menyebabkan dehidrasi hingga gangguan fungsi tubuh. Padahal kenyataannya, puasa yang dilakukan dengan bijaksana dan mengikuti pembatasan yang wajar akan berjalan aman bahkan bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

Lalu, terkait keluhan dehidrasi yang seringkali terjadi pada tubuh ketika puasa dapat ditanggulangi dengan mengonsumsi cukup cairan dan bila Anda termasuk dalam kelompok yang memiliki riwayat gangguan kesehatan atau hamil dan menyusui dapat melakukan konsultasi kepada ahli kesehatan dan gizi terlebih dahulu sebelum memulai intermittent fasting.

Dengan melakukan hal tersebut, maka Anda akan terhindar dari keluhan-keluhan selama menjalani intermittent fasting.

10. Hanya Soal Menurunkan Berat Badan

Ternyata intermittent fasting tidak hanya berbicara tentang menurunkan berat badan, namun memiliki dampak positif lainnya, seperti mengendalikan gula darah, mengurangi risiko gangguan neurodegenerative, hingga melindungi tubuh dari kanker.

11. Berbahaya untuk Kesehatan Otak

Pendapat tentang intermittent fasting berbahaya untuk kesehatan otak, mulai dari menurunkan fungsi kognitif, gangguan fungsi mental, hingga kerusakan pada otak ternyata hanyalah mitos belaka.

Faktanya, puasa dalam hal ini intermittent fasting yang dilakukan dengan bijaksana dan masih dalam batas wajar justru berdampak baik terhadap Kesehatan otak.

Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa puasa mampu meningkatkan fungsi kognitif otak dengan cara menginduksi keadaan biologis yang disebut ketosis, yakni ketika tubuh menggunakan lemak yang disimpan sebagai energi, bukan glukagon.

Ketika tubuh melakukan proses ini, otak menggunakan sumber energi alternatif yaitu keton agar berfungsi. Keton sendiri berfungsi dalam meningkatkan kejernihan mental dengan meningkatkan fungsi mitokondria dan mengurangi stress oksidatif serta peradangan yang dapat mengganggu fungsi otak.

Selain itu, puasa yang dilakukan dapat membantu tubuh mencegah penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson dengan autofagi, yaitu sebuah proses menghilangkan sel-sel rusak (pada otak) dan menggantinya dengan yang baru.

-----------

Demikianlah 11 mitos dan fakta yang dijelaskan para ahli terkait diet intermittent fasting. Semoga dapat menjawab keraguan Anda selama ini.

EDITOR: Edy Pramana