← Beranda

Inilah Efek Belanja Impulsif untuk Pelarian Emosional dan Cara Menghentikannya

Intan PuspitasariSabtu, 27 September 2025 | 06.46 WIB
Inilah Efek Belanja Impulsif untuk Pelarian Emosional dan Cara Menghentikannya (Freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa stres, lelah, atau bosan lalu mencoba menghibur diri dengan berbelanja? Awalnya terasa menyenangkan, ada rasa puas, semacam “reward” untuk diri sendiri. Namun, tidak lama setelah itu, perasaan bersalah mulai muncul.  Jika situasi ini terdengar akrab denganmu, kamu tidak sendirian.

Fenomena ini disebut emotional spending atau belanja karena dasar emosi, misal karena stress, marah, atau sedih. Ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan pola psikologis yang membuat kita terjebak dalam lingkaran tanpa kendali. 

Itu memang bisa membuat kita merasa baik sesaat. Itu karena setiap kali kita belanja, otak kita melepaskan dopamin, hormon yang memicu rasa senang dan puas. Bahkan sekadar menambahkan barang ke keranjang belanja online bisa memberi sensasi ini. Namun, yang diberi “reward” oleh otak bukanlah keputusan yang sadar, melainkan proses mengejar sensasi bahagia secara instan.

Sayangnya, semakin sering dilakukan, efeknya makin cepat hilang. Akhirnya membeli sekali saja tidak cukup, dan kita terus memburu perasaan lega sementara itu. Emotional spending pun menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.

Selain dopamin, belanja juga memberi ilusi kontrol. Saat hidup terasa kacau, membeli sesuatu bisa membuat kita merasa berkuasa untuk sesaat. Namun ironisnya, stres justru melemahkan kendali diri sehingga dorongan untuk berbelanja makin kuat. 

Intinya meskipun terasa seperti solusi cepat, emotional spending membawa konsekuensi serius misalnya menjadi beban secara finansial, perasaan menyesal kemudian, hingga emosi yang akhirnya menumpuk karena hanya ditutupi dengan kebahagiaan sesaat. 

Kabar baiknya, pola ini masih bisa diputus. Berikut langkah-langkah yang bisa dicoba seperti dilansir dari kanal Youtube Psyh2go.

1. Buat Jeda Sebelum Ingin Belanja

Saat dorongan belanja muncul, jangan langsung menekan tombol “checkout”. Tanyakan pada diri sendiri dulu,  Apakah aku benar-benar butuh ini? Apakah ini hanya untuk memperbaiki mood sementara? Jika ragu, tunggu 24 jam. Seringkali, keinginan itu akan hilang dengan sendirinya.

2. Cari Sumber “Dopamin” Lain

Belanja memberi rasa senang, tapi itu bisa digantikan dengan aktivitas lain. Misalnya, olahraga ringan, jalan kaki, atau yoga, menggambar, menulis, atau memasak, ngobrol dengan teman atau keluarga atau sekadar keluar rumah untuk menghirup udara segar.

3. Atur Keuanganmu dengan Bijak

Buat budget khusus untuk keinginan belanjamu. Misalnya, alokasikan dana kecil tiap bulan hanya untuk belanja bebas rasa bersalah. Atau gunakan sistem wishlist, tunggu seminggu sebelum membeli, dan lihat apakah barang itu masih terasa penting atau sekadar fomo saja.

4. Kenali Pemicu Emosionalmu

Apakah kamu cenderung belanja saat stres, bosan, atau kesepian? Dengan menyadari pemicu, kamu bisa mencari cara lain yang lebih sehat untuk mengatasinya, misalnya meditasi, journaling, atau sekadar istirahat.

Sebagai penutup, emotional spending bukan tentang terbawa nafsu belanja semata, melainkan tentang bagaimana otak kita merespons stres dan emosi. Belanja memang bisa memberi rasa senang sementara, tapi jika dilakukan untuk menutupi masalah emosional, akibatnya bisa merugikan, baik secara mental maupun finansial.

Ingat, tidak ada yang sempurna. Kita semua punya cara masing-masing untuk menghadapi stres. Yang terpenting bukanlah mengubah segalanya sekaligus, melainkan memulai dari satu pilihan kecil yang lebih sadar setiap harinya. 

Sedikit demi sedikit, kebiasaan baru ini akan menambah rasa damai dan kontrol dalam hidupmu. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak datang dari klik “checkout”, melainkan dari bagaimana kita merawat diri sendiri, baik secara emosional maupun finansial.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho