← Beranda

Punya 5 Sikap Ini? CEO Amazon Sebut Kamu Berpeluang Sukses di Usia 20-an

Ryandi ZahdomoJumat, 27 Februari 2026 | 06.21 WIB
Ilustrasi orang sukses secara finansial (freepik)

JawaPos.com - Banyak orang mengira kesuksesan karier di usia muda hanya milik mereka yang jenius atau punya koneksi orang dalam. Namun, CEO Amazon Andy Jassy justru membongkar sebuah "rahasia" yang terdengar sangat sederhana namun sering disepelekan oleh para profesional muda.

Bukan soal skor IQ atau gelar dari universitas bergengsi, Jassy menekankan bahwa kunci utama untuk menaklukkan dunia kerja di usia 20-an adalah sikap positif. Hal ini ia sampaikan sebagai refleksi bagi mereka yang sedang merintis karier di tengah persaingan global yang semakin ketat.

1. Rahasia "Memalukan" di Balik Kesuksesan Usia Muda

Andy Jassy menyebut sikap positif sebagai "rahasia memalukan" karena saking sederhananya, banyak orang sering melupakan hal ini. Di dunia yang terobsesi dengan strategi rumit dan data, sikap mental seringkali dianggap sebagai faktor sekunder, padahal justru inilah yang menjadi pembeda utama.

Menurut Jassy, cara seseorang memandang hidup, tantangan, dan kegagalan sering kali jauh lebih berpengaruh dibandingkan seberapa pintar atau seberapa hebat latar belakang pendidikannya. Ia percaya bahwa energi yang dibawa seseorang ke dalam ruangan dapat membuka pintu peluang bahkan sebelum kemampuan teknis mereka teruji sepenuhnya.

"Sikap positif dianggap mampu membuka banyak pintu, bahkan sebelum seseorang benar-benar siap secara teknis," kata Jassy.

Hal ini menjadi pengingat bahwa di fase awal karier, kemauan untuk belajar dan pembawaan diri sering kali lebih dihargai daripada keahlian yang sudah matang namun kaku.

2. Definisi Sikap Positif: Bukan Sekadar "Always Happy"

Jassy memberikan catatan penting bahwa bersikap positif bukan berarti menutup mata dari masalah atau terus-menerus tersenyum palsu. Fokus utamanya adalah pada cara seseorang merespons tekanan dan bangkit dari kegagalan yang pasti terjadi di masa muda.

Seseorang dengan sikap positif, menurutnya, cenderung tidak mudah menyerah. Mereka melihat kegagalan sebagai bahan belajar, bukan sebagai akhir segalanya. Pola pikir ini sangat krusial di usia 20-an, di mana fase ini biasanya dipenuhi oleh kebingungan dan proses pencarian jati diri yang melelahkan.

Ia menegaskan bahwa banyak peluang besar datang bukan karena seseorang menjadi yang paling pintar, melainkan karena mereka menunjukkan energi yang baik dan tidak takut salah. Sikap seperti inilah yang membuat atasan atau rekan kerja lebih mudah memberikan kepercayaan dan tanggung jawab baru.

3. Adaptasi dan Rasa Ingin Tahu Sebagai Bahan Bakar

Selain mentalitas yang kuat, CEO raksasa teknologi ini juga menggarisbawahi pentingnya rasa ingin tahu yang tak terbatas. Dunia kerja modern bergerak sangat dinamis, sehingga mereka yang merasa "sudah tahu segalanya" justru akan paling cepat tertinggal.

Jassy menilai perbedaan terbesar antara orang sukses dan tidak sukses bukanlah bakat bawaan, melainkan kemampuan untuk menyerap pelajaran dari setiap pengalaman. Rasa ingin tahu membuat seseorang tetap terbuka terhadap ide-ide segar dan cara kerja baru yang mungkin lebih efektif.

Keberanian untuk mengeksekusi ide juga menjadi poin yang ia soroti. Jassy percaya bahwa mencoba sesuatu meski belum sempurna jauh lebih baik daripada menunggu momen ideal yang tidak pernah datang. Di usia 20-an, ruang untuk melakukan kesalahan masih sangat luas, sehingga fase coba-coba ini harus dimanfaatkan sebagai modal pengalaman yang berharga.

4. Menghadapi Kritik: Apakah Nasihat Ini Terlalu Ideal?

Meski inspiratif, nasihat Jassy ini tak luput dari kritik. Banyak yang berpendapat bahwa pandangan ini sulit diterapkan bagi mereka yang tidak memiliki privilese seperti Jassy, yang merupakan lulusan Harvard dan memiliki jalur karier stabil di Amazon sejak 1997.

Bagi mereka yang menghadapi tekanan ekonomi atau keterbatasan akses, bersikap positif saja tentu terasa tidak cukup untuk mengubah nasib secara instan. Kritik ini menilai bahwa faktor eksternal sering kali jauh lebih kejam daripada sekadar urusan pola pikir.

Namun, pendukung pandangan Jassy melihat bahwa ia tidak bermaksud meremehkan realitas sosial. Sebaliknya, ia fokus pada hal-hal yang masih bisa dikendalikan oleh individu. Dalam kondisi sesulit apa pun, cara kita bersikap tetap menjadi satu-satunya aset mental yang bisa kita kelola sepenuhnya untuk tetap bergerak maju.

5. Membangun Networking Lewat Energi Positif

Poin terakhir yang tak kalah penting adalah bagaimana sikap positif mampu menarik dukungan dari orang sekitar. Jassy menyebut bahwa orang cenderung lebih suka membantu mereka yang terbuka dan tidak defensif saat diberi masukan atau kritik.

Banyak kesempatan emas justru lahir dari hubungan antarmanusia, bukan sekadar deretan prestasi di dalam CV. Energi positif menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, sehingga mentor atau rekan kerja tidak ragu untuk tumbuh bersama dan berbagi peluang baru.

Pada akhirnya, meski garis start setiap orang berbeda, kombinasi antara sikap positif, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk terus beradaptasi adalah bekal paling realistis untuk bertahan. Ini bukan jaminan sukses instan, tapi setidaknya memberikan peluang lebih besar untuk tetap melangkah saat hidup terasa tidak adil.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra