← Beranda
Orang yang Merasa 'Tertinggal' dalam Hidup Biasanya Mengukur Kesuksesan dengan 8 Metrik yang Keliru Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSabtu, 31 Januari 2026 | 06.37 WIB
seseorang yang merasa tertinggal./Freepik/freepik

JawaPos.com - Perasaan “aku tertinggal” sering muncul diam-diam. Bukan karena hidup benar-benar berhenti, tetapi karena kita melihat orang lain seolah melaju jauh di depan.

Teman sebaya menikah, naik jabatan, punya rumah, keliling dunia—sementara kita merasa masih “di tempat yang sama”.

Psikologi menunjukkan bahwa perasaan tertinggal ini jarang berasal dari kegagalan objektif.

Sebaliknya, ia muncul karena cara kita mendefinisikan dan mengukur kesuksesan—sering kali dengan standar yang keliru, sempit, dan tidak relevan dengan kehidupan pribadi kita.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (27/1), terdapat 8 metrik kesuksesan yang keliru yang paling sering digunakan oleh orang-orang yang merasa tertinggal dalam hidup.

1. Menyamakan Usia dengan Pencapaian Hidup

Salah satu metrik paling umum adalah:

“Di usia segini, seharusnya aku sudah…”

Psikologi perkembangan menegaskan bahwa tidak ada garis waktu universal untuk kehidupan dewasa. Namun, budaya sosial menciptakan ilusi bahwa usia tertentu harus diiringi pencapaian tertentu—karier mapan, pasangan hidup, stabilitas finansial.

Masalahnya, ketika usia dijadikan tolok ukur, hidup berubah menjadi perlombaan, bukan perjalanan. Padahal, banyak orang berkembang paling signifikan setelah melewati usia yang dianggap “ideal”.

2. Membandingkan Diri dengan Sorotan Terbaik Orang Lain

Orang yang merasa tertinggal sering membandingkan kehidupan mentah mereka dengan versi kurasi kehidupan orang lain—terutama di media sosial.

Psikologi sosial menyebut ini sebagai upward social comparison, yang jika dilakukan terus-menerus dapat menurunkan harga diri dan meningkatkan kecemasan.

Kita jarang membandingkan:

kegagalan orang lain,

kebingungan mereka,

ketakutan yang tidak mereka unggah.

Namun kita membandingkan semuanya dengan hidup kita yang lengkap—termasuk rasa lelah, ragu, dan stagnasi sementara.

3. Mengukur Nilai Diri dari Status dan Jabatan

Banyak orang menyamakan kesuksesan dengan:

jabatan,

titel,

prestise pekerjaan.

Padahal, psikologi eksistensial menunjukkan bahwa makna hidup tidak selalu sejajar dengan status sosial. Seseorang bisa memiliki pekerjaan bergengsi namun merasa kosong, sementara yang lain hidup sederhana tetapi merasa bermakna dan utuh.

Ketika status dijadikan ukuran utama, harga diri menjadi rapuh—mudah runtuh saat karier melambat atau berubah arah.

4. Menganggap Kecepatan sebagai Bukti Keberhasilan

Cepat lulus.
Cepat sukses.
Cepat kaya.

Dalam masyarakat yang memuja produktivitas, kecepatan sering dianggap bukti kecerdasan dan kompetensi. Namun psikologi menunjukkan bahwa kecepatan tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman atau keberlanjutan.

Banyak proses penting dalam hidup—penyembuhan, pendewasaan emosional, pencarian jati diri—memang memerlukan waktu. Terlambat bukan berarti gagal; sering kali itu berarti sedang dibentuk.

5. Mengukur Hidup dari Daftar “Checklist Sosial”

Rumah?
Pasangan?
Anak?

Checklist sosial memberi rasa aman semu, seolah hidup bisa dinilai seperti formulir administrasi. Namun psikologi humanistik menekankan bahwa kehidupan yang bermakna bersifat subjektif dan personal, bukan daftar yang seragam.

Masalah muncul ketika seseorang merasa gagal bukan karena hidupnya tidak memuaskan, tetapi karena hidupnya tidak sesuai template sosial.

6. Mengabaikan Pertumbuhan Internal yang Tak Terlihat

Orang yang merasa tertinggal sering fokus pada hasil eksternal dan mengabaikan:

ketahanan emosional yang tumbuh,

keberanian menetapkan batasan,

kemampuan memahami diri sendiri,

pemulihan dari trauma atau luka lama.

Padahal, dari sudut pandang psikologi, pertumbuhan internal sering kali merupakan pencapaian paling fundamental, meski tidak bisa dipamerkan atau diukur dengan angka.

7. Menganggap Kesuksesan Harus Terlihat oleh Orang Lain

Jika tidak diakui, dipuji, atau divalidasi, maka dianggap belum sukses.

Ini membuat kesuksesan bergantung pada respons eksternal, bukan kepuasan internal. Psikologi motivasi menunjukkan bahwa orientasi eksternal semacam ini cenderung menghasilkan kecemasan kronis dan rasa tidak pernah cukup.

Kesuksesan yang sehat justru sering bersifat sunyi—dirasakan, bukan dipamerkan.

8. Mengira Hidup Orang Lain Lebih “Selesai”

Banyak orang yang merasa tertinggal berasumsi bahwa orang lain sudah “sampai”, sementara dirinya masih “di tengah jalan”.

Padahal, psikologi menunjukkan bahwa kebingungan, keraguan, dan perubahan arah adalah kondisi normal sepanjang hidup, bukan fase yang hanya dialami oleh mereka yang gagal.

Perbedaannya sering hanya satu: sebagian orang menyembunyikannya dengan lebih rapi.

Penutup: Mungkin Bukan Kamu yang Tertinggal, Tapi Standarmu yang Salah

Merasa tertinggal bukan selalu tanda kegagalan. Dalam banyak kasus, itu adalah tanda bahwa seseorang menggunakan kompas yang keliru untuk menilai hidupnya sendiri.

Psikologi mengingatkan kita bahwa hidup bukan lomba lari dengan garis akhir yang sama untuk semua orang. Ia lebih mirip perjalanan panjang dengan medan, kecepatan, dan tujuan yang berbeda-beda.

EDITOR: Hanny Suwindari