← Beranda
Orang yang Tumbuh dengan Perasaan Tidak Dicintai Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini Saat Dewasa Tanpa Disadari Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSabtu, 7 Februari 2026 | 16.40 WIB
seseorang yang tumbuh dengan perasaan tidak dicintai. (Freepik/krakenimages.com)

JawaPos.com - Tidak semua luka masa kecil terlihat secara kasat mata. Sebagian orang tumbuh dengan rumah yang tampak “baik-baik saja”, tetapi secara emosional merasa kosong, tidak diperhatikan, atau tidak dicintai. Menurut psikologi perkembangan dan teori keterikatan (attachment theory), pengalaman emosional di masa kecil membentuk cara seseorang memandang diri sendiri, orang lain, dan dunia.

Perasaan tidak dicintai saat kecil bukan hanya tentang kekerasan fisik atau verbal. Ia bisa muncul dalam bentuk pengabaian emosional, kurangnya afeksi, minim validasi perasaan, atau orang tua yang hadir secara fisik tetapi tidak secara emosional. Dampaknya sering kali tidak disadari, dan baru muncul dalam bentuk pola perilaku saat seseorang dewasa.

Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (5/2), terdapat 7 perilaku umum yang sering ditunjukkan orang dewasa yang tumbuh dengan perasaan tidak dicintai — sering kali tanpa mereka sadari sama sekali.

1. Sulit Mempercayai Orang Lain

Orang yang tidak mendapatkan rasa aman emosional di masa kecil cenderung memiliki attachment insecurity. Mereka bisa:

Selalu curiga terhadap niat orang lain

Takut dikhianati meski tanpa bukti

Sulit membuka diri secara emosional

Secara psikologis, otak belajar bahwa kedekatan = potensi luka. Akibatnya, sistem pertahanan diri terbentuk otomatis.

Contoh nyata: Mereka mungkin merasa nyaman dalam hubungan, tapi selalu menunggu “keburukan” terjadi.

2. Terlalu Mandiri Secara Emosional (Hyper-independence)

Ini bukan kemandirian sehat, melainkan keyakinan bawah sadar bahwa:

“Aku tidak bisa bergantung pada siapa pun.”

Ciri-cirinya:

Sulit meminta bantuan

Tidak nyaman bergantung pada orang lain

Merasa lemah jika butuh orang lain

Secara psikologi, ini adalah mekanisme perlindungan: lebih aman tidak berharap, daripada berharap lalu kecewa.

3. Merasa Tidak Layak Dicintai

Ini adalah luka identitas, bukan sekadar emosi.

Pola pikir yang sering muncul:

“Aku terlalu rusak untuk dicintai.”

“Kalau orang benar-benar mengenalku, mereka akan pergi.”

Akibatnya:

Menerima hubungan yang tidak sehat

Bertahan dalam relasi toksik

Takut kehilangan meski diperlakukan buruk

Ini disebut dalam psikologi sebagai core belief negatif tentang diri.

4. People Pleasing Berlebihan

Mereka belajar sejak kecil bahwa cinta harus "diperjuangkan", bukan sesuatu yang alami.

Ciri-ciri:

Takut menolak

Sulit berkata tidak

Mengorbankan kebutuhan diri sendiri

Takut mengecewakan orang lain

Motif bawah sadar:

“Kalau aku menyenangkan mereka, aku akan dicintai.”

5. Takut Kedekatan Emosional, Tapi Juga Takut Kesepian

Ini paradoks psikologis yang sangat umum:

Ingin dekat

Tapi takut terluka

Akibatnya:

Hubungan tidak pernah benar-benar dalam

Selalu menjaga jarak emosional

Atau sebaliknya: terlalu cepat terikat

Dalam psikologi ini disebut ambivalent attachment atau fearful-avoidant attachment.

6. Perfeksionisme sebagai Cara Mencari Validasi

Bukan karena ingin sukses, tapi karena ingin "layak dicintai".

Pola batin:

“Kalau aku cukup sempurna, aku akan pantas dicintai.”

Ciri:

Takut gagal

Terobsesi citra diri

Merasa tidak pernah cukup

Self-criticism ekstrem

Ini bukan ambisi sehat, tapi kompensasi emosional.

7. Sulit Mengenali dan Mengekspresikan Emosi

Karena sejak kecil emosi mereka:

Tidak divalidasi

Diabaikan

Diremehkan

Akibatnya saat dewasa:

Bingung dengan perasaan sendiri

Sulit mengekspresikan emosi

Menekan emosi

Meledak tiba-tiba

Dalam psikologi dikenal sebagai emotional suppression dan alexithymia ringan.

Penutup: Luka Ini Bisa Disembuhkan

Penting dipahami: perilaku-perilaku ini bukan kelemahan karakter, tapi adaptasi psikologis.

Dulu, pola ini membantu seseorang bertahan hidup secara emosional. Sekarang, pola itu bisa menghambat kebahagiaan dan hubungan sehat.

Penyembuhan dimulai dari:

Kesadaran diri

Validasi emosi

Terapi atau refleksi diri

Membangun secure attachment secara bertahap

Kamu tidak rusak. Kamu tidak gagal. Kamu hanya belajar bertahan dengan cara yang dulu kamu bisa.

Dan sekarang, kamu boleh belajar cara hidup yang lebih sehat.

***

 
EDITOR: Novia Tri Astuti