← Beranda

Kamu Membuat 8 Komentar Ini Saat Kesal? Psikologi Mengatakan Anda Lebih Agresif Pasif dari yang Anda Sadari

Irfan FerdiansyahSenin, 8 Desember 2025 | 01.20 WIB
seseorang yang selalu membuat komentar saat kesal./Freepik/Flowo

Jawapos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menganggap agresif pasif sebagai sesuatu yang dilakukan orang lain—rekan kerja yang sulit ditebak, pasangan yang diam-diam menyindir, atau teman yang suka memberikan “pujian” yang terasa menusuk.

Namun, tanpa disadari, perilaku ini kadang muncul dari diri kita sendiri, terutama ketika sedang jengkel atau merasa tidak didengarkan.

Psikologi menggambarkan agresif pasif sebagai ekspresi kemarahan atau frustrasi secara tidak langsung.

Bukan dengan konfrontasi terbuka, melainkan lewat komentar halus, sarkasme, atau diam yang disengaja.

Dan menariknya, banyak orang yang melakukan ini tanpa memahami bahwa itu adalah tanda agresif pasif.

Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (4/12), jika Anda pernah mengucapkan delapan jenis komentar berikut saat sedang kesal, mungkin Anda lebih agresif pasif dari yang Anda kira.

1. “Terserah kamu deh.”

Kalimat klasik ini terlihat simpel, tapi seringkali mengandung campuran kekecewaan, sindiran, dan rasa tidak dihargai.

Anda sebenarnya ingin sesuatu, namun menahannya sambil berharap orang lain akan mengerti—tanpa harus mengatakannya secara langsung.

Masalahnya? Orang lain tak selalu bisa membaca pikiran.

Dan saat “terserah” diucapkan dengan nada dingin, itu jadi alat untuk membuat mereka merasa bersalah.

2. “Aku nggak marah, kok.” (Padahal jelas marah)

Ini adalah bentuk agresif pasif paling umum.

Anda menolak mengakui perasaan negatif, namun tetap menunjukkan tanda-tanda bahwa ada sesuatu yang salah—dari nada suara yang berubah, tatapan singkat, hingga cara menjawab yang pendek-pendek.

Alih-alih menyelesaikan masalah, ini justru membuat orang lain bingung dan tertekan.

3. “Ya, aku sih nggak apa-apa. Kamu kan yang penting.”

Kalimat ini seolah merendah, tapi sebenarnya menyindir.

Pesannya jelas: Anda merasa tidak diprioritaskan, namun memilih menyatakan itu secara terselubung.

Komentar ini bisa menciptakan ketegangan karena membuat orang lain bertanya-tanya: “Apa maksudnya?”

4. “Aku cuma bercanda, kok.” (Setelah menyindir keras)

Humor sering digunakan sebagai tameng untuk menyampaikan kritik pedas.

Namun kalau Anda kerap “bercanda” sambil membuat orang lain tersinggung, lalu menghindari tanggung jawab dengan alasan candaan, itu adalah tanda khas agresif pasif.

Candaan yang menyakitkan tetaplah menyakitkan—terlepas dari bungkus humornya.

5. “Kamu nggak usah khawatir, aku udah biasa kok.”

Ini biasanya diucapkan ketika Anda merasa diabaikan atau kurang dihargai, tapi enggan mengakuinya.

Pesan tersiratnya: “Aku sebenarnya terluka, tapi aku ingin kamu sadar sendiri tanpa aku harus mengatakannya.”

Ironisnya, cara ini justru membuat komunikasi semakin kabur.

6. “Bagus deh. Lain kali bilang aja kalau kamu nggak butuh aku.”

Komentar ini muncul ketika Anda merasa tidak dianggap, namun alih-alih mengutarakan kebutuhan emosional Anda, Anda memilih memberikan sentilan.

Nada kalimatnya menyalahkan dan memancing rasa bersalah, meskipun tidak mengatakan secara langsung apa yang sebenarnya Anda inginkan.

7. “Oh… oke.” (Dengan nada datar dan jawaban super pendek)

Meskipun hanya satu kata, “oke” bisa memuat satu paragraf emosi terpendam.

Psikologi menyebut ini sebagai bentuk stonewalling ringan, yaitu menahan komunikasi tanpa menyatakan keberatan secara verbal.

Ini adalah bentuk agresif pasif nonverbal—seakan Anda berkata: “Aku kecewa. Tebak sendiri alasannya.”

8. “Ya udah, aku kerjain semuanya sendiri aja.”

Kalimat ini sering diucapkan saat merasa terbebani atau kurang dibantu.

Anda tidak meminta bantuan secara jelas sejak awal, tapi kemudian menyatakan pengorbanan Anda dengan cara yang memicu rasa bersalah orang lain.

Motifnya bukan hanya frustrasi, tetapi juga kebutuhan untuk diakui.

Kesimpulan: Agresif Pasif Bukan Berarti Anda Orang Buruk—Anda Hanya Perlu Cara Bicara yang Lebih Sehat

Jika Anda merasa pernah mengucapkan beberapa komentar di atas, jangan buru-burut menyalahkan diri.

Perilaku agresif pasif sering tumbuh dari kebiasaan menahan emosi, takut konflik, atau tidak terbiasa mengungkapkan kebutuhan secara terbuka.

Kabar baiknya, pola ini bisa diperbaiki.

Mulailah dengan:

Mengakui perasaan Anda secara jujur

Mengungkapkan kebutuhan secara langsung

Menghindari sindiran dan “kode”

Belajar menghadapi konflik tanpa melukai diri sendiri atau orang lain

Dengan melatih komunikasi asertif, Anda bisa keluar dari pola agresif pasif dan membangun hubungan yang lebih sehat, jujur, dan damai.

EDITOR: Hanny Suwindari