← Beranda

Seni Menua dengan Bahagia: 8 Kebiasaan Orang yang Menemukan Versi Terbaik Diri di Usia 60–70 Tahun

Lania MonicaRabu, 7 Januari 2026 | 05.10 WIB
Ilustrasi seni menua dengan bahagia (Geediting)


JawaPos.com - Pernahkah Anda memperhatikan bahwa sebagian orang justru semakin bersinar di usia 60 dan 70 tahun, sementara yang lain terlihat kehilangan arah dan semangat? Perbedaannya bukan terletak pada keberuntungan atau faktor genetik, melainkan pada pilihan-pilihan kecil yang dijalani setiap hari.

Pengalaman pensiun dini di usia 62 menjadi titik balik penting bagi banyak orang. Transisi mendadak dari kehidupan yang sibuk ke waktu luang tanpa struktur sering kali terasa membingungkan. Namun dari situ pula muncul satu pelajaran berharga: menua dengan baik adalah sebuah seni yang membutuhkan kesadaran dan kebiasaan yang disengaja.

Dilansir dari laman Geediting, Selasa (06/01), orang-orang yang bahagia di usia 60-an dan 70-an bukan sekadar “mengalir begitu saja”. Mereka secara aktif membentuk versi terbaik diri mereka melalui kebiasaan-kebiasaan berikut.

1. Terus Belajar Tanpa Beban Harus Sempurna

Banyak orang mengira belajar hal baru hanya milik anak muda. Padahal, orang bahagia di usia senja justru menikmati proses belajar tanpa tekanan hasil. Mereka tidak mengejar kesempurnaan, melainkan pengalaman.

Baik belajar alat musik, bahasa asing, melukis, atau memahami teknologi baru, tujuan utamanya adalah menjaga pikiran tetap aktif dan rasa ingin tahu tetap hidup.

2. Menciptakan Ritual Harian yang Memberi Makna

Ritual sederhana—seperti menulis jurnal sebelum tidur, menikmati kopi pagi, atau berjalan santai sore hari—memberi struktur tanpa membuat hidup terasa kaku.

Di usia lanjut, ritual menjadi jangkar emosional yang membantu seseorang merasakan alur waktu dengan lebih bermakna. Ini bukan kewajiban, melainkan kesenangan yang dipilih dengan sadar.

3. Selektif dalam Bersosialisasi

Orang yang bahagia di usia 60–70 tahun telah menguasai seni berkata “tidak” tanpa rasa bersalah. Mereka menyadari bahwa waktu dan energi terlalu berharga untuk dihabiskan pada relasi atau acara yang menguras emosi.

Alih-alih menjauh dari semua orang, mereka memilih berinvestasi pada hubungan yang benar-benar bermakna. Kualitas menggantikan kuantitas.

4. Tetap Terhubung dengan Generasi Lebih Muda

Interaksi lintas generasi membantu menjaga perspektif tetap segar. Orang bahagia di usia senja senang berbagi pengalaman sekaligus belajar cara pandang baru dari generasi muda.

Hubungan ini membuat mereka tetap relevan, terbuka terhadap perubahan, dan terhubung dengan dunia yang terus berkembang—tanpa harus berpura-pura menjadi muda kembali.

5. Menggerakkan Tubuh dengan Penuh Empati

Alih-alih memaksakan tubuh seperti di usia muda, mereka memilih bergerak dengan penuh kesadaran. Fokusnya bukan lagi pada performa maksimal, melainkan mobilitas jangka panjang dan kenyamanan.

Entah itu berjalan kaki, berenang, yoga ringan, atau tai chi, mereka merayakan apa yang masih bisa dilakukan tubuh—dan beristirahat tanpa rasa bersalah saat dibutuhkan.

6. Menumbuhkan Keheningan Batin

Di usia ini, banyak orang bahagia menemukan nilai dari diam dan hadir sepenuhnya. Melalui meditasi, doa, berkebun, atau sekadar menikmati alam, mereka belajar bahwa ketenangan bukanlah kekosongan.

Keheningan memberi ruang untuk bernapas tanpa tuntutan produktivitas, sesuatu yang sering terabaikan di masa-masa sebelumnya.

7. Mengubah Hubungan dengan Barang Kepemilikan

Orang bahagia di usia senja menyadari bahwa semakin sedikit barang, sering kali semakin lapang hidup terasa. Mereka menjadi lebih selektif—menyimpan yang berguna atau bermakna, dan melepaskan sisanya.

Bagi mereka, warisan terbaik bukanlah tumpukan benda, melainkan kenangan, nilai hidup, dan kebijaksanaan.

8. Mempraktikkan Rasa Syukur yang Sehat

Rasa syukur yang dijalani bukanlah kepositifan palsu. Mereka tidak menutup mata terhadap tantangan, kehilangan, atau keterbatasan yang datang bersama usia.

Namun di saat yang sama, mereka tetap mampu menghargai hal-hal kecil: secangkir kopi hangat, percakapan yang tulus, atau hari yang berjalan dengan baik. Syukur menjadi cara menjaga perspektif, bukan menyangkal realitas.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho