← Beranda
Orang yang Menolak Kode QR dan Pembayaran Non Tunai Kemungkinan Besar Memiliki 5 Ciri Kepribadian Unik Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahJumat, 23 Januari 2026 | 19.26 WIB
seseorang yang menolak pembayaran Non Tunai./Freepik/EyeEm

JawaPos.com - Di tengah derasnya arus digitalisasi, pembayaran tanpa uang tunai—mulai dari QR code, e-wallet, hingga mobile banking—telah menjadi bagian dari keseharian banyak orang.

Di kafe kecil, parkiran, bahkan pedagang kaki lima, tulisan “QRIS tersedia” kini terasa lebih umum daripada “hanya tunai”.

Namun menariknya, tidak semua orang menyambut perubahan ini dengan antusias. Ada sebagian individu yang tetap memilih uang fisik, menolak memindai QR, atau merasa tidak nyaman meninggalkan transaksi tunai.

Sikap ini sering kali dianggap “ketinggalan zaman”, padahal menurut psikologi, penolakan terhadap pembayaran digital tidak selalu soal gagap teknologi.

Justru, di balik preferensi tersebut, tersembunyi pola kepribadian yang cukup khas dan menarik untuk dipahami.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (23/1), terdapat lima ciri kepribadian unik yang, menurut sudut pandang psikologi, kerap dimiliki oleh orang-orang yang enggan menggunakan kode QR dan sistem pembayaran non-tunai.

1. Memiliki Kebutuhan Tinggi akan Kendali dan Kejelasan

Dalam psikologi kepribadian, sebagian orang memiliki high need for control—kebutuhan kuat untuk merasakan kendali langsung atas apa yang mereka lakukan, termasuk urusan keuangan.

Uang tunai memberikan sensasi yang sangat konkret: bisa dilihat, disentuh, dihitung, dan disimpan secara fisik.

Saat uang berpindah tangan, prosesnya jelas dan final. Berbeda dengan pembayaran digital yang bersifat abstrak—hanya angka di layar yang berkurang.

Bagi tipe kepribadian ini, kode QR dan e-wallet terasa “terlalu tak kasat mata”. Mereka cenderung merasa lebih aman ketika bisa memegang bukti fisik bahwa uang benar-benar ada dan benar-benar keluar.

Ini bukan soal tidak percaya teknologi, melainkan kebutuhan psikologis akan kejelasan dan kontrol langsung.

2. Cenderung Lebih Hati-hati dan Skeptis terhadap Risiko

Orang yang menolak pembayaran non-tunai sering kali memiliki tingkat risk aversion yang tinggi. Dalam psikologi, ini berarti mereka lebih sensitif terhadap potensi risiko, meskipun probabilitasnya kecil.

Isu seperti kebocoran data, akun dibobol, salah transfer, atau sistem error menjadi perhatian serius. Sekalipun kasusnya jarang, pikiran mereka secara alami akan fokus pada kemungkinan terburuk.

Sebaliknya, uang tunai dipersepsikan sebagai sistem sederhana dan “teruji oleh waktu”. Tidak ada password, tidak ada server down, tidak ada notifikasi gagal. Bagi mereka, kesederhanaan ini memberikan rasa aman yang sulit ditandingi oleh teknologi secanggih apa pun.

3. Menghargai Rutinitas dan Stabilitas Lebih dari Inovasi

Tidak semua orang menikmati perubahan cepat. Dalam kerangka Big Five Personality, individu dengan tingkat openness to experience yang lebih rendah cenderung nyaman dengan rutinitas yang sudah dikenal.

Bagi tipe ini, uang tunai bukan sekadar alat pembayaran, melainkan bagian dari pola hidup yang stabil. Cara mereka mengatur dompet, menghitung pengeluaran, hingga menyimpan uang memiliki ritme tersendiri yang terasa “pas”.

Ketika teknologi baru datang dan memaksa perubahan kebiasaan—aplikasi baru, update sistem, aturan baru—muncul resistensi alami. Bukan karena menolak kemajuan, tetapi karena mereka menghargai kestabilan lebih dari sensasi mencoba hal baru.

4. Memiliki Kesadaran Finansial yang Sangat Konkret

Menariknya, beberapa studi psikologi perilaku menunjukkan bahwa uang tunai membuat seseorang lebih sadar saat membelanjakan uang. Rasa “kehilangan” uang lebih terasa ketika lembaran fisik berpindah dari tangan ke tangan.

Orang yang memilih tunai sering kali memiliki hubungan emosional yang lebih nyata dengan uang. Mereka bisa langsung melihat dompet menipis, merasakan beratnya keputusan membeli sesuatu, dan lebih mudah mengontrol impuls belanja.

Sebaliknya, pembayaran digital—yang hanya melibatkan satu kali klik—bisa terasa terlalu mudah dan cepat. Bagi kepribadian tertentu, kemudahan ini justru dianggap berbahaya karena mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan.

5. Cenderung Mandiri dan Tidak Suka Bergantung pada Sistem

Ciri terakhir yang cukup kuat adalah kecenderungan untuk mandiri dan tidak ingin bergantung pada infrastruktur eksternal. Pembayaran digital membutuhkan banyak prasyarat: ponsel aktif, baterai cukup, koneksi internet, aplikasi berfungsi normal, dan sistem tidak bermasalah.

Orang dengan kepribadian mandiri sering merasa tidak nyaman jika aktivitas sederhana—seperti membayar makanan—bergantung pada terlalu banyak faktor. Uang tunai, bagi mereka, adalah simbol kemandirian penuh: selama uang ada di tangan, transaksi bisa dilakukan kapan saja, di mana saja.

Sikap ini sering disalahartikan sebagai keras kepala, padahal sesungguhnya berakar dari nilai personal tentang kemandirian dan keandalan diri sendiri.

Kesimpulan: Bukan Antiteknologi, Tapi Cerminan Kepribadian

Menolak kode QR dan pembayaran tanpa uang tunai bukan berarti seseorang kolot, tidak modern, atau anti kemajuan.

Dari sudut pandang psikologi, preferensi ini sering kali mencerminkan kepribadian yang berhati-hati, sadar kontrol, menghargai stabilitas, dan memiliki hubungan yang sangat nyata dengan uang.

Di era digital, tidak semua orang harus bergerak dengan kecepatan yang sama. Sebab pada akhirnya, teknologi seharusnya melayani manusia—bukan memaksa manusia meninggalkan cara yang membuat mereka merasa aman dan nyaman.

EDITOR: Hanny Suwindari