JawaPos.com – Pernahkah kamu merasa heran saat ada teman, rekan kerja, atau bahkan keluarga yang cepat sekali tersinggung hanya karena komentar kecil?
Fenomena ini belakangan banyak disorot, apalagi di era media sosial ketika satu kalimat bisa memicu perdebatan panjang. Mengapa ada orang yang lebih sensitif dibanding lainnya?
Menurut psikolog Analisa Widyaningrum dalam sebuah konten TikTok, orang yang mudah tersinggung biasanya memiliki luka batin atau pengalaman negatif di masa lalu yang belum terselesaikan.
Baca Juga: Silent Treatment Bikin Hubungan Jadi Toxic? Ini Penyebab Banyak Orang Memilih Diam daripada Bicara
Luka emosional itu membuat mereka lebih waspada dan defensif ketika menerima kritik, bahkan yang sifatnya ringan. “Sering kali, orang mudah tersinggung karena merasa harga dirinya terancam,” jelas Analisa.
Senada dengan itu, akun TikTok @putrithan menambahkan bahwa kondisi mental seseorang berpengaruh besar terhadap tingkat sensitifitas.
Misalnya, ketika seseorang sedang stres, cemas, atau lelah secara emosional, ambang batas kesabaran menjadi lebih tipis.
Akibatnya, hal kecil pun bisa menyinggung perasaan. “Kelelahan mental membuat orang sulit mengendalikan reaksi emosinya,” ujarnya.
Baca Juga: Nyeri Dada Setelah Olahraga? Efek Asam Lambung atau Tanda Masalah Jantung?
Fenomena ini juga banyak dipicu oleh pola pikir yang perfeksionis atau terlalu menuntut. Kreator konten @fn.livia menekankan bahwa ekspektasi tinggi terhadap orang lain sering kali berbalik menjadi kekecewaan. “Kalau standar yang dipasang terlalu tinggi, sedikit saja berbeda, mereka bisa langsung merasa disakiti,” katanya.
Dari sisi sosial, akun TikTok @sundarindah menjelaskan bahwa lingkungan sekitar juga berperan.
Orang yang terbiasa hidup dalam suasana penuh kritik atau tekanan cenderung lebih defensif. Hal ini membuat mereka menanggapi setiap komentar sebagai bentuk serangan.
“Cara seseorang tumbuh dan terbentuk dari lingkungannya akan sangat menentukan bagaimana ia bereaksi,” jelasnya.
Lantas, bagaimana cara menghadapi orang yang mudah tersinggung? Menurut para pakar, kuncinya adalah komunikasi yang lebih empatik.
Hindari kata-kata yang berpotensi memicu salah paham, dan cobalah memahami perspektif lawan bicara.
Psikolog Analisa juga menyarankan agar kita belajar mengelola emosi, baik sebagai pihak yang mudah tersinggung maupun yang berinteraksi dengannya.
Selain itu, penting untuk menumbuhkan self-awareness. Seseorang yang sadar bahwa dirinya mudah tersinggung bisa melatih diri untuk berhenti sejenak sebelum merespons.
Teknik pernapasan dalam, menulis jurnal emosi, atau mengambil jeda sejenak bisa membantu menenangkan diri.
Dari sisi hubungan sosial, membangun lingkungan yang suportif juga sangat penting. Orang akan lebih tenang ketika berada di sekitar teman atau keluarga yang tidak mudah menghakimi. Dalam jangka panjang, pola interaksi yang sehat ini bisa mengurangi kebiasaan reaktif.
Fenomena mudah tersinggung sebetulnya wajar, karena setiap orang pasti punya batas kesabaran.
Namun, jika dibiarkan terus-menerus, hal ini bisa merusak hubungan, baik dalam lingkup pertemanan, pekerjaan, maupun keluarga.
Oleh karena itu, memahami akar penyebabnya sekaligus melatih cara mengelola emosi menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.
Dengan kata lain, mudah tersinggung bukan sekadar “sifat bawaan”, melainkan refleksi dari kondisi emosional seseorang.
Melalui kesadaran diri, dukungan lingkungan, serta komunikasi yang lebih sehat, kebiasaan ini bisa perlahan dikendalikan.
Menariknya, fenomena mudah tersinggung tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada kualitas interaksi sosial secara luas.
Dalam dunia kerja, misalnya, rekan yang cepat tersinggung bisa memicu konflik kecil yang berlarut-larut, sehingga menghambat kolaborasi tim.
Sementara dalam hubungan pribadi, kebiasaan ini dapat menciptakan jarak emosional karena pasangan atau teman merasa takut berbicara jujur. Kondisi ini lama-kelamaan bisa menimbulkan rasa kesepian.
Psikolog mengingatkan bahwa memahami emosi diri sendiri adalah langkah awal yang penting. Semakin seseorang mampu mengenali sumber kemarahannya, semakin besar peluang untuk mengendalikan reaksi berlebihan.
Pada akhirnya, belajar bersikap lebih tenang bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memperbaiki kualitas hubungan dengan orang lain.