← Beranda

Psikologi Mengungkap 9 Sifat Tersembunyi Orang yang Selalu Menjauh Saat Hubungan Mulai Dekat

Lania MonicaJumat, 26 Desember 2025 | 05.39 WIB
ilustrasi perempuan yang diam-diam kehilangan kebahagiaan hidup menurut psikologi (Geediitng)

JawaPos.com - Pernah bertemu seseorang yang awalnya ramah, bahkan menyenangkan, tetapi perlahan menjauh begitu hubungan mulai terasa akrab? Seolah ada “dinding tak terlihat” yang muncul setiap kali kedekatan emosional mulai terbangun.

Dikutip dari laman Geediting, Rabu (24/12), perilaku ini bukan terjadi tanpa alasan. Dalam psikologi, orang yang cenderung mendorong orang lain menjauh biasanya memiliki pola emosional tertentu yang terbentuk dari pengalaman hidup, luka lama, atau mekanisme perlindungan diri.

Berikut sembilan sifat yang kerap muncul pada orang-orang yang menjauh sebelum hubungan menjadi terlalu dekat.

1. Sangat Takut pada Kerentanan Emosional

Bagi mereka, membuka perasaan terasa seperti ancaman. Saat ditanya hal personal, refleks pertama adalah bercanda, mengalihkan topik, atau menutup diri.

Kerentanan dianggap sebagai kelemahan karena di masa lalu, menunjukkan emosi sering berujung pada rasa sakit atau kekecewaan.

2. Selalu Mengantisipasi Kekecewaan

Orang dengan pola ini cenderung berpikir, “Pasti nanti juga mengecewakan.” Bahkan sebelum sesuatu terjadi, mereka sudah menyiapkan akhir yang buruk.

Akibatnya, keterlambatan kecil atau pesan yang lupa dibalas langsung ditafsirkan sebagai bukti bahwa orang lain tidak peduli.

3. Memiliki Kebutuhan Kontrol yang Terselubung

Menjauh lebih dulu memberi rasa aman karena mereka merasa memegang kendali. Lebih baik pergi sebelum ditinggalkan.

Dalam psikologi, ini bukan kontrol terhadap orang lain, melainkan upaya mengontrol rasa sakit dan ketidakpastian dalam hubungan.

4. Sulit Memercayai Orang Lain (Termasuk Diri Sendiri)

Masalah kepercayaan tidak hanya soal takut dikhianati, tetapi juga tidak percaya pada kemampuan diri sendiri dalam menghadapi konflik, penolakan, atau rasa kecewa.

Mereka selalu waspada, menunggu tanda-tanda bahwa hubungan akan gagal.

5. Terlalu Mengagungkan Kemandirian

Kalimat seperti “Aku nggak butuh siapa-siapa” sering menjadi prinsip hidup. Sekilas terdengar kuat, tetapi sebenarnya bisa menjadi penjara emosional.

Kemandirian yang ekstrem sering lahir dari pengalaman bergantung pada orang yang tidak bisa diandalkan di masa lalu.

6. Cenderung Menyabotase Hal Baik

Saat hubungan berjalan lancar, justru muncul rasa tidak nyaman. Kebahagiaan terasa asing, sementara stabilitas terasa mencurigakan.

Tanpa sadar, mereka memicu konflik, bersikap terlalu kritis, atau menarik diri secara emosional ketika segalanya mulai membaik.

7. Menggunakan Amarah sebagai Tameng

Marah lebih mudah daripada mengakui rasa takut, sedih, atau terluka. Itulah sebabnya kemarahan sering menjadi pelindung utama.

Dalam psikologi, amarah adalah emosi sekunder yang menutupi perasaan terdalam yang sulit dihadapi.

8. Selalu Bertahan di Permukaan

Obrolan ringan, candaan, dan topik aman menjadi zona nyaman. Mereka pandai berbicara lama tanpa benar-benar membuka diri.

Hasilnya, orang lain merasa dekat secara sosial, tetapi tidak pernah benar-benar mengenal siapa mereka sebenarnya.

9. Mengira Isolasi sebagai Bentuk Kekuatan

Menyendiri dianggap sebagai simbol kemandirian dan ketangguhan. Padahal, ada perbedaan besar antara memilih kesendirian dan terjebak dalam isolasi.

Psikologi menegaskan bahwa kekuatan sejati bukanlah menutup diri dari risiko, melainkan berani membuka hati meski ada kemungkinan terluka.

EDITOR: Hanny Suwindari