Orang mengenalnya sebagai daun pepaya jepang walaupun bukan sejenis daun pepaya seperti yang sudah kita kenal. Mengonsumsi rebusan daun ini dalam jumlah cukup secara teratur terbukti bisa memenuhi kebutuhan karbohidrat harian bagi anak, orang dewasa, ibu hamil, dan ibu menyusui. Kekayaan serat dan rendahnya kadar lemak daun tersebut dapat merangsang aktivitas peristaltik usus yang diperlukan untuk mencegah gangguan pada saluran cerna, mengendalikan rasa lapar, dan menurunkan kadar kolesterol serum.
---
DAUN pepaya jepang berbentuk sama dengan daun pepaya dengan ukuran yang relatif lebih kecil. Bernama ilmiah Cnisdocolus aconitifolius dari suku Euphorbiaceae, tanaman ini terutama tumbuh subur di daerah tropis. Nama lainnya adalah tree spinach, yang berarti bayam pohon, dan chaya. Di Nigeria Selatan dikenal dengan nama hospital too far karena kandungan nutrisi dan aneka ragam manfaatnya bagi kesehatan.
Pepaya jepang mudah tumbuh, tahan serangan hama, dan tetap tumbuh baik pada tanah yang kurang subur sekalipun. Herba dengan tinggi mencapai 3–6 meter ini daunnya berbentuk telapak tangan dengan lobus berjumlah tiga, tepi berlekuk, warna hijau tua. Misalnya dapat ditemukan dengan mudah di Kampoeng Oase Songo di RT 09 RW 03 Kelurahan Simomulyo Baru, Surabaya, yang memang menanam pepaya jepang itu sejak lama.
Catatan sejarah menyebutkan, daerah penyebaran di bagian selatan Texas hingga melewati Kolombia. Penyebaran di kawasan Meksiko dan Amerika Selatan terjadi pada era suku Maya. Pemanfaatan pepaya jepang untuk kesehatan sudah secara turun-temurun di antaranya untuk mengatasi reumatik, gangguan lambung dan usus, berbagai penyakit radang, antibakteri, anemia, serta kekurangan protein.
Hasil studi ilmiah antara lain melaporkan khasiat ekstrak tanaman pepaya jepang sebagai pelindung fungsi liver serta mencegah penyakit pada jantung dan pembuluh darah. Khasiat itu berkaitan erat dengan hasil riset yang menunjukkan potensi daun pepaya jepang sebagai sayur hijau yang kaya nutrisi.
Di dalam daun terkandung karbohidrat, protein, lemak, serat, berbagai vitamin, dan mineral. Protein daun ini tersusun atas asam amino esensial dan nonesensial yang vital bagi kesehatan sel tubuh. Yaitu arginin, asam glutamat, metionin, histidin, isoleusin, lisin, threonine, tyrosine, aspartic acid, serine, dan valine.
Kandungan Nutrisi Mikro
Daun pepaya jepang kaya kandungan nutrisi mikro. Yaitu vitamin dan mineral yang harus tersedia di dalam tubuh walau hanya dalam jumlah sedikit. Ulasan yang ditulis peneliti India pada 2021 menganalisis peran unsur nutrisi mikro di dalam daun ini bagi kesehatan manusia. Kandungan vitamin antara lain A, C, B kompleks, yaitu vitamin B1, B2, dan B9.
Pada 25 gram daun sudah dapat memenuhi kebutuhan vitamin C orang dewasa dalam sehari. Ini penting mengingat peran vitamin C sebagai antioksidan poten yang bisa mencegah kerapuhan dinding pembuluh darah kapiler, sariawan, dan kerusakan gusi. Kalau rigiditas dinding sel terjaga, proses penuaan pun akan terkendali.
Vitamin A penting bagi penjagaan fungsi sel epitel untuk memelihara kesehatan mata, ekspresi gen pada sel, pertumbuhan, fungsi imun, kulit, jaringan tubuh, dan pembuluh darah. Vitamin E adalah antioksidan kuat yang akan melawan radikal bebas sang perusak sel. Peneliti meyakini peran unsur nutrisi mikro daun pepaya jepang bagi pembentukan dan pemeliharaan fungsi pembuluh darah dan otot.
Mineral sudah diketahui perannya pada pengaturan kesehatan tulang, pembentukan hemoglobin sel darah, pencegahan kanker prostat, dan membantu mengurangi kejadian stroke. Mineral diketahui penting bagi kelancaran kerja sel saraf otak. Termasuk pengendalian penyakit degeneratif jenis mineral daun pepaya jepang, antara lain natrium, kalium, kalsium, fosfor, tembaga, zinc, zat besi, dan manganum. Fungsi optimal otak memerlukan ion kalsium, fosfor, dan tembaga. Kalsium terlibat dalam proses pembentukan tulang dan gigi secara optimal.
Yang menarik adalah informasi penggunaan daun pepaya jepang untuk memenuhi kebutuhan zinc. Kekurangan zinc dalam tubuh bisa menyebabkan gangguan fungsi tubuh, termasuk pada proses penyembuhan luka dan pencegahan infeksi kulit. Magnesium penting sebagai kofaktor enzim pada metabolisme sel untuk menghasilkan energi. Perlu diketahui, proses pengeringan dan pengolahan daun memengaruhi jenis dan kadar mineral.
Mencegah Anemia dan Meningkatkan Imunitas
Khasiat ekstrak daun pepaya jepang untuk mengatasi racun yang merusak fungsi organ tubuh, termasuk profil darah, sangat menarik perhatian. Salah satunya adalah racun zat kimia nitrosamin yang makin dekat dalam kehidupan manusia. Yaitu yang terdapat dalam limbah industri kulit, pestisida, makanan, dan produksi berbagai zat pewarna. Nitrosamin sudah diketahui sebagai carcinogenic agent, yaitu agen penyebab kanker.
Peneliti Nigeria menuliskan hasil penelitian pada 2021 tentang efek pemberian ekstrak etanol daun pepaya jepang pada tikus yang diberi nitrosamin. Pengamatan dilakukan terhadap proporsi dan profil sel darah merah serta darah putih. Studi juga ingin mengetahui dampak nitrosamin pada terjadinya infeksi, kematian sel, dan peradangan. Ekstrak terbukti mengandung alkaloid dan fenol sebagai antioksidan kuat.
Hasil studi menunjukkan terjadinya penurunan sel darah merah dan darah putih, yang menyebabkan anemia dan menurunnya imunitas. Diduga, nitrosamin bekerja melalui penurunan produksi sel darah atau meningkatkan kerusakan sel. Ternyata, pemberian ekstrak daun terbukti memperbaiki profil proporsi sel darah merah dan darah putih menjadi normal kembali.
Hasil penelitian ini sekaligus membuktikan kerja ekstrak sebagai antianemia. Juga meningkatnya sel darah putih pasca pemberian ekstrak menunjukkan kerja ekstrak dalam meningkatkan sistem imun tubuh. (*)
PEMANFAATAN
- Ambil daun segar, cuci bersih, rebus dalam air dengan api sedang hingga mendidih.
- Kecilkan api, lanjutkan pemanasan 10 menit.
- Buang airnya, peras daun, siap dimakan bersama sayur lain.
- Konsumsi secara teratur dalam jumlah tidak berlebih.
*) PROF DR APT MANGESTUTI AGIL MS, Guru besar botani farmasi dan farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga
Youtube: Kanal Kesehatan Prof Mangestuti