← Beranda
9 Hal yang Dilakukan Orang di Kedai Kopi yang Secara Tidak Langsung Menunjukkan Mereka Tumbuh di Keluarga Kelas Menengah ke Bawah Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 27 Januari 2026 | 03.55 WIB
seseorang yang melakukan hal unik di kedai kopi./Freepik/user6370050

JawaPos.com - Kedai kopi sering dianggap ruang netral: siapa saja boleh masuk, duduk, dan memesan minuman.

Tapi menurut psikologi sosial, latar belakang kelas ekonomi seseorang sering tercermin lewat kebiasaan kecil, terutama saat mereka berada di ruang publik yang “semi-mewah” seperti coffee shop.

Orang yang tumbuh di keluarga kelas menengah ke bawah biasanya mengembangkan pola pikir bertahan (survival mindset): hemat, waspada, dan sangat sadar nilai uang.

Pola ini tidak hilang hanya karena kondisi ekonomi membaik. Ia melekat dalam perilaku sehari-hari—termasuk di kedai kopi.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (25/1), terdapat sembilan perilaku yang sering muncul.

1. Membaca Menu Lama Sekali, Walau Antri

Secara psikologis, ini berkaitan dengan loss aversion—ketakutan membuat keputusan yang “salah” secara finansial.

Orang yang sejak kecil terbiasa menghitung uang akan:

Membandingkan harga dan ukuran

Memikirkan “mana yang paling worth it”

Takut menyesal setelah memesan

Bukan karena pelit, tapi karena otak mereka dilatih untuk menghindari pemborosan sekecil apa pun.

Baca Juga: Lebih Memilih Tinggal di Rumah daripada Menghadiri Acara Sosial Lainnya? Anda Mungkin Memiliki 7 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

2. Bertanya Detail Soal Harga dan Isi

“Mbak, ini bedanya apa ya sama yang itu?”
“Ini ukurannya segini beneran?”

Dalam psikologi kelas sosial, ini disebut high price sensitivity. Orang dari kelas menengah ke bawah terbiasa memastikan:

Tidak ada biaya tersembunyi

Apa yang dibayar sebanding dengan yang didapat

Berbeda dengan mereka yang tumbuh di kelas lebih atas, yang cenderung fokus pada pengalaman, bukan nilai ekonominya.

3. Merasa “Nggak Enakan” Duduk Lama

Banyak orang tanpa sadar:

Gelisah kalau duduk terlalu lama

Takut dianggap “cuma numpang”

Sesekali melirik kasir

Ini berasal dari internalized scarcity mindset—perasaan bahwa ruang nyaman bukan sepenuhnya “hak” mereka.

Padahal, secara objektif, duduk lama sambil minum kopi itu sah. Tapi tubuh mereka menyimpan memori sosial: jangan merepotkan, jangan mengambil lebih dari porsi kita.

4. Memilih Menu Paling Aman

Alih-alih mencoba minuman aneh atau mahal, mereka memilih:

Kopi hitam

Es kopi susu standar

Menu yang sudah familiar

Menurut psikologi, ini bentuk risk minimization. Orang yang hidup dengan sumber daya terbatas belajar bahwa eksperimen itu mahal—kalau tidak suka, uangnya sudah hilang.

5. Sangat Sadar Harga Tambahan

Tambahan:

Sirup

Oat milk

Extra shot

Sering langsung ditolak atau dipertimbangkan lama.

Ini bukan soal tidak mampu, tapi kondisi mental yang terbiasa memisahkan “kebutuhan” dan “kenikmatan”. Tambahan dianggap kemewahan kecil yang dulu jarang bisa diambil.

6. Lebih Fokus ke Fungsi daripada Estetika

Mereka datang ke kedai kopi untuk:

Kerja

Bertemu teman

Istirahat sebentar

Bukan untuk foto-foto atau konten. Secara psikologis, kelas menengah ke bawah lebih terbiasa berpikir “apa gunanya?” daripada “apa kesannya?”.

Ini hasil didikan yang menekankan fungsi dan efisiensi sejak kecil.

7. Menjaga Barang dengan Sangat Hati-Hati

Tas didekatkan.
Laptop dipeluk.
HP tidak ditinggal.

Ini bukan paranoia—melainkan hyper-vigilance, kebiasaan waspada yang terbentuk di lingkungan di mana kehilangan barang bisa jadi masalah besar.

8. Tidak Terlalu Menuntut Pelayanan

Minuman salah?
“Ah, nggak apa-apa.”

Psikologi menyebut ini low entitlement behavior. Orang yang tumbuh di keluarga kelas menengah ke bawah sering belajar:

Jangan merepotkan orang

Jangan merasa “berhak berlebihan”

Mereka cenderung menyesuaikan diri, bukan menuntut.

9. Tetap Menghitung di Kepala Walau Sudah Mampu

Bahkan ketika sekarang:

Punya uang

Gaji cukup

Bisa beli apa saja

Otak tetap otomatis menghitung:
“Kalau beli ini, sisa berapa ya?”

Ini disebut financial memory imprint—jejak mental dari masa kecil yang tidak hilang meski kondisi berubah.

Penutup: Ini Bukan Kekurangan, Tapi Ketahanan

Psikologi modern menekankan bahwa perilaku-perilaku ini bukan tanda rendah diri, melainkan bukti:

Adaptasi

Ketangguhan

Kecerdasan bertahan hidup

Orang yang tumbuh di kelas menengah ke bawah sering justru:

Lebih sadar nilai

Lebih tahan krisis

Lebih menghargai hal kecil

Dan di kedai kopi, semua itu muncul—bukan sebagai kelemahan, tapi sebagai cerita hidup yang masih berbicara lewat kebiasaan kecil.

EDITOR: Hanny Suwindari