← Beranda

8 Ciri Pria yang Lebih Baik Tetap Jomblo, Menurut Psikologi

M Shofyan Dwi KurniawanRabu, 13 Agustus 2025 | 01.07 WIB
8 Ciri Pria yang Lebih Baik Tetap Jomblo, Menurut Psikologi

JawaPos.com - Tidak semua pria harus terburu-buru masuk ke hubungan. Ada yang justru jauh lebih bahagia dan sehat dengan tetap melajang sampai punya keterampilan emosional, stabilitas, dan kesadaran diri yang cukup untuk menjalani hubungan jangka panjang.

Beberapa orang memang berkembang pesat bersama pasangan. Yang lain? Lebih bersinar saat sendirian, setidaknya untuk sementara waktu.

Jika kamu atau seseorang yang kamu kenal merasa cocok dengan beberapa ciri di bawah ini, hidup melajang bukan berarti kalah dalam “perlombaan hubungan”. Justru ini bisa jadi strategi cerdas untuk menjaga diri sendiri dan orang lain.

Dilansir dari VegOut, berikut ini ciri-ciri mereka.

Baca Juga: 8 Frasa yang Hanya Diucapkan Perempuan yang Sangat Egois dalam Percakapan, Menurut Psikologi

1. Punya gaya keterikatan menghindar

Kalau komitmen terasa seperti jebakan, hati-hati. Ini tanda klasik gaya keterikatan menghindar. 

Pria seperti ini biasanya sangat menghargai kemandirian, menganggap keintiman tidak terlalu penting, dan merasa terkekang oleh tuntutan hubungan yang sebenarnya normal.

Mereka mungkin tiba-tiba hilang setelah kencan menyenangkan, merasa risih kalau pesan teks terlalu sering, atau memaksa rutinitas yang kaku. Masalahnya, pasangan sering menafsirkan jarak ini sebagai ketidakpedulian.

Tidak ada yang salah dengan butuh ruang pribadi. Tapi sampai terbiasa menunjukkan kerentanan (misalnya berbagi perasaan atau kebutuhan), pilihan paling aman adalah tetap melajang sambil melatih “otot” emosional itu.

Baca Juga: 7 Perilaku Pria yang Selalu Dihindari Wanita dengan Harga Diri Tinggi, Menurut Psikologi

2. Hidupnya dikuasai misi besar

Ada masa di hidup yang menuntut fokus total—meluncurkan bisnis, latihan keras untuk tujuan besar, merawat keluarga, atau bangkit dari kemunduran.

Kalau waktumu sudah penuh dengan rapat, perjalanan, dan begadang, hubungan bisa terasa seperti pekerjaan kedua. Dan seperti halnya waktu, energi emosional juga ada batasnya.

Tidak ada salahnya berkencan, asalkan dari awal jujur bahwa belum siap untuk hubungan serius.

3. Masih buta huruf emosional

Banyak pria baik tidak pernah belajar menyebutkan apa yang mereka rasakan. Saat ditanya “Kamu sedang apa?”, jawabannya hanya “Baik-baik saja” atau “Tidak tahu”. 

Dalam psikologi, ini disebut alexithymia atau kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosi.

Dalam hubungan, ini sering terlihat saat konflik (diam total), momen intim (tatapan kosong), atau salah membaca sinyal pasangan. Bukan karena jahat—memang belum terlatih saja.

Kabar baiknya, ini bisa dipelajari. Tapi sampai punya kosakata emosional yang cukup, pasangan akan tetap merasa sendirian meski secara fisik bersama.

4. Lebih suka menyendiri

Beberapa orang bersinar di pesta dan kalender penuh acara. Yang lain butuh ruang hening untuk “mengisi ulang baterai”. Kalau kamu termasuk tipe kedua, hubungan yang penuh interaksi bisa terasa melelahkan.

Kesendirian bukan kelemahan. Tapi kalau pasangan mendambakan kontak intens setiap hari, perbedaan ini bisa memicu masalah. 

Lebih aman melajang atau mencari pasangan yang punya kebutuhan kesendirian yang sama.

5. Tingkat keramahan rendah

Keramahan—seperti empati, kehangatan, dan kooperatif—membuat hubungan lebih mudah. 

Kalau sifat ini rendah, biasanya orang lebih kompetitif daripada kolaboratif, lebih terus terang daripada hangat, dan lebih fokus pada “benar” daripada “terhubung”.

Bagus untuk negosiasi, tapi melelahkan untuk hubungan. Tanpa latihan empati dan kompromi, rumah akan terasa seperti arena debat.

6. Rentan terhadap kekacauan

Tinggal bersama pasangan berarti berbagi tagihan, cucian, jadwal, dan rencana masa depan. 

Kalau kamu sering lupa bayar tagihan, dompet hilang, atau rumah seperti zona bencana, siap-siap hubungan penuh pertengkaran kecil yang sebetulnya bisa dihindari.

Keteraturan bukan soal perfeksionis. Ini soal tidak membuat cinta kalah oleh kekacauan yang bisa dicegah.

7. Suka hal baru dan tidak eksklusif

Ada orang yang memang paling bahagia saat menjelajah, menggoda, dan menjaga hubungan tetap santai. Tidak ada yang salah dengan itu, selama jujur.

Masalah muncul kalau ingin keuntungan hubungan monogami tapi tidak mau batasannya. Kalau pola ini terus berulang, melajang adalah pilihan yang lebih etis.

8. Gaya menangani konflik yang merusak

Peneliti hubungan John Gottman menyebut “penghinaan” sebagai prediktor perceraian terbesar. Sikap meremehkan, sarkasme, menutup diri, atau defensif saat konflik akan membuat masalah kecil jadi drama besar.

Sampai bisa mengubah gaya konflik menjadi lebih sehat—mulai dari cara memulai pembicaraan hingga memberi ruang tanpa mengabaikan—lebih baik tetap melajang. Itu lebih aman untuk semua pihak.

Tetap melajang bukan berarti gagal. Kadang itu pilihan strategis untuk menjaga diri, memberi ruang tumbuh, dan mencegah orang lain terluka. 

Hubungan akan selalu ada. Tapi kesiapan? Itu yang benar-benar membuat perbedaan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho