← Beranda

Jika Anda Ingin Lebih Disukai? Fokuslah pada 8 Perilaku Ini, Bukan Penampilan atau Status Anda

Irfan FerdiansyahSabtu, 7 Februari 2026 | 05.41 WIB
seseorang yang menjadi lebih disukai./Freepik/pressfoto

JawaPos.com - Di era media sosial dan pencitraan digital seperti sekarang, banyak orang percaya bahwa untuk disukai, seseorang harus tampil menarik, memiliki barang mewah, jabatan tinggi, atau status sosial yang mengesankan.

Penampilan, kekayaan, dan popularitas sering dianggap sebagai kunci utama penerimaan sosial. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.

Faktanya, manusia secara naluriah lebih terhubung pada perilaku dibandingkan atribut luar. Sikap, cara berbicara, empati, dan kehadiran emosional jauh lebih menentukan apakah seseorang disukai, dihormati, dan dipercaya.

Penampilan bisa menarik perhatian, tetapi perilaku membangun hubungan. Status bisa mengundang respek, tetapi karakter menumbuhkan kedekatan.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (4/2), jika Anda ingin benar-benar lebih disukai—bukan hanya dikagumi dari jauh—fokuslah pada delapan perilaku berikut ini:

1. Mendengarkan dengan Tulus, Bukan Sekadar Menunggu Giliran Bicara

Banyak orang berpura-pura mendengarkan, padahal sebenarnya sedang menyiapkan jawaban di kepala mereka. Orang yang benar-benar disukai adalah mereka yang hadir secara utuh dalam percakapan.

Mendengarkan dengan tulus berarti:

Menatap lawan bicara dengan penuh perhatian

Tidak memotong pembicaraan

Merespons dengan empati, bukan penghakiman

Mengingat detail kecil dari cerita orang lain

Ketika seseorang merasa didengar, ia merasa dihargai. Dan rasa dihargai adalah fondasi dari rasa suka.

2. Bersikap Rendah Hati, Bukan Merendahkan Diri

Kerendahan hati bukan berarti meremehkan diri sendiri, tetapi tidak merasa lebih tinggi dari orang lain. Orang yang rendah hati:

Tidak pamer pencapaian

Tidak merasa paling benar

Mau belajar dari siapa saja

Mengakui kesalahan tanpa drama

Sikap ini menciptakan rasa aman secara psikologis bagi orang lain. Mereka merasa setara, tidak terintimidasi, dan tidak dihakimi.

3. Konsisten antara Perkataan dan Perbuatan

Kepercayaan adalah mata uang sosial. Dan kepercayaan lahir dari konsistensi.

Jika Anda berkata akan membantu, bantulah.
Jika Anda berjanji hadir, datanglah.
Jika Anda berkata jujur, buktikan dengan tindakan.

Orang lebih menyukai pribadi yang bisa diandalkan dibandingkan pribadi yang pintar bicara tapi kosong tindakan.

4. Memperlakukan Semua Orang dengan Respek yang Sama

Cara Anda memperlakukan orang yang “tidak punya apa-apa” sering lebih menentukan karakter Anda daripada cara Anda memperlakukan orang yang “punya segalanya”.

Bersikap sopan pada:

Pelayan

Satpam

OB

Petugas kebersihan

Orang yang secara sosial “tidak menguntungkan”

Ini menciptakan citra kepribadian yang autentik, bukan topeng sosial.

5. Memiliki Energi Emosional yang Positif

Orang secara alami tertarik pada mereka yang:

Tidak suka mengeluh berlebihan

Tidak menyebar drama

Tidak hidup dalam kebencian

Tidak penuh iri hati

Energi emosional itu menular. Orang akan ingin berada dekat dengan mereka yang membuat mereka merasa lebih ringan, bukan lebih berat.

6. Mampu Berempati Tanpa Menggurui

Empati bukan memberi ceramah. Empati adalah memahami perasaan orang lain tanpa merasa lebih superior.

Kalimat seperti:

“Aku ngerti itu pasti berat buat kamu.”

“Kalau aku di posisimu, mungkin aku juga akan merasa begitu.”

“Perasaanmu valid.”

Lebih kuat daripada seribu solusi yang tidak diminta.

7. Jujur Tanpa Kasar

Kejujuran tidak harus menyakitkan.
Ketegasan tidak harus agresif.
Kritik tidak harus merendahkan.

Orang menyukai pribadi yang bisa berkata jujur dengan cara yang manusiawi:

Tegas tapi hangat

Jelas tapi sopan

Langsung tapi berempati

Ini membangun rasa aman dan kepercayaan jangka panjang.

8. Menjadi Pribadi yang Otentik, Bukan Pencitraan

Tidak semua orang akan menyukai Anda — dan itu normal.
Yang penting adalah menjadi diri sendiri dengan versi terbaiknya.

Orang lebih menghargai:

Keaslian daripada kesempurnaan

Ketulusan daripada kepalsuan

Kejujuran daripada pencitraan

Topeng sosial melelahkan. Keaslian justru menenangkan — baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Penutup: Disukai Itu Efek Samping, Bukan Tujuan Utama

Ironisnya, semakin Anda mengejar untuk disukai, semakin tidak tulus Anda terlihat. Tapi ketika Anda fokus menjadi pribadi yang:

Baik

Tulus

Berintegritas

Berempati

Konsisten

Otentik

Maka rasa suka akan datang sebagai efek samping alami.

Karena pada akhirnya, manusia tidak jatuh suka pada penampilan, status, atau pencitraan.

Mereka jatuh suka pada rasa aman, rasa dihargai, dan rasa diterima yang mereka rasakan saat berada di dekat Anda.

Dan semua itu tidak datang dari siapa Anda di mata dunia — tetapi dari bagaimana Anda memperlakukan manusia.

EDITOR: Hanny Suwindari