← Beranda

Orang yang Sering Menghilang Tanpa Kabar Alias 'Ghosting' Cenderung Punya 7 Ciri Kepribadian Ini, Kata Psikologi

Ajilan Fauza FathayanieRabu, 13 Agustus 2025 | 13.37 WIB
Ilustrasi orang yang sering menghilang tanpa kabar alias

JawaPos.com - Menghilang tanpa kabar atau yang populer disebut ghosting kini menjadi salah satu fenomena yang sering kali terjadi dalam hubungan.

Bagi sebagian orang, tindakan ini mungkin terlihat sebagai cara mudah untuk mengakhiri hubungan atau menghindari masalah.

Namun, di balik keputusan untuk tiba-tiba menghilang tanpa kabar, ternyata ada ciri-ciri kepribadian tertentu yang berperan besar.

Psikologi menjelaskan bahwa ghosting bukan sekadar sikap cuek atau tidak peduli, melainkan cerminan dari sifat, kebiasaan, bahkan pola pikir seseorang dalam menghadapi konflik dan emosi.

Menariknya, ciri-ciri ini tidak hanya berkaitan dengan hubungan percintaan, tetapi juga bisa terjadi dalam pertemanan, pekerjaan, atau interaksi sosial lainnya.

Dilansir dari laman Global English Editing pada Selasa (12/8), berikut merupakan 7 ciri kepribadian yang dimiliki oleh orang yang sering menghilang tanpa kabar alias 'ghosting', menurut psikologi.

Baca Juga: Lahir untuk Sukses! 7 Tanggal Lahir Ini Dipercaya Bisa Raih Kesuksesan Luar Biasa

1. Takut konfrontasi

Banyak orang yang tiba-tiba menghilang tanpa kebar sebenarnya dilatarbelakangi oleh rasa takut untuk berkonfrontasi.

Mereka memandang percakapan yang sulit sebagai sesuatu yang penuh risiko, baik risiko munculnya pertengkaran, rasa tersinggung, maupun suasana yang semakin tidak nyaman.

Bagi mereka, menghilang tanpa kabar terasa lebih aman daripada harus duduk berhadapan dan menjelaskan perasaan atau alasan yang sebenarnya.

Cara ini memang tampak lebih mudah, tetapi pada kenyataannya, menghindar hanya akan menunda masalah dan sering kali meninggalkan luka batin bagi orang yang ditinggalkan.

2. Kecerdasan emosional rendah

Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memahami perasaan diri sendiri, mengelola emosi, dan menunjukkan empati terhadap orang lain.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional rendah sering kali kesulitan menghadapi situasi emosional yang menantang.

Ketika dihadapkan pada masalah atau percakapan yang menyentuh perasaan, mereka lebih memilih untuk menghilang daripada mencoba memahami dan menyelesaikannya.

Hal ini bukan berarti korban ghosting telah berbuat salah, melainkan karena pelakunya belum memiliki kemampuan untuk menangani emosi secara sehat.

Baca Juga: Seperti Sumur Tanpa Dasar! 7 Tanggal Lahir yang Rezekinya Tak Pernah Kering dan Tak Terbatas

3. Kurangnya kedewasaan

Kedewasaan tidak selalu diukur dari usia, melainkan dari cara seseorang menghadapi masalah. Orang yang dewasa mengerti bahwa komunikasi adalah kunci dalam menjaga hubungan.

Mereka sadar bahwa memberikan kejelasan atau penutupan, meskipun tidak menyenangkan, adalah bentuk penghormatan terhadap perasaan orang lain.

Sebaliknya, menghilang tanpa kabar adalah tanda bahwa seseorang belum siap memikul tanggung jawab emosional.

Menghilang tanpa kabar ibarat meninggalkan tugas yang belum selesai, dan hal ini dapat merusak kepercayaan yang telah dibangun.

4. Takut membuka diri

Membuka diri berarti membiarkan orang lain melihat sisi paling jujur dan rentan dari diri kita. Tidak semua orang siap untuk melakukan hal ini.

Beberapa orang merasa bahwa menunjukkan pikiran, perasaan, atau ketakutan mereka adalah risiko yang terlalu besar.

Bagi mereka, kerentanan identik dengan kemungkinan disakiti atau ditolak. Karena itu, alih-alih membangun kedekatan yang lebih mendalam, mereka memilih untuk mundur secara tiba-tiba.

Menghilang tanpa kabar akan menjadi pelarian cepat untuk menghindari risiko dalam membuka hati.

5. Menghindari rasa bersalah

Rasa bersalah dapat menjadi beban yang berat untuk ditanggung. Ada orang yang begitu takut merasakan rasa bersalah hingga mereka memilih menghindarinya sepenuhnya.

Dalam konteks hubungan, hal ini bisa membuat mereka memutuskan untuk menghilang tanpa penjelasan daripada harus menyakiti perasaan orang lain secara langsung.

Ironisnya, niat menghindari rasa bersalah justru meninggalkan rasa sakit yang lebih besar bagi pihak yang ditinggalkan, karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk memahami alasan yang sebenarnya.

Baca Juga: Berkah Tiada Putus! 9 Tanggal Lahir Ini Dikenal Punya Rezeki Mengalir Sepanjang Hidup

6. Bersikap egois

Pada dasarnya, menghilang tanpa kabar adalah tindakan yang sangat mementingkan diri sendiri. Pelakunya lebih mengutamakan kenyamanan dan kemudahan pribadi, tanpa memikirkan dampaknya pada orang lain.

Mereka tahu bahwa menghilang tanpa kabar bisa membuat orang lain bingung atau terluka, tetapi memilih tetap melakukannya demi menghindari kerepotan.

Sikap seperti ini menunjukkan bahwa hubungan yang dijalin tidak didasari oleh rasa saling menghormati, melainkan hanya mengutamakan apa yang menguntungkan bagi diri sendiri.

7. Keinginan untuk mengendalikan

Sekilas, menghilang tanpa kabar terlihat seperti tindakan menyerah atau melepaskan diri dari situasi. Namun, sering kali ada keinginan tersembunyi untuk mengendalikan keadaan.

Dengan memutus komunikasi secara sepihak, pelaku ghosting sebenarnya sedang memegang kendali penuh atas kelanjutan hubungan.

Dengan memutus komunikasi secara sepihak, pelaku mengakhiri semua kesempatan untuk berdiskusi atau memperbaiki keadaan.

Mereka merasa cara ini memberi mereka kendali penuh atas bagaimana hubungan tersebut berakhir, tanpa harus menjelaskan alasan yang sebenarnya.

Tetapi dalam jangka panjang, tindakan seperti ini sering membuat orang kehilangan rasa hormat dan menilai pelaku sebagai pribadi yang tidak bertanggung jawab.

EDITOR: Novia Tri Astuti