JawaPos.com - Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki beragam sifat dan kepribadian yang membentuk cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Kamu tentu pernah menjumpai berbagai tipe kepribadian yang berbeda, termasuk orang yang cenderung dikenal sebagai pencari perhatian.
Sesuai namanya, orang dengan sifat ini sering berusaha melakukan berbagai cara agar menjadi pusat perhatian. Mulai dari tindakan sederhana seperti membagikan cerita pribadi hingga perilaku yang berlebihan seperti bermain peran sebagai korban (victim blaming), semua dilakukan demi mendapat pengakuan atau simpati dari orang lain.
Namun, bila dilakukan secara berlebihan, perilaku ini bisa berdampak negatif, tidak hanya bagi orang di sekitarnya, tetapi juga bagi dirinya sendiri.
Lantas, apa sebenarnya yang membuat seseorang memiliki sifat pencari perhatian? Tentu ada alasan atau faktor psikologis yang melatarbelakanginya.
Dilansir dari Healthline dan Very Well Mind, berikut enam penyebab umum yang bisa membuat seseorang memiliki kecenderungan untuk mencari perhatian.
1. Kesepian
Penyebab pertama dari sifat pencari perhatian dalam diri seseorang adalah kesepian. Sebagaimana namanya, kesepian adalah perasaan ketika seseorang merasa sendiri karena aspek eksternal maupun aspek internal.
Rasa kesepian ini kemudian mendorong keinginan untuk mencari perhatian, yang bisa berlaku ke hampir sama orang yang mengalami rasa kesepian. Bahkan orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian sekalipun bisa berubah menjadi orang yang menginginkan perhatian ketika mereka merasa kesepian.
2. Masa Kecil Buruk
Penyebab kedua dari sifat pencari perhatian dalam diri seseorang adalah masa kecil yang buruk. Ada banyak kejadian di masa lalu yang bisa membentuk bagaimana seseorang memiliki kepribadian di masa mereka dewasa.
Contohnya seseorang yang memiliki masalah ketika ia kecil bisa mendorong rasa pencari perhatian ketika mereka dewasa. Masalah-masalah yang dimaksud bisa jadi penyiksaan trauma tidak dicintai depresi rasa marah berlebih dan masih banyak lagi.
Hal-hal yang terjadi di masa kecil tersebut kemudian membentuk bagaimana ia berpikir dan bersikap di kemudian hari. Masa kecil tersebut bisa mendorong seseorang berperilaku pencari perhatian hingga ke tahap yang berlebihan.
3. Rasa Cemburu
Penyebab ketiga dari sifat pencari perhatian dalam diri seseorang adalah rasa cemburu. Cemburu yang dimaksud tidak hanya cemburu kepada pasangan lawan jenis namun juga cemburu kepada teman ataupun seseorang secara spesifik.
Rasa cemburu ini bisa muncul ketika ia merasa terancam akan kehadiran atau eksistensi orang lain. Adanya kehadiran orang lain tersebut ditakutkan akan merebut semua perhatian yang dimilikinya dan beralih kepada orang tersebut.
Hal ini kemudian mendorong seseorang melakukan berbagai perilaku atau aktivitas pencari perhatian untuk tetap mempertahankan perhatian tertuju pada mereka. Mereka ingin perhatian orang-orang tetap terfokus pada mereka dan tidak teralih ke orang baru tersebut.
4. Isu Percaya Diri
Penyebab keempat dari sifat mencari perhatian dalam diri seseorang adalah isu percaya diri. Dalam diri seseorang masalah kepercayaan diri bisa menjadi masalah yang utama dan bisa menggerakkan perilaku dan juga kepribadian seseorang.
Seseorang yang memiliki masalah pada kepercayaan dirinya bisa menganggap bahwa dirinya tidak penting tidak berbakat dan hal-hal buruk lainnya. Pemikiran ini bisa mendorong seseorang untuk melakukan suatu aktivitas atau perilaku pencari perhatian.
Dengan melakukan aktivitas atau perilaku pencari perhatian mereka bisa mendapatkan perhatian yang selama ini mereka cari. Hal ini akan membuat diri mereka merasa penuh dan merasa diterima dan merasa berharga.
5. Masalah Mental
Penyebab penyebab kelima dari sifat pencari perhatian dalam diri seseorang adalah masalah mental. Yang dimaksud dengan masalah mental bukan berarti seseorang yang memiliki masalah mental memiliki sifat pencari perhatian sebagai perangai yang buruk.
Namun ada beberapa masalah mental yang bisa mendorong perilaku pencari perhatian tersebut. Salah satunya yakni kecemasan sosial. Seseorang yang memiliki kecemasan sosial bisa merasa cemas dan haus akan validasi orang-orang di sekeliling mereka baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Hal ini menyebabkan mereka bisa melakukan aktivitas atau perilaku pencari perhatian dalam interaksi keseharian mereka. Ada juga masalah mental di mana seseorang merasa buruk jika mereka tidak mendapat perhatian atau tidak menjadi pusat perhatian.
Masalah mental lain seperti depresi narsistik dan lainnya juga bisa mendorong seseorang menjadi sosok pencari perhatian. Mereka bisa menjadi sangat marah cemas ataupun hendak melukai diri sendiri ketika mereka tidak mendapatkan perhatian.
Kelima poin di atas merupakan beberapa penyebab dari adanya sifat mencari perhatian dalam diri seseorang. ketika kamu merasa memiliki sifat atau perilaku pencari perhatian kamu bisa menelaah kelima poin di atas untuk menentukan apakah kamu memiliki setidaknya salah satu diantara alasan di atas.
Terkait poin terakhir bukan berarti ketika kamu berperilaku pencari perhatian kamu secara otomatis memiliki masalah atau penyakit mental. Perlu adanya diagnosis resmi dari pihak profesional seperti dokter atau psikolog untuk bisa menentukan kamu memiliki masalah mental atau tidak. (*)