← Beranda

Kenapa Rasa Iri Sulit Dikendalikan? Ini Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya agar Hidup Lebih Tenang

Lavinia Tiara MalikaSelasa, 16 September 2025 | 04.53 WIB
Rasa iri sering muncul dari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama di media sosial

JawaPos.com – Siapa yang tidak pernah merasa iri? Dalam keseharian, manusia kerap dihadapkan pada perasaan tidak nyaman saat melihat orang lain memiliki pencapaian, kekayaan, atau kebahagiaan yang belum kita miliki. Perasaan ini dikenal sebagai iri hati. Meski tampak sepele, faktanya iri sering menjadi sumber konflik internal dan eksternal.

Psikolog dari Satu Persen – Indonesia Life School menjelaskan, rasa iri muncul sebagai respon alami otak ketika kita membandingkan diri dengan orang lain.

Di satu sisi, iri bisa mendorong seseorang untuk lebih termotivasi mencapai tujuan. Namun, di sisi lain, jika berlebihan, iri bisa melumpuhkan rasa percaya diri hingga menimbulkan kebencian.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Leo Hari Ini 17 Agustus 2025: Tampil Memukau, Tapi Waspadai Rasa Iri

Apa penyebab orang sulit mengendalikan rasa iri?

Menurut dr. Elvine Gunawan, Sp.Kj, iri berkaitan erat dengan kebutuhan manusia untuk merasa cukup dan diakui. Ketika seseorang memiliki luka batin, rendah diri, atau pengalaman masa lalu yang membekas, rasa iri lebih mudah tumbuh. “Iri biasanya muncul karena ada standar yang kita buat sendiri, lalu membandingkannya dengan kehidupan orang lain,” jelasnya dalam salah satu konten edukasi di TikTok.

Selain itu, Irene The Journal dalam videonya menekankan, media sosial menjadi salah satu pemicu terbesar. Scroll timeline yang dipenuhi postingan pencapaian teman, liburan mewah, atau gaya hidup glamor sering kali membuat seseorang merasa hidupnya kurang berharga.

Sementara itu, Nathalia Nabella menambahkan bahwa iri juga dipengaruhi pola pikir kompetitif. “Banyak orang merasa harus selalu berada di atas orang lain. Padahal, hidup bukan sekadar perlombaan,” ujarnya.

Baca Juga: 5 Tips Cerdas Menghadapi Rekan Kerja yang Selalu Iri Pada Pencapaian Anda Agar Tetap Tenang dan Percaya Diri

Bagaimana dampak rasa iri terhadap kehidupan sehari-hari?

Rasa iri tidak hanya berhenti di pikiran, tetapi juga berdampak langsung pada emosi dan hubungan sosial. Dra. Yuli Suliswidiawati, seorang konselor, mengungkapkan bahwa iri dapat menggerus kebahagiaan. “Orang yang terbiasa iri akan lebih mudah stres, sulit bersyukur, dan cenderung merasa hidupnya tidak pernah cukup,” terangnya.

Dampak lain adalah hubungan yang rusak. Rasa iri dapat menumbuhkan sikap tidak tulus, menjauhkan persahabatan, bahkan menimbulkan konflik. Pada tahap yang lebih parah, iri bisa berubah menjadi dengki, yakni keinginan agar orang lain gagal atau kehilangan sesuatu.

Bisakah rasa iri dikendalikan?

Meski tampak sulit, rasa iri bisa dikelola dengan langkah-langkah praktis. Menurut Satu Persen Life School, kunci pertama adalah kesadaran diri. Dengan mengenali kapan iri muncul, seseorang bisa memilih respon yang lebih sehat.

dr. Elvine Gunawan menekankan pentingnya membangun rasa cukup dalam diri. “Belajar menerima bahwa setiap orang punya perjalanan hidup berbeda bisa membantu mengurangi rasa iri,” katanya.

Selain itu, Irene menyarankan latihan mindfulness untuk mengalihkan fokus dari perbandingan menuju rasa syukur. “Alih-alih sibuk melihat hidup orang lain, cobalah menulis tiga hal kecil yang bisa kamu syukuri setiap hari,” jelasnya.

Nathalia Nabella menambahkan tips praktis: batasi konsumsi media sosial. Dengan mengurangi paparan terhadap konten pencapaian orang lain, pikiran akan lebih tenang dan tidak mudah terprovokasi.

Mengapa penting mengatasi rasa iri?

Rasa iri yang dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi penghalang utama kebahagiaan. Alih-alih berkembang, orang justru terjebak dalam perasaan tidak pernah cukup. Dra. Yuli Suliswidiawati menekankan bahwa belajar mengelola iri adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan mental.

Jika diarahkan dengan benar, iri sebenarnya bisa menjadi motivasi. Misalnya, iri terhadap keberhasilan teman bisa dijadikan inspirasi untuk memperbaiki kualitas hidup, bukan sekadar cemburu.

Pada akhirnya, iri adalah bagian dari manusia. Namun, cara kita mengelolanya yang akan menentukan dampaknya. Dengan kesadaran diri, rasa syukur, serta membatasi paparan perbandingan yang tidak sehat, iri bisa diubah menjadi energi positif. Alih-alih merusak mental, rasa iri justru bisa menjadi pengingat untuk lebih fokus pada pertumbuhan diri, bukan sekadar membandingkan dengan orang lain.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho