JawaPos.com - Di era digital, aktivisme tidak lagi terbatas pada turun ke jalan, menghadiri diskusi publik, atau terlibat langsung dalam kegiatan sosial.
Kini, cukup dengan ponsel dan koneksi internet, seseorang bisa menyuarakan opini, membagikan petisi, mengunggah konten edukatif, hingga mengkritik kebijakan publik melalui media sosial. Fenomena ini dikenal sebagai online activism atau digital activism.
Namun, psikologi sosial mengenal juga istilah slacktivism atau clicktivism, yaitu bentuk partisipasi sosial yang lebih bersifat simbolik dan minim keterlibatan nyata.
Artinya, seseorang aktif menyuarakan isu secara online, tetapi jarang atau bahkan tidak pernah terlibat dalam aksi nyata di dunia offline.
Menariknya, berbagai kajian psikologi menunjukkan bahwa kecenderungan ini sering berkaitan dengan pola kepribadian tertentu.
Dilansir dari Kamis (29/1), terdapat 9 ciri kepribadian yang sering ditemukan pada individu yang lebih memilih menjadi aktivis online dibandingkan mengambil tindakan nyata secara langsung.
1. Kebutuhan Tinggi Akan Validasi Sosial
Orang dengan kebutuhan validasi sosial yang tinggi cenderung mencari pengakuan dari lingkungan sekitar. Media sosial menyediakan ruang instan untuk itu: like, share, komentar, dan followers.
Mengunggah konten aktivisme memberi mereka:
Rasa dihargai
Perasaan "menjadi orang baik"
Identitas moral yang terlihat publik
Secara psikologis, ini disebut sebagai external validation seeking behavior, yaitu kecenderungan membangun harga diri dari respons orang lain, bukan dari kepuasan batin atau tindakan nyata.
2. Identitas Moral yang Bersifat Simbolik
Mereka memiliki kebutuhan untuk terlihat sebagai pribadi yang bermoral, peduli, dan berprinsip. Namun, identitas moral ini lebih bersifat simbolik daripada operasional.
Artinya:
Nilai moral kuat di level narasi
Lemah di level aksi nyata
Fenomena ini dikenal sebagai moral signaling atau virtue signaling, yaitu menunjukkan nilai moral kepada publik tanpa komitmen nyata untuk perubahan struktural atau tindakan konkret.
3. Empati Kognitif Tinggi, Empati Perilaku Rendah
Secara psikologis, empati terdiri dari beberapa jenis:
Empati kognitif: memahami penderitaan orang lain
Empati emosional: merasakan emosi orang lain
Empati perilaku: terdorong untuk bertindak
Aktivis online cenderung memiliki empati kognitif tinggi (paham isu, paham ketidakadilan), tetapi empati perilaku rendah, sehingga tidak muncul dorongan kuat untuk aksi nyata.
4. Konflik-Avoidant Personality (Menghindari Ketidaknyamanan Nyata)
Tindakan nyata sering melibatkan:
Risiko sosial
Ketidaknyamanan fisik
Konflik langsung
Ketidakpastian
Orang dengan kepribadian menghindari konflik lebih memilih ruang digital karena:
Aman secara psikologis
Minim konsekuensi langsung
Bisa mengontrol citra diri
Aktivisme online menjadi "zona aman" untuk mengekspresikan kepedulian tanpa risiko nyata.
5. Illusion of Impact (Ilusi Dampak Sosial)
Mereka memiliki bias kognitif bahwa:
"Dengan memposting, membagikan, dan berkomentar, saya sudah ikut mengubah dunia."
Padahal, secara objektif dampak strukturalnya sering sangat kecil.
Ini disebut sebagai perceived efficacy bias, yaitu persepsi berlebihan terhadap dampak tindakan kecil.
6. Kebutuhan Akan Kontrol Identitas Diri
Di dunia online, seseorang bisa:
Mengatur narasi diri
Memilih citra
Menyaring informasi
Menghapus jejak yang tidak sesuai
Aktivisme online memberi kendali penuh atas identitas: mereka bisa terlihat peduli, kritis, dan bermoral tanpa harus menghadapi realitas kompleks di lapangan.
7. Orientasi Simbolik, Bukan Solutif
Mereka lebih tertarik pada:
Simbol
Narasi
Tagar
Retorika
Daripada:
Solusi teknis
Kerja lapangan
Proses panjang perubahan
Kerja kolektif struktural
Secara psikologis, ini menunjukkan orientasi ekspresif, bukan problem-solving.
8. Sensitivitas Tinggi terhadap Opini Publik
Individu ini sangat peka terhadap tren sosial. Mereka cenderung:
Mengikuti isu viral
Aktif saat isu populer
Menghilang saat isu sepi
Aktivisme mereka bersifat reaktif, bukan berbasis komitmen jangka panjang.
9. Regulasi Emosi Berbasis Ekspresi, Bukan Aksi
Bagi sebagian orang, mengunggah opini dan kemarahan sosial adalah bentuk regulasi emosi:
Meredakan frustrasi
Melampiaskan emosi
Mencari rasa lega
Bukan untuk perubahan sosial, tetapi untuk stabilitas psikologis pribadi.
Penutup: Aktivisme Digital Bukan Selalu Buruk
Penting untuk dicatat: aktivisme online tidak selalu negatif. Dalam banyak kasus, ia berperan besar dalam:
Edukasi publik
Penyebaran informasi
Tekanan sosial terhadap kebijakan
Mobilisasi massa
Namun, secara psikologis, perbedaan utama terletak pada niat internal dan konsistensi tindakan.
Aktivisme sejati biasanya memiliki tiga elemen:
Kesadaran
Komitmen
Tindakan nyata
Jika berhenti di level simbolik, maka ia lebih berfungsi sebagai pembentukan identitas diri daripada transformasi sosial.