JawaPos.com - Pernah merasa tiba-tiba menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, atau bahkan cemberut saat berada di rumah orang tua, meski usia sudah dewasa dan kehidupan sudah mapan? Fenomena ini ternyata bukan hal aneh atau tanda ketidakdewasaan.
Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai regression atau regresi emosional. Ini adalah mekanisme pertahanan diri ketika seseorang secara tidak sadar kembali ke pola pikir, perasaan, dan perilaku masa kecil, terutama saat berada di dekat orang yang membesarkannya. Menariknya, regresi ini justru mengungkap bagaimana hubungan awal dengan orang tua masih membentuk respons emosional hingga dewasa.
Dilansir dari laman Geediting, Jumat (30/1), berikut tujuh pola emosional yang kerap dimiliki orang dewasa yang berubah menjadi “kekanak-kanakan” saat bersama orang tua.
1. Masih Membawa Pola Kelekatan Masa Kecil yang Belum Tuntas
Hubungan awal dengan orang tua membentuk cetak biru emosional seumur hidup. Teori kelekatan (attachment theory) dari John Bowlby menjelaskan bahwa ikatan anak dengan pengasuh utama memengaruhi cara seseorang membangun hubungan hingga dewasa.
Jika kelekatan di masa kecil bersifat cemas, menghindar, atau tidak konsisten, pola itu dapat muncul kembali saat dewasa berada di dekat orang tua. Banyak orang dewasa tanpa sadar masih mencari validasi, persetujuan, atau pengakuan dari orang tuanya, meski sudah hidup mandiri.
2. Sistem Saraf Bereaksi Terhadap Pemicu Lama
Aroma rumah, nada suara, atau bahkan bunyi lantai di rumah orang tua bisa memicu reaksi emosional kuat. Ini bukan sekadar nostalgia, melainkan respons sistem saraf terhadap rangsangan yang pernah terkait dengan pengalaman emosional masa lalu.
Bagi otak, lingkungan lama menyimpan makna emosional yang dalam. Tanpa membedakan masa lalu dan masa kini, tubuh bisa langsung bereaksi seolah kembali ke kondisi lama.
3. Kembali Terjebak Dalam Peran Keluarga Lama
Setiap keluarga memiliki peran tidak tertulis: anak penanggung jawab, penenang konflik, kambing hitam, atau pelawak keluarga. Meski sudah dewasa, peran ini sering “aktif kembali” saat pulang ke rumah.
Seseorang yang sukses dan mandiri bisa mendadak merasa seperti anak tengah yang cemas atau anak sulung yang harus mengurus segalanya. Pola ini bisa bertahan seumur hidup jika tidak disadari.
4. Masih Mencari Persetujuan Orang Tua
Banyak orang dewasa yang tanpa sadar masih mendambakan pengakuan emosional yang dulu kurang mereka terima. Tandanya bisa berupa berharap dipuji atas pencapaian, merasa kecewa saat orang tua tampak tidak terkesan, atau terlalu defensif terhadap kritik kecil.
Kerinduan akan validasi ini sering tersembunyi rapi, namun tetap memengaruhi respons emosional hingga dewasa.
5. Sulit Menjaga Batasan Emosional
Menetapkan batasan dengan orang tua sering terasa jauh lebih sulit dibanding dengan orang lain. Riwayat kedekatan, ketergantungan, dan kerentanan masa lalu membuat batas emosional menjadi kabur.
Orang yang tumbuh di lingkungan dengan batasan tidak jelas cenderung merasa bersalah saat berkata “tidak”, mudah menyerap emosi orang tua, atau merasa bertanggung jawab atas perasaan mereka.
6. Kembali ke Pola Komunikasi Lama
Seseorang yang tegas dan percaya diri di tempat kerja bisa mendadak menjadi pendiam, defensif, atau pasif saat berbicara dengan orang tua. Hal ini terjadi karena pola komunikasi dipelajari sejak kecil dan tersimpan dalam alam bawah sadar.
Nada bicara, topik yang dihindari, hingga cara meredam konflik bisa muncul otomatis saat berada di hadapan orang tua.
7. Belum Sepenuhnya Terlepas Secara Emosional
Dalam psikologi, individuation adalah proses menjadi individu yang terpisah dari nilai, harapan, dan identitas orang tua. Jika proses ini belum tuntas, seseorang bisa tetap terikat secara emosional dan mudah kembali ke kondisi kekanak-kanakan.
Hal ini bukan kegagalan, melainkan proses yang memang sulit dan panjang. Menyadarinya adalah langkah awal menuju kedewasaan emosional yang lebih sehat.