← Beranda

PPOK dan Kanker Paru Bisa Dicegah dengan Berhenti Merokok

Latu Ratri MubyarsahSenin, 29 November 2021 | 03.33 WIB
Ilustrasi: seseorang tengah memegang rokok
JawaPos.com–Rokok adalah salah satu jenis candu yang dapat membahayakan kesehatan dan menimbulkan berbagai masalah. Termasuk pada organ pernapasan dan paru-paru.

Dua dari sekian banyak penyakit yang bisa dicegah dengan berhenti merokok yakni penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan kanker paru. Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2002 menunjukkan, PPOK menempati urutan ke-3 setelah penyakit kardiovaskular dan kanker yang menjadi penyebab kematian di dunia.

Di Indonesia, diperkirakan 4,8 juta orang menderita PPOK. Angka itu bisa bertambah dengan makin banyaknya jumlah perokok. Sebab, 90 persen penderita PPOK perokok atau mantan perokok.

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Aditya Wirawan mengatakan, dari sisi gejala umum dan derajat skala sesak penyakit PPOK, dimulai dari derajat 0 hingga derajat 4. Derajat 0 yaitu tidak ada sesak kecuali dengan aktivitas berat, derajat 1 yaitu sesak timbul bila berjalan cepat atau ketika berjalan menanjak, derajat 2 yaitu berjalan lebih lambat dari orang sebayanya karena sesak.

”Selanjutnya derajat 3 muncul setelah berjalan 100 meter atau setelah berjalan beberapa menit, dan derajat 4 yaitu sesak muncul saat mandi atau berpakaian,” terang Aditya Wirawan seperti dilansir dari Antara.

Menurut Aditya, sesak yang dialami penderita PPOK disebabkan perubahan struktur anatomi paru. ”Kantung paru melebar, sehingga udara mudah masuk, namun udara tersebut akan sulit keluar, sehingga produksi dahak akan meningkat. Fenomena ini dikenal dengan fenomena bottle neck,” kata Aditya Wirawan melalui keterangan tertulis RSUI.

Untuk mendiagnosa PPOK, lanjut dia, pasien sebaiknya berkonsultasi ke dokter. Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan, pemeriksaan, dan melakukan tes spirometri. Jika ditemukan pada fase awal, PPOK dapat lebih mudah ditangani dan tidak berkembang ke tahap yang lebih parah.

Aditya mengatakan, PPOK termasuk penyakit paru yang dapat dicegah dan diobati. Namun, akan berbahaya jika tidak ditangani. Dia mengimbau orang-orang memeriksakan kesehatan paru secara rutin dan menghindari zat berbahaya salah satunya dengan berhenti merokok bila perokok.

”Selain PPOK, kanker paru juga bisa dicegah dengan menghindari dan berhenti merokok khususnya bagi perokok,” teran Aditya Wirawan.

Dokter spesialis paru dari RSUI Gatut Priyonugroho menambahkan, banyak orang merasa perokok bisa tetap sehat dan tidak terkena kanker paru. Ada pula penderita kanker paru tidak berobat namun masih hidup sampai saat ini.

Padahal, menurut dia, orang-orang sebaiknya melihat dari penelitian-penelitian dengan jumlah sampel yang lebih banyak. Di tengah angka harapan hidup yang meningkat saat ini, tren penyakit bergeser menjadi penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, dan kanker, termasuk kanker paru.

”Hal ini juga dibarengi dengan jumlah dan proporsi perokok yang meningkat,” ucap Gatut.

Berdasar data dari UNICEF terkait profil remaja di Indonesia 2021, sebanyak 59,7 persen orang mulai merokok setiap hari pada usia di bawah 19 tahun. Kasus kanker paru di Indonesia menempati urutan ketiga kanker terbanyak (8,6 persen), setelah kanker payudara (16,7 persen), dan kanker leher rahim (9,3 persen).

Dalam satu tahun, sebanyak setengah dari penderita kanker paru meninggal dunia. Rokok menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kejadian kanker.

Kanker merupakan suatu benjolan yang bersifat ganas, bisa menyebar ke tempat lain, dan merusak. Tidak semua benjolan adalah kanker, sehingga sebaiknya harus dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu agar dapat didiagnosis dengan tepat.

Beberapa zat berbahaya yang dapat menyebabkan kanker dan terdapat dalam rokok di antaranya benzoapiren dan polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH). Sejak 1970-an, zat-zat itu diketahui menyebabkan kanker pada seluruh hewan yang diteliti. Yakni tikus, mencit, monyet, baik dihirup maupun ditelan atau disuntikkan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan, merokok menjadi penyebab utama yang dapat dicegah terhadap kejadian kanker dan kematian akibat kanker. Peluang perokok aktif 4,6 kali lipat lebih besar untuk mengalami kanker paru dibanding orang yang tidak merokok.

Jadi, untuk mencegah kanker paru, langkah utama adalah dengan menghindari penyebabnya, yaitu berhenti merokok. Rokok yang dapat menimbulkan kanker bukanlah akibat asap yang tertimbun di badan, melainkan zat-zatnya perlahan merusak DNA. Sehingga, mengakibatkan mutasi gen.

Selain itu, upaya yang tidak kalah penting yakni melakukan pemeriksaan kesehatan paru secara rutin. Setidaknya setahun sekali.
EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah